TIMUR TENGAH

”Hacker” Serbu Iran Sebelum Serangan AS-Israel

Gelombang peretasan menyerang Iran, dari aplikasi ibadah hingga situs berita. Peretasan radar bisa membuat pertahanan udara buta.

02 Mar 2026 20:00 WIB · Internasional

AFP/ATTA KENARE

Oleh Irene Sarwindaningrum

TEHERAN, SENIN — Gelombang serangan siber menyasar Iran seiring serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Serangan menyasar situs media resmi, aplikasi populer, juga diduga menyasar infrastruktur militer Iran. Serangan siber itu dinilai bertujuan memprovokasi warga, menghambat narasi Iran, dan mempersulit koordinasi militer.

Hingga Senin (2/3/2026), sejumlah situs media resmi Iran masih tidak bisa diakses. Kantor berita Iran IRNA dan ISNA menampilkan pesan galat ”error 504”. Galat ”504 Gateway Timeout” muncul ketika server utama terlalu lama merespons. Kondisi ini umumnya terjadi karena server asal sedang kewalahan atau karena gangguan.

Media Iran International melaporkan adanya peretasan terhadap sejumlah situs berita Iran itu sejak Sabtu (28/2/2026), sehari setelah AS dan Israel menyerang. Beberapa situs terdampak, yaitu IRNA, ISNA, Tabnak, dan Asr-e Iran.

IRNA masih aktif memberi berita pendek di media sosial X. Namun, kantor berita itu hanya memberikan berita-berita pendek. Sejauh ini belum ada pihak yang mengakui peretasan situs-situs berita resmi itu.

Tangkapan layar situs Kantor Berita Iran, IRNA versi Inggris, memperlihatkan galat error 504. Foto diambil di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Pada Minggu (1/3/2026), giliran gedung penyiaran negara Iran, IRIB, dilaporkan diserang bom di Teheran. Meski demikian, IRIB menyatakan siaran tetap mengudara dan kanal-kanalnya berjalan tanpa gangguan. Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan gangguan hanya berlangsung singkat.

Menurut Tasnim, sejumlah pengamat menyebut serangan terhadap gedung IRIB di Teheran itu sebagai kejahatan perang, bagian dari agresi terbaru Israel dan AS terhadap Iran.

Kantor pusat IRIB di Teheran juga dilaporkan pernah diserang bersamaan dengan serangan AS dan Israel dalam perang 12 hari pada Juni 2025. Serangan IRIB pada Juni 2025 itu menewaskan sedikitnya tiga jurnalis.

Aplikasi ibadah

Peretasan juga menimpa BadeSaba, aplikasi pengingat waktu shalat dan kalender keagamaan di Iran. Aplikasi ini sangat populer dengan lebih dari 5 juta unduhan.

Setelah serangan pertama AS-Iran, BadeSaba menampilkan pesan kepada pengguna ”saatnya pembalasan” atau ”bantuan segera datang”. Beberapa pesan itu juga menyerukan agar angkatan bersenjata Iran melepaskan senjata dan bergabung dengan rakyat sipil.

A smoke plume rises following a missile strike on a building in Tehran on March 1, 2026. The United States and Israel launched strikes against Iran on February 28, killing Iran's supreme leader and top military leaders, prompting authorities to retaliate with strikes on Israel and US bases across the Gulf. (Photo by ATTA KENARE / AFP)
Infografik AFP Ledakan menghantam kota-kota penting di Iran.

Belum ada pihak yang mengakui peretasan itu. Kepala eksekutif BadeSaba tak bisa dihubungi untuk dimintai konfirmasi. Juru bicara Komando Siber AS (US Cyber Command) juga tak menanggapi permintaan konfirmasi.

Media Israel, The Jerusalem Post, melaporkan, AS menggunakan operasi siber bukan hanya untuk mengganggu kemampuan militer Iran, melainkan juga untuk menekan pejabat senior rezim agar membelot. Mantan komandan senior US Cyber Command, Letjen (Purn) Charles L Moore Jr, menyebutnya sebagai perang informasi.

Moore mengatakan, lewat perang informasi, AS berusaha menjangkau pejabat senior di dalam rezim, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), dan aparat keamanan. Tujuannya, untuk mempercepat perubahan rezim dari dalam.

Hamid Kashfi, peneliti keamanan dan pendiri perusahaan keamanan siber DarkCell, menilai peretasan BadeSaba efektif karena aplikasi itu banyak dipakai oleh pendukung pemerintah. Basis penggunanya cenderung lebih religius.

”Serangan siber terhadap BadeSaba adalah langkah cerdas karena pendukung pemerintah menggunakannya dan mereka cenderung lebih religius,” katanya.

Children hold a sign protesting war against Iran during an antiwar demonstration at Dealey Plaza in downtown Dallas, Sunday, March 1, 2026. (AP Photo/LM Otero)

Sejumlah analis keamanan siber mengonfirmasi bahwa pengguna BadeSabah sempat menerima notifikasi sekitar waktu serangan. Namun, mereka belum bisa mengidentifikasi sumber peretasan itu.

”Pada titik ini, kami sungguh tidak tahu siapa yang berada di baliknya, apakah Israel atau kelompok-kelompok Iran antipemerintah lainnya,” ucap Narges Keshavarznia, peneliti hak digital di Miaan Group, dikutip dari media teknologi Wired.amun, Reuters menegaskan belum dapat memverifikasi klaim itu.

Target militer

Operasi siber juga menghantam beragam layanan Pemerintah Iran dan target militer. Tujuannya disebut untuk membatasi kemampuan Iran merespons secara terkoordinasi.

Konektivitas internet di Iran juga terpantau turun drastis. Doug Madory, Direktur Analisis Internet di Kentik, mencuit di X bahwa konektivitas internet di Iran turun drastis pada Sabtu pukul 07.06 GMT (14.06 WIB), lalu kembali turun pada pukul 11.47 GMT (18.47 WIB), hingga hanya tersisa konektivitas minimal.

Menurut alat pemantau internet NetBlocks, trafik jaringan secara keseluruhan di Iran turun hingga hanya 4 persen dan 1 persen pada Senin. Belum jelas, apakah penurunan ini dampak dari pemblokiran oleh Teheran atau bagian dari serangan siber.

Gambar satelit selebaran ini milik Vantor yang diambil dan dirilis pada Minggu (1/3/2026) menunjukkan serangan presisi pada tempat penampungan pesawat di Pangkalan Angkatan Laut Konarak di Iran selatan di sepanjang Teluk Oman.

Morey Haber, penasihat keamanan utama di BeyondTrust, menilai operasi siber seperti ini hampir pasti sudah dipersiapkan jauh hari. Pembobolan mungkin terjadi beberapa waktu lalu.

Selanjutnya, pesan-pesan ini diatur waktu pengirimannya secara strategis. ”Ini bukan gaya serangan tipe serang dan ambil. Ini negara melawan negara dan dieksekusi dengan niat dan presisi,” ujarnya.

Quote

Ini bukan gaya serangan tipe serang dan ambil. Ini negara melawan negara dan dieksekusi dengan niat dan presisi.

Dalam analisis yang dimuat media War on the Rocks, analis politik-militer dan keamanan Timur Tengah dan kebijakan pertahanan AS, Bilal Y Saab dan Darren D White, mengatakan, perang Iran-Israel menunjukkan perang siber kini menjadi strategi militer utama.

Dalam perang 12 hari Iran-Israel pada Juni 2025, Israel disebut memulai konflik dengan rentetan operasi siber yang melumpuhkan sistem radar Iran, stasiun perang elektronik, dan komunikasi. Sebaliknya, peretas Iran menarget jaringan listrik, jaringan kereta, dan infrastruktur digital Israel.

A boy holds a picture of Iran's supreme leader Ali Khamenei during a memorial rally held by supporters of Yemen's Huthis, a day after Khamenei was assassinated during US and Israeli strikes on Tehran, in the Huthi-held capital Sanaa on March 1, 2026. The United States and Israel launched strikes against Iran on February 28, killing Iran's supreme leader and top military leaders, prompting authorities to retaliate with strikes on Israel and US bases across the Gulf. (Photo by Mohammed HUWAIS / AFP)

Peretasan radar bisa membuat pertahanan udara buta. Deteksi pesawat, pesawat nirawak (drone), atau rudal bisa gagal. Adapun serangan rudal bisa salah sasaran.

Pada saat yang sama, sejumlah analis memperkirakan risiko aksi balasan siber dari pihak pro-Iran meningkat. ”Kelompok proksi dan hacktivist mungkin bertindak, termasuk serangan siber, terhadap target militer, komersial, atau sipil yang berafiliasi dengan Israel dan AS,” kata Rafe Pilling, Direktur Intelijen Ancaman Sophos, perusahaan keamanan siber.

Sejumlah firma keamanan global telah bersiap akan meningkatnya peretasan, pembobolan data, hingga ransomware. Iran telah lama dikenal dengan peretas-peretas andal. Namun, setelah perang 12 hari, tak terdeteksi serangan siber balasan dari peretas Iran. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Nur Hidayati