PERANG

Serangan ke Iran Guncang Pasar Keuangan Dunia, Harga Minyak dan Gas Melonjak

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengganggu seperlima aliran minyak global. Harga minyak melonjak dan indeks saham bergejolak.

03 Mar 2026 11:30 WIB · Internasional

AFP/Fadel SENNA

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

WASHINGTON DC, SELASA – Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran mengguncang pasar keuangan dunia. Negara-negara Timur Tengah yang menjadi produsen energi ikut terdampak. Harga minyak dan gas alam pun melonjak. Sementara dolar AS menguat.

Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 6 persen, Senin (2/3/2026). Hal ini disebabkan kekhawatiran gangguan pasokan. Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak global ditutup. Beberapa kapal tanker yang melintas diserang.

Selat Hormuz merupakan perairan yang memisahkan Iran dengan Jazirah Arab, terletak di antara Teluk Arab dan Teluk Oman. Perairan strategis ini merupakan jalur perdagangan energi dunia. Lebih dari 17 juta barel minyak mentah, atau sekitar 20 persen dari total produksi minyak global, melintasi Selat Hormuz setiap hari.

Infografik Selat Hormuz, Jalur Penting untuk Transportasi Minyak dan Gas.

Pejabat senior Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan, Selat Hormuz ditutup dan Iran akan menembak kapal apa pun yang mencoba melewatinya. Ancaman ini mengganggu seperlima aliran minyak global sehingga membuat harga minyak mentah melonjak tajam.

Harga gas alam juga meroket. Di Eropa, misalnya, harga gas alam naik lebih dari 39 persen setelah perusahaan energi milik Qatar menyatakan menghentikan produksi gas alam cair. Penghentian produksi ini menyusul serangan Iran terhadap fasilitas di dua basis pengolahan gas utamanya.

Direktur Pelaksana Clearview Energy Partners Kevin Book mengatakan, infrastruktur energi di Timur Tengah menghadapi risiko serangan dalam situasi perang. Bukan hanya serangan langsung, melainkan juga serangan yang tidak disengaja yang dapat mengganggu fasilitas produksi energi.

This video grab taken from UGC images posted on social media on March 2, 2026, shows smoke billowing from a Saudi oil refinery at the Ras Tanura oil production plant, near Dammam in Saudi Arabia's eastern province, after an attack. Saudi Arabia's energy ministry said some operations at its massive Ras Tanura refinery on the Gulf coast had been halted on March 2, following an attack that caused a fire at the complex. The United States and Israel launched strikes against Iran on February 28, with the killing of Iran's supreme leader and the Islamic republic retaliated with barrages of missiles at Gulf states and Israel. (Photo by Handout / UGC / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /  UGC UNKNOW" - HANDOUT - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

”Pecahan dan puing-puing dari pencegatan rudal dapat jatuh ke fasilitas dan melumpuhkannya sehingga ada sejumlah tantangan yang muncul dari konflik semacam ini di daerah dengan begitu banyak produksi energi,” ujarnya.

Sebenarnya terdapat jalur pipa yang tidak melewati Selat Hormuz. Namun, kapasitasnya tidak cukup untuk mengangkut semua produksi minyak yang melewati perairan itu. Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan negara lain sangat bergantung pada kapal tanker untuk mengirimkan sebagian besar produksi minyaknya ke pasar global.

Menutup Selat Hormuz juga berpotensi merugikan Iran. Sebab, produksi sekitar 1,6 juta barel minyak per hari dari negara itu melewati selat tersebut. Sebagian besar minyak itu dikirim ke China.

”Iran pada dasarnya memiliki dua cara untuk menutup selat. Salah satunya adalah dengan mengganggu atau menyerang kapal. Cara kedua adalah dengan memasang ranjau. Tanpa Angkatan Laut (Iran), kedua hal itu akan sulit dilakukan,” kata Book.

Quote

Gangguan jangka panjang terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz dapat mendorong kenaikan harga lebih tinggi. Apalagi jika terjadi kerusakan infrastruktur energi di negara-negara Teluk lainnya.

Selat Hormuz juga merupakan jalur utama distribusi gas alam cair. Kontrak berjangka Eropa untuk pengiriman April 2026 melonjak hingga 45,46 euro (53,26 dolar AS) di bursa komoditas ICE setelah QatarEnergy memutuskan akan menghentikan produksi gas alam cairnya. Perusahaan itu menyalahkan perang atas keputusan tersebut.

Qatar adalah pemasok utama gas bagi Eropa untuk menggantikan pasokan gas pipa Rusia yang hilang akibat invasi ke Ukraina. Kenaikan harga gas dalam kisaran 5-10 dolar AS per barel diperkirakan oleh analis berdasarkan faktor ketakutan yang terkait dengan pecahnya perang.

Inflasi global

Gangguan jangka panjang terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz dapat mendorong kenaikan harga lebih tinggi. Apalagi jika terjadi kerusakan infrastruktur energi di negara-negara Teluk lainnya.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, operasi militer terhadap Iran akan berlangsung 4-5 pekan. Namun, ia menyatakan, AS mempunyai kemampuan untuk melakukannya dalam jangka waktu lebih lama.

Asap mengepul setelah serangan rudal menghantam sebuah bangunan di Teheran pada  Minggu (1/3/2026). Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan pertama terhadap Iran pada 28 Februari, membunuh pemimpin tertinggi Iran dan pemimpin militer tertinggi.

”Pertanyaan kunci bagi ekonomi global jelas, akankah Selat Hormuz benar-benar tertutup untuk ekspor minyak dan gas selama lebih dari beberapa minggu? Jika demikian, hal itu akan merugikan pertumbuhan global dan meningkatkan inflasi global secara signifikan,” ujar Kepala Ekonom Bank Berenberg, Holger Schmieding.

Ia memperkirakan, Trump akan berupaya mencegah lonjakan harga energi yang berkepanjangan. Sebab, hal itu dapat merugikannya di dalam negeri menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November 2026.

Kenaikan harga minyak dunia akan meningkatkan harga bahan bakar di AS. Harga barang-barang juga bisa ikut melonjak. Kondisi ini dapat memicu kemarahan rakyat AS terhadap kebijakan Trump.

Saham bergejolak

Indeks utama Wall Street jatuh tajam di awal sesi, Senin (2/3/2026). Namun, kembali pulih sepanjang hari karena investor menyambut baik pembicaraan terkait lonjakan harga energi mungkin hanya bersifat sementara.

A television screen displays market news at the NASDAQ MarketSite in Times Square, New York City on April 9, 2025. Wall Street stocks were mixed in early trading Wednesday as markets digested the latest tariff hike by the United States and retaliatory moves by China and the European Union. (Photo by ANGELA WEISS / AFP)

Sementara indeks Dow Jones masih berakhir lebih rendah dan Nasdaq bergerak cukup positif. Adapun S&P 500 mencatatkan sedikit kenaikan.

”Investor telah terbiasa selama 15 tahun terakhir untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap berita utama geopolitik ini,” kata Angelo Kourkafas dari perusahaan jasa keuangan di AS, Edward Jones.

Menurut Kourkafas, investor memandang AS lebih mampu menahan lonjakan harga energi dibandingkan dengan negara-negara ekonomi terkemuka lainnya sebagai produsen minyak dan gas utama. Namun, dengan lama perang yang belum pasti, saham sangat mungkin bergejolak dalam beberapa hari mendatang.

Saham mengalami penurunan lebih tajam di Eropa dan Asia karena investor beralih ke dolar AS dan emas. Peralihan ini dianggap sebagai pilihan yang lebih aman di masa gejolak ekonomi.

An Iranian man shows US dollar banknotes in Tehran on January 7, 2026. Iran's economy has been hit hard by tough international sanctions, with the national currency, the rial, losing more than a third of its value against the US dollar over the past year and inflation in double digits. (Photo by ATTA KENARE / AFP)

Dolar AS naik sekitar 1 persen terhadap mata uang utama lainnya. Sementara harga emas naik sekitar 0,8 persen. ”Investor bergegas menuju tempat aman, mencari perlindungan karena konflik meluas di Timur Tengah,” ujar Susannah Streeter, Kepala Strategi Investasi Wealth Club yang berbasis di Inggris.

Harga saham maskapai penerbangan terpukul karena maskapai membatalkan banyak penerbangan ke Timur Tengah. Saham pemilik British Airways, IAG, turun 5,2 persen dan Air France-KLM turun 9 persen. Delta dan United juga mengalami penurunan masing-masing 2,2 persen dan 2,9 persen. Sementara saham perusahaan energi besar naik tajam.

”Jika kenaikan harga minyak terus berlanjut, hal itu akan meningkatkan risiko inflasi utama yang lebih tinggi,” kata Charu Chanana dari perusahaan pialang Saxo Markets. (AFP/AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul