Serangan mendadak kelompok pemberontak membuat pasukan Pemerintah Suriah terusir dari Aleppo. Rusia dan Iran kehilangan pijakan di barat laut Suriah.
30 Nov 2024 12:57 WIB · Internasional
DAMASKUS, SABTU — Perang saudara di Suriah yang telah berlangsung selama 13 tahun kembali mencuat dengan serangan kelompok pemberontak yang mengejutkan di kota Aleppo. Kekerasan baru ini menambah panas situasi Timur Tengah yang sudah menghadapi dua perang di Gaza dan Lebanon.
Kantor berita Reuters, Sabtu (30/11/2024), melaporkan, kelompok pemberontak mengklaim berhasil merebut kendali Aleppo, kota kedua terbesar di Suriah, dari tangan pasukan pemerintah Presiden Bashar al-Assad, Jumat (29/11/2024). Serangan mendadak ke sejumlah desa dan kawasan di sekitar kota membuat pasukan pemerintah tak dapat mempertahankan posisinya. Padahal, kota itu telah dikuasai selama hampir satu dekade.
Kelompok oposisi di bawah payung Hayat Tahrir al-Sham sejak Rabu (27/11/2024) melancarkan serangan ke sejumlah kota dan desa di pinggiran Aleppo. Setelah itu perlahan, mereka memasuki kota yang telah sepuluh tahun mereka tinggalkan itu.
Komandan Brigade Jaizh al-Izza, Mustafa Abdul Jaber, mengatakan, keberhasilan mereka mengambil alih Aleppo karena kurangnya pengamanan kota tersebut. Jaber menyebut kurangnya pengamanan karena Iran tengah fokus menangani konflik kelompok-kelompok proksi yang didukungnya. Bersama Rusia, Iran adalah sekutu Assad.
Mengutip laporan Al Jazeera, setidaknya empat orang tewas, termasuk dua mahasiswa, saat pemberontak menyerang Aleppo, Jumat. Media Pemerintah Suriah melaporkan, kedua mahasiswa tewas akibat proyektil milik pemberontak yang mendarat di hunian mahasiswa di Universitas Aleppo.
Pemberontak mendekati Aleppo setelah menguasai puluhan perdesaan di sebelah barat kota. Mereka juga menguasai jalan raya M5, jalur logistik dan transfer militer yang menjadi tulang punggung sistem pertahanan kota. Transportasi umum ke Aleppo telah dialihkan dari jalan raya utama yang menghubungkan kota itu dengan ibu kota Damaskus untuk menghindari bentrokan.
Kantor berita Turki, Anadolu, melaporkan, pemberontak memasuki Aleppo pada Jumat. Warga di Aleppo melaporkan, mereka mendengar suara rudal di pinggiran kota.
Militer Suriah mengklaim berhasil melawan serangan ke Aleppo. ”Pasukan kami terus menangkis serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh kelompok teroris bersenjata,” kata tentara dalam sebuah pernyataan. Mereka menambahkan, telah ”berhasil merebut kembali kendali atas posisi-posisi tertentu”.
Serangan itu adalah pertempuran paling intens di Suriah barat laut sejak 2020. Kala itu pasukan pemerintah merebut daerah yang sebelumnya dikuasai pemberontak.
Sejumlah jet tempur milik Rusia dan Suriah mengebom daerah dekat perbatasan dengan Turki pada Kamis. Mereka coba memukul mundur pemberontak yang telah merebut wilayah tersebut untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun. Turki disebut-sebut merestui serangan kelompok pemberontak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/30/23d69ec3a4b2f9902bdaa0a78343bc24-000_36NE7DX.jpg)
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan, Moskwa menganggap serangan pemberontak sebagai pelanggaran kedaulatan Suriah. Rusia menginginkan pihak berwenang bertindak cepat untuk mendapatkan kembali kendali.
”Mengenai situasi di sekitar Aleppo, itu serangan terhadap kedaulatan Suriah. Kami mendukung pihak berwenang Suriah untuk menstabilkan daerah tersebut dan memulihkan ketertiban konstitusional sesegera mungkin,” kata Peskov.
Pusat Rekonsiliasi Suriah yang berada di bawah komando Kementerian Pertahanan Rusia, dalam pernyataan menyebutkan, jet tempur Rusia melancarkan serangan roket ke sejumlah target dan lokasi penyimpanan persenjataan serta pusat komando kelompok bersenjata ilegal. Mereka mengklaim sekitar 200 anggota kelompok tersebut berhasil dihancurkan.
”Operasi untuk mengusir agresi para ekstremis terus berlanjut,” kata Oleg Ignasyuk, Wakil Kepala Pusat Rekonsiliasi Suriah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam pernyataan, Jumat, menekankan dukungan Iran yang berkelanjutan bagi pemerintah, negara, dan tentara Suriah dalam perang. Iran menyebut tindakan kelompok pemberontak sebagai teror, saat berbicara via telepon dengan Menteri Luar Negeri Suriah Bassam al-Sabbagh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/30/cca1c13fa722a83d6d534a0fe72b02a8-000_36NH94N.jpg)
Militer Suriah menyebut serangan itu menimbulkan kerugian besar pada pasukan pemberontak yang ada di sekitar wilayah Aleppo dan Idlib.
Observatorium pemantau perang mengatakan, puluhan anggota pasukan dari kedua belah pihak tewas dalam pertempuran. Kelompok pemberontak menguasai lebih dari 50 desa dalam kemajuan mereka, yang tampaknya telah membuat pasukan pemerintah tidak siap.
Kelompok pemberontak juga mengeluarkan laporan bahwa lingkungan Pusat Penelitian Ilmiah, sekitar 4 kilometer dari pinggiran barat kota Aleppo, berhasil mereka rebut. Klaim itu dibantah militer dan pemerintah.
Para pemberontak mengunggah video daring yang menunjukkan mereka menggunakan pesawat nirawak (drone) dalam serangan. Drone ini senjata baru yang sebelumnya tidak mereka miliki pada tahap awal konfrontasi dengan pasukan pemerintah. Tidak jelas sejauh mana drone tersebut digunakan di medan perang.
Pertempuran itu membuat ribuan keluarga mengungsi dan memaksa sejumlah layanan sosial dan kesehatan terhenti. David Carden, Wakil Koordinator Kemanusiaan Regional PBB untuk Krisis Suriah, khawatir atas situasi terbaru di Suriah.
”Serangan gencar selama tiga hari terakhir telah merenggut nyawa sedikitnya 27 warga sipil, termasuk anak-anak berusia 8 tahun,” katanya. ”Warga sipil dan infrastruktur sipil bukanlah target dan harus dilindungi berdasarkan Hukum Humaniter Internasional.”
Colin Clarke, peneliti senior di The Soufan Center, mengatakan, kelompok pemberontak tidak mungkin dapat bergerak melampaui wilayah barat laut Suriah. Menurut dia, kelompok ini hanya bisa menguasai Idlib dan Aleppo. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan