Setelah berjalan sekitar dua bulan, gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hamas berakhir pada Selasa (18/3/2025), saat pasukan Israel membombardir Gaza.
18 Mar 2025 14:45 WIB · Foto
Gencatan senjata antara Hamas dan Israel berakhir setelah terjadi bombardir gelombang serangan udara oleh pasukan militer Israel di wilayah Gaza, Palestina, Selasa (18/3/2025) pagi. Serangan ini otomatis membatalkan gencatan senjata yang telah menghentikan pertempuran sejak Januari.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/18/feb1df02-2877-4142-b790-902a32bf86d6_jpeg.jpg)
Serangan udara dilaporkan terjadi di beberapa lokasi, termasuk Gaza utara, kota Gaza, Deir al-Balah, Khan Younis, dan Rafah di Jalur Gaza tengah dan selatan. Militer Israel mengatakan, serangan akan terus berlanjut selama diperlukan dengan skala yang lebih luas daripada serangkaian serangan pesawat nirawak yang biasa dilakukan militer Israel terhadap individu atau kelompok kecil militan. Israel juga berencana untuk memperluas operasi di luar serangan udara.
AP melaporkan, akibat serangan mendadak ini, sedikitnya 235 orang tewas, termasuk perempuan dan anak-anak. Sementara Reuters, mengutip otoritas kesehatan Palestina, menyebutkan bahwa korban jiwa telah mencapai 200 orang.
Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan, timnya menangani 86 korban tewas dan 134 korban luka. Sementra Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Rumah Sakit Al-Aqsa di Jalur Gaza bagian tengah, dan Rumah Sakit Al-Ahly di kota Gaza, yang semuanya rusak parah akibat perang, mengatakan bahwa secara keseluruhan mereka telah menerima sekitar 85 korban tewas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/18/15837b7b-eb6f-4b68-9a07-204b88d72186_jpeg.jpg)
Kelompok Hamas mengeluarkan pernyataan yang menuduh Netanyahu mengingkari perjanjian gencatan senjata dan menempatkan nasib 59 sandera yang masih ditawan ”dalam situasi yang tidak diketahui”.
Sementara Kantor Perdana Menteri Israel balas menuduh kelompok Hamas berulang kali menolak membebaskan sandera dan menolak usulan yang diajukan utusan Timur Tengah dari Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff.
Kedua pihak saling tuduh karena gagal mematuhi ketentuan pada poin-poin perjanjian gencatan senjata pada Januari lalu.
Penulis:
Totok WijayantoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti