Pulau terbesar di dunia ini selalu tertutup salju meskipun namanya Tanah Hijau. Hanya petualang yang akrab dengan alam dan suhu dingin sanggup berwisata ke sana.
10 Jan 2026 07:00 WIB · Internasional
AP/Emilio Morenatti
Greenland, pulau semiotonom di bawah Kerajaan Denmark, sedang menjadi topik marak perbincangan. Gara-garanya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ingin mengambil alih Greenland. Hal ini memantik rasa penasaran warga global. Apa keistimewaan pulau terbesar di dunia itu?
Merunut data Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), pulau terbesar kedua di dunia adalah Papua yang berada di wilayah Indonesia dan Papua Niugini. Luasnya adalah 785.753 kilometer persegi. Bentangan Pulau Papua itu hanya sepertiga dari luas Greenland.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/08/9eb59de3-fd0d-4e37-9ddc-f991227caa54_jpg.jpg)
Luas Greenland adalah 2.130.800 kilometer persegi. Akan tetapi, jumlah penduduknya hanya setengah dari populasi penduduk Kecamatan Ciputat Timur di Kota Tangerang Selatan, Banten.
Penduduk Ciputat Timur sebanyak 174.798 orang, sedangkan penduduk Greenland cuma 56.831 jiwa. Bayangkan, semua penduduk Greenland bisa masuk ke Stadion Gelora Bung Karno dan masih tersisa 22.000 kursi kosong.
Penduduk Greenland tinggal di sepanjang wilayah pesisir. Bagian tengah pulau itu tertutup salju. Pada musim panas, beberapa titik di tengah pulau es itu meleleh dan menampakkan tundra.
Tidak ada jalan yang menghubungkan kota-kota di Greenland. Transportasi antarkota harus dilakukan menggunakan pesawat terbang atau kapal yang mengelilingi pulau. Itu pun hanya bisa dilakukan selama musim panas. Ketika musim dingin, cuaca terlalu brutal untuk perjalanan.
Penerbangan internasional pertama kali dibuka pada Juni 2025. Penerbangan itu menghubungkan Nuuk, ibu kota Greenland, dengan Kopenhagen di Denmark. Penerbangan lainnya menghubungkan Montreal di Kanada dengan Nuuk. Dari AS, kini Greenland bisa dicapai melalui Newark di New Jersey.
Menurut National Traveller, sebelum Nuuk memiliki bandara internasional, orang-orang yang bepergian ke Greenland harus ngeteng. Mereka harus berganti-ganti penerbangan di wilayah Kanada utara, Denmark, atau Eslandia. Di Greenland, mereka mendarat di pangkalan-pangkalan militer AS, yaitu Kangerlussuaq di utara atau Narsarsuaq di selatan.
Pada Juni-Oktober 2024 dibuka penerbangan perintis yang menghubungkan Nuuk dengan Iqaluit, ibu kota wilayah Nunavut di Kanada. Ini adalah penerbangan pertama yang menghubungkan dua wilayah Inuit internasional.
Penerbangan khusus musim panas ini dibuka lagi pada Juni-Oktober 2025 karena antusiasme penumpang tinggi. Menurut Direktur Utama Air Greenland Jacob Nitter Sørensen, para penumpang tidak hanya orang-orang Inuit, tetapi juga wisatawan umum.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/08/afd9e41a-9a45-4c0e-855d-f59776ed67be_jpg.jpg)
”Kloter 2026 akan berlangsung pada Juni hingga September,” katanya, dikutip Nunavut News.
Berkat angkutan udara sepanjang tahun, pariwisata Greenland naik 36 persen. Pariwisata melalui udara lebih terjangkau bagi khalayak umum. Mayoritas paket wisata ke Greenland masih dari kapal pesiar mewah yang hanya bepergian pada musim panas.
Daerah yang digambarkan selalu tertutup salju, tetapi bernama Tanah Hijau, tentu membuat penasaran. Kalaallit Nunaat (Tanah Bangsa Kalaallit) adalah nama Greenland dalam bahasa Inuit.
Suku Kalaallit adalah bagian dari bangsa Inuit. Bangsa ini tersebar di lingkar wilayah sub-Arktika, tepatnya di Amerika Utara dan Rusia. Di Kanada, Provinsi Quebec, Nunavut, Wilayah Barat Laut, Yukon, serta Newfoundland and Labrador adalah wilayah Inuit. Di AS, Inuit ada di Negara Bagian Alaska.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/08/84f93535-1150-42da-8f94-81205ac3e7a9_jpg.jpg)
Dulu, bangsa Inuit dikenal dengan sebutan Eskimo. Sebutan ini sudah tidak dipakai lagi karena bersifat menghina. Lembaga kajian bahasa tradisional di Universitas Alaska menjelaskan, Eskimo sejatinya bukan nama suku mana pun, melainkan istilah dalam bahasa Perancis, esquimaux, yang berarti ’orang yang mengikat tali sepatu salju’.
Di samping itu, ada pula teori bahwa Eskimo adalah istilah bahasa Algonquin yang berarti ’pemakan daging mentah’. Istilah ini dirasa merendahkan, mungkin seperti orang-orang Indonesia yang disebut Inlander pada zaman penjajahan Belanda.
Nama Greenland berasal dari Hikayat Erik Merah. Hikayat ini mengisahkan Erik Thorvaldsson (950-1003), seorang Viking yang memimpin berbagai misi mengelana bagian utara Benua Amerika. Panggilan Erik Merah ini karena Thorvaldsson berambut dan berjanggut merah.
Perseteruan politik di Eslandia membuat Erik Merah dan keluarganya sempat terkucil. Pada 982, ia memboyong keluarganya ke pulau yang dihuni oleh bangsa Inuit dan memutuskan menetap di sana.
Erik Merah menamai pulau itu Greenland. Menurut hikayat, ia mengharapkan dengan nama yang cantik itu, suatu saat dataran tertutup salju itu akan menjadi tempat yang menarik bagi banyak orang. Tampaknya setelah 1.022 tahun, doa Erik Merah terkabul.
Walaupun Erik Merah dan pengikutnya tinggal di Greenland, pulau ini belum menjadi koloni Eropa. Perkampungan yang ia bangun bertahan hingga abad ke-15. Catatan arkeologis menunjukkan, terjadi beberapa konflik dengan masyarakat asli Greenland sehingga lama-kelamaan orang-orang Viking meninggalkan Greenland.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/08/cd791bd6-8a47-4bb0-ad3f-79c005f6808a_jpg.jpg)
Masa penjajahan Greenland dimulai pada 1721 ketika misionaris Norwegia, Hans Egede, menginjakkan kaki di sana. Ketika itu, Denmark dan Norwegia masih satu kerajaan. Pada 1814, Kerajaan Denmark-Norwegia pecah. Greenland pun masuk ke dalam wilayah Denmark.
Pakar budaya dari Universitas Aaborg, Robert Thomsen, di jurnal Arctic Yearbook tahun 2021 menjelaskan, Egede adalah sosok kontroversial dalam sejarah Greenland.
Masyarakat lokal kini mayoritas beragama Kristen. Pada saat yang sama, mereka mempermasalahkan cara Egede menyebarkan agama dan penjajahan Denmark-Norwegia. Denmark dipandang telah menghilangkan sebagian besar aspek budaya Inuit.
Pariwisata dan budaya Greenland belum akrab dengan masyarakat awam. Baru orang-orang yang mencari petualangan di alam terbuka yang umumnya melancong ke Greenland, itu pun pada musim panas. Greenland menawarkan pemandangan katup-katup es setinggi gedung bertingkat 30 lantai dan aurora.
Pada budaya populer, hiburan dari Greenland juga belum masuk radar banyak orang. Pesohor Greenland yang mulai mendunia adalah Nukaaka Coster-Waldau, pemain film, penyanyi, dan model. Ia berperan sebagai Blair dalam serial televisi The Wheel of Times.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/08/3def68aa-c534-4dc4-8f3c-af9564ab19ec_jpg.jpg)
Nukaaka terkenal di kalangan masyarakat Inuit dan kerap dijuluki sebagai duta budayanya karena mengembangkan musik pop Inuit. Adapun masyarakat awam lebih akrab dengan suami Nukaaka, Nikolaj Coster-Waldau. Aktor Denmark ini memerankan tokoh Jaime Lannister dalam serial Games of Thrones.
Publikasi digital Tedium.co menulis, dunia musik Greenland sejatinya sangat beragam, meskipun jumlah penduduknya kecil. Musik rock contohnya, populer di pulau itu sejak kelompok musik Sume membawanya ke Greenland pada 1970. Sume mengembangkan rock Greenland dengan menulis lirik dalam bahasa Inuit, bukan Denmark.
Kini, obor itu dialihkan kepada band Sound of the Damned. Dalam profil mereka yang diterbitkan harian USA Today, 5 Juli 2025, para anggotanya adalah orang-orang asli Greenland ataupun diaspora yang pulang kampung.
”Kami bermain musik metal sambil melestarikan budaya Greenland,” kata Pani Enequist, penulis lagu Sound of the Damned.
Suaminya, Sebastian, adalah vokalis. Selain mengandung unsur rock dan metal tradisional, lagu-lagu kelompok musik ini juga memasukkan qilaat, alat musik tabuh khas Greenland. Di beberapa bagian juga ada teknik vokal tenggorokan.
Ada pula kelompok musik Nanook yang digawangi dua bersaudara, Christian dan Frederik Elsner. Kepada media NPR, 4 Maret 2025, mereka mengaku optimistis lagu-lagu berbahasa Inuit akan memperoleh pendengar yang luas.
Generasi milenial dan Z Greenland berbangga mengekspresikan budaya tradisional mereka. Dulu, bertato ataupun memakai atribut tradisional dipandang rendah. Sekarang, aneka festival dan ritual tradisional menjadi bagian dari pariwisata Greenland.
Dari aspek kuliner, para jurutama masak Greenland mulai gencar menawarkan pengalaman makan yang berbeda. Kuliner Greenland mayoritas didominasi ikan segar. Perikanan adalah industri utama di pulau.
Selain itu, masyarakat Greenland juga masih berburu. Biasanya, mereka berburu paus dan anjing laut harpa (Pagophilus groenlandicus). Daging dan lemak mereka sangat penting bagi warga untuk bertahan hidup dalam cuaca dingin ekstrem.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/08/1ec7a0d2-0c5e-41f3-91bd-95a797ef5ab6_jpg.jpg)
Di darat, masyarakat berburu rusa kutub (Rangifer tarandus) dan lembu endemik muskox (Ovibos moschatus). Berburu adalah tradisi penting untuk menjaga keseimbangan alam. Mereka juga memiliki peternakan domba yang diperkenalkan oleh orang-orang Eropa.
Sejumlah tur kapal pesiar ataupun tur darat kini memasukkan agenda makan mewah. Menunya memakai bahan-bahan khas Greenland yang diolah dengan cara modern.
Otoritas Greenland berharap pariwisata bisa menambah devisa. Greenland ingin mengurangi ketergantungan terhadap dana alokasi khusus dari Denmark. Sejauh ini, setengah dari pendapatan daerah masih dari pusat.
Anda tertarik berkunjung ke Greenland?
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Nur Adji