Hutan bukan hanya menyerap karbon, namun juga menjaga hidrologi yang kerap dirusak kebun sawit. Hutan juga rumah dan sumber hidup ragam hayati, termasuk manusia.
08 Jan 2025 05:30 WIB · Opini
Di tengah perkebunan sawit di Batanghari, Jambi, ada oase yang dihidupkan kembali. Pohon sungkai, meranti, jelutung, jengkol, petai, dan durian, ditanam di bekas sawit yang ditebang. Sinar matahari tak mencapai lantai hutan, yang dipenuhi dedaunan dan perdu. Udara pun terasa sejuk.
Padahal, hanya beberapa puluh meter dari oase itu, di bawah tajuk sawit, udara terasa panas dan gerah. Kontras suhu ini bukan hanya perasaan subjektif saya saat mengunjungi kawasan itu dua tahun lalu, namun telah dikaji tim peneliti dari Indonesia (IPB University, Universitas Jambi, dan Universitas Tadulako) dan Georg-August University of Goettingen (Jerman).
Dalam studi jangka panjang itu, para peneliti bereksperimen menanam pepohonan di kebun kelapa sawit milik perusahaan swasta. Mereka mengurangi sebagian sawit dan membuat 52 "pulau pohon" dengan ukuran berbeda, dari 5 x 5 meter sampai 40 x 40 meter. Setelah lima tahun, hasil penggantian sawit diamati, dari aspek ekologi dan ekonomi.
Hasil eksperimen dilaporkan di jurnal Nature pada Mei 2023. Di kebun sawit, jarak antartanaman yang longgar membuat sinar matahari leluasa menerobos, padahal tanah yang bersih dari gulma memantulkan lebih banyak panas.
Sebaliknya, di pulau pohon, ragam tanaman rapat menghalangi sinar matahari. Tanah yang dipenuhi serasah daun dan perdu juga meredam panas, sementara tinggi tajuk beragam menggerakkan aliran angin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/22/7bc611ee-1e77-48e5-9fd1-704dbd127e63_jpg.jpg)
Laporan juga menyebutkan, hutan buatan itu memulihkan keragaman hayati. Penilaian dengan 10 indikator keanekaragaman hayati dan 19 indikator fungsi ekosistem menunjukkan area pulau hutan punya kondisi lebih baik daripada sawit yang dikelola konvensional.
Pulau dengan pepohonan lebih besar menghasilkan multidiversitas lebih besar lewat perubahan struktur vegetasi. Keanekaragaman taksonomi meliputi bakteri dan jamur tanah, pohon, biji-bijian, serbuk sari, artropoda tumbuhan bawah, burung, kelelawar, termasuk predatornya, seperti kucing hutan.
Tak hanya ekologi, eksperimen itu juga menunjukkan manfaat ekonomi. Berkurangnya produksi sawit karena luasannya dikurangi, tergantikan panen jengkol, petai, dan durian. Ini menunjukkan bahwa ada alternatif ekonomi, selain sawit dan sawit.
Sayangnya, deretan bukti saintifik itu sepertinya tidak sampai ke meja Presiden Prabowo Subianto, sehingga dia melontarkan ide memperluas lahan sawit dengan membuka hutan. Padahal, luas lahan sawit Indonesia saat ini mencapai 16,8 juta hektare, terluas di dunia.
Saat berpidato dalam Musrenbang Bappenas, Senin, 30 Desember 2024, Prabowo mengatakan,"Saya kira ke depan kita harus tambah tanam sawit. Enggak usah takut katanya membahayakan, deforestasi. Namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan? Kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan? Ya dia menyerap karbon dioksida, dari mana kita dituduh, yang mboten-mboten (tidak-tidak) saja orang-orang itu.”
Pernyataan ini menyinggung Uni Eropa yang membatasi pembelian produk kelapa sawit Indonesia dengan adanya European Union Deforestation Regulation (EUDR). Prabowo mengaku tidak ambil pusing dengan regulasi tersebut. "Jadi, para bupati, gubernur, pejabat tentara, polisi, jagalah kebun-kebun kelapa sawit kita di mana-mana. Itu aset negara,” kata dia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/22/f837f9b6-1cbf-4b0b-a7ed-240939d2c9af_png.png)
Tak bisa dinafikan, sawit menyumbang ekonomi negara. Sumbangan industri sawit ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2023 mencapai Rp 88 triliun dengan rincian penerimaan dari sektor pajak Rp 50,2 triliun, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp 32,4 triliun, dan Bea Keluar Rp 6,1 triliun.
Namun, kontribusi sawit tidak berarti harus menafikan hutan. Sekalipun sawit juga menyerap karbon, namun total jejak emisinya pasti lebih besar, terutama jika ditanam di hutan yang dikonversi.
Perubahan penggunaan lahan merupakan sumber utama emisi sawit yang monokultur. Misalnya, emisi sawit yang ditanam di lahan gambut enam kali lebih besar daripada rata-rata.
Studi kasus oleh World Agroforestry Centre - ICRAF (2009) menyebutkan, untuk menghindari utang karbon (carbon debt), konversi sawit hanya boleh dari semak dan padang rumput yang memiliki stok karbon di atas tanah kurang dari 40 ton karbon per hektar.
Namun, kontribusi sawit tidak berarti harus menafikan hutan. Sekalipun sawit juga menyerap karbon, namun total jejak emisinya pasti lebih besar, terutama jika ditanam di hutan yang dikonversi.
Membandingkan sawit dan hutan hanya dari penyerapan karbonnya jelas tidak tepat. Hutan tidak hanya menyerap karbon dioksida. Ekosistem hutan menyediakan barang dan jasa penting bagi perekonomian, seperti rekreasi dan potensi fitofarmaka, bahkan menjadi rumah dan memberi makan jutaan spesies, termasuk manusia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/08/31/fa7a41c5-e082-4fb4-ab0e-d6a3462ff181.jpg)
Masyarakat adat turun-temurun hidup di sekitar dan di dalam hutan. Dengan model wanatani, hidup mereka bergantung dari sumber daya hutan, namun juga menjaganya lestari. Hal inilah yang menyebabkan ekspansi sawit menjadi sumber utama konflik agraria di Indonesia.
Akar pepohonan hutan memperkuat tanah dan mencegah erosi serta aliran air berlebih yang dapat menyebabkan banjir. Hutan juga membantu menjaga kelembapan tanah, menyaring air, dan menjaga fungsi hidrologis, termasuk curah hujan. Sebaliknya, kebun sawit justru merusak fungsi hidrologis.
Laporan di Science of the Total Environment pada Mei 2024 menunjukkan bagaimana perkebunan sawit di Kais, Papua Barat telah meningkatkan limpasan air permukaan, sedimen, serta kandungan pencemar dari pupuk dan pestisida, seperti nitrogen dan fosfor.
Banyak kajian lain telah melaporkan kehancuran lingkungan dan sosial di Indonesia akibat ekspansi sawit ke hutan. Masalahnya, dampak buruk ini tidak diperhitungkan.
Padahal, menurut Edward B. Barbier, profesor ekonomi Universitas Wyoming di Nature (2014), indikator ekonomi yang mengabaikan degradasi sumber daya alam serta ekosistem adalah menyesatkan. Model ekonomi ekstraktif itu telah usang dan selama ini berkontribusi memicu tiga krisis planet: krisis iklim, hilangnya keragaman hayati, dan pencemaran.
Barbier mengingatkan, kita juga harus memperhitungkan penyusutan modal alam dalam menilai pendapatan negara. Ini meliputi nilai kerugian bersih terhadap sumber daya alam, seperti mineral, bahan bakar fosil, hutan, dan sumber material dan energi serupa yang masuk ke dalam ekonomi.
Jika kita menggunakan lebih banyak modal alam untuk menghasilkan output ekonomi hari ini, kita akan memiliki lebih sedikit modal untuk produksi di masa mendatang. Belum lagi, beban yang harus ditanggung generasi mendatang karena hilangnya jasa lingkungan.
Daripada melakukan ekstensifikasi sawit ke hutan-hutan terakhir kita, lebih baik melakukan intensifikasi perkebunan yang ada dan mengembangkan produk turunannya. Akan lebih baik lagi, jika Pak Prabowo yang konon gemar membaca itu mau melihat data riset di Batanghari, tentang manfaat ekologi dan ekonomi dari pengurangan sebagian lahan sawit yang dihutankan kembali.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Adhitya Ramadhan