Setelah 11 Tahun, ke Mana Arah Beasiswa LPDP? (10)

Beasiswa LPDP perlu diprioritaskan untuk menciptakan manusia unggul di bidang sains, teknologi, perekayasa, dan matematika.

05 Des 2024 09:09 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Stefanus Ato, Insan Alfajri, Melati Mewangi, Sarie Febriane, Pandu Wiyoga

Pengelolaan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan tak sebatas penerimanya harus kembali ke Tanah Air, lalu terserap pasar tenaga kerja. Ada isu krusial, yakni memastikan beasiswa ini berkontribusi melahirkan manusia unggul di bidang sains, teknologi, perekayasa, dan matematika. Suka atau tidak, mereka punya peran besar menyetarakan Indonesia dengan negara maju di masa depan.

Mereka, para penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), terutama yang belajar di luar negeri, tak pernah lupa dengan kewajiban berkontribusi di Tanah Air seusai lulus. Niat untuk turut membangun negeri itu pula yang membawa mereka meninggalkan Indonesia, belajar sebaik-baiknya di negeri orang. Tujuannya, saat kembali, mereka mampu berbuat maksimal demi Indonesia.

”Aku akan kembali bekerja di swasta, tetapi pengin lebih spesifik ke manajemen data. Indonesia sebenarnya basis datanya gede banget. Sepertinya masih banyak yang bisa dieksplorasi untuk keperluan bisnis,” kata Isna, bukan nama sebenarnya, di Jakarta, awal November 2024.

Cita-cita Isna mengeksplorasi kekayaan data itu dia tulis sebagai bagian dari impiannya untuk berkontribusi di Indonesia ketika melamar sebagai salah satu calon peserta penerima beasiswa LPDP pada 2021. Gayung bersambut, niat itu terwujud. Dia lulus sebagai salah satu penerima beasiswa LPDP studi magister.

Penerima beasiswa (awardee)  Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang tergabung dalam PK-150 Garuda Manggala telah mengadakan proyek sosial yang menyasar isu literasi di wilayah Penjaringan, Jakarta Utara, akhir pekan lalu.

Perempuan kelahiran Jakarta itu bergegas mengurus letter of acceptance (LoA) atau surat resmi dari perguruan tinggi pada Desember 2021, lalu berangkat ke kampus tujuan di Belanda, Agustus 2022. Setelah dua tahun belajar, perempuan berusia 30 tahun itu pun menyandang gelar magister pada Agustus 2024.

”Waktu lulus beasiswa LPDP, aku resign dari perusahaan sebelumnya. Jadi, pulang harus cari kerja lagi. Sampai sekarang pun sebenarnya masih nyari,” ucapnya.

Dia sudah melamar kerja di belasan perusahan. Sejauh ini, belum ada perusahaan di sektor swasta yang tertarik dengan kualifikasinya. Hal ini bukan masalah bagi Isna, apalagi dia baru saja lulus kuliah. Waktu menganggur masih singkat. ”Secara personal, kesulitan buat aku karena menghindari start up,” katanya.

Kisah serupa juga dialami Nur (nama samaran), alumnus penerima beasiswa LPDP yang juga baru menamatkan studinya di salah satu kampus di Inggris, medio 2024. Waktu lulus kuliah perempuan yang kini menyandang gelar magister bidang riset kesehatan mental itu masih singkat. Namun, proses melamar pekerjaan rupanya sudah dia tempuh saat belum wisuda.

”Saya sudah melamar kerja ke lebih dari 100 perusahaan di Indonesia. Sejauh ini belum ada satu pun yang panggil,” kata perempuan berusia 28 tahun itu.

Saat lamaran sampai di meja ratusan perusahaan di Indonesia, hasilnya nihil. Kejadian ini membuat kepercayaan dirinya terkikis. Dia merasa disiplin ilmu yang dipelajari, yakni kesehatan mental, masih minim dibutuhkan di Indonesia. ”Aku merasa seharusnya lebih gampang dapat kerja. Ada beban, jangan-jangan S-2 ini jalan yang salah,” katanya.

Teknisi dari PT Akebono Brake Astra Indonesia dan tim dari Universitas Gadjah Mada mempersiapkan alat pendeteksi keretakan pada produk kampas rem di pabrik tersebut di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (1/2/2023). Alat tersebut hasil riset kolaborasi antara Sekolah Vokasi UGM, Politeknik ATMI Surakarta dan PT Akebono Brake Astra Indonesia lewat pendanaan Program Riset Keilmuan Terapan Vokasi LPDP. Sistem pendeteksi keretakan kampas rem tersebut berbasis kecerdasan buatan (AI) dengan metode acoustic recognition. Alat ini mmpu mendeteksi kerusakan kampas rem dalam tempo kurang dari 8 detik. Sistem ini memanfaatkan karakteristik akustik yang dihasikan dari pemukulan pada produk kampas rem untuk mendeteksi kerusakan dalam proses kontrol kualitas di lini produksi PT Akebono Brake Astra Indonesia. alat ini memiliki kelebihan hasil yang konsisten serta masa pembelajaran mesin lebih cepat dibanding operator kontrol kualitas manual oleh manusia. Sistem ini memiliki area pengembangan masih cukup luas baik dari kecepatan maupun akurasi. Konsep ini nantinya dapat dikembangkan di berbagai industri lain seperti pengecoran logam, cetakan beton, industri gamelan, dan lain-lain. Alat ini memberikan ruang peningkatan kemampuan pada operator penguji. Sistem yang dikembangkan oleh Departemen Teknik Mesin Sekolah Vokasi UGM dengan PT Akebono Brake Astra Indonesia yang dibiayai oleh Direktorat Pendidikan Vokasi (DIKSI) dan LPDP. Alat tersebut akan dipamerkan di Jerman dalam even Hanover Messe (pameran industri tingkat internasional) yang menurut rencana akan dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo. Kompas/Riza Fathoni (RZF) 01-02-2023

Nur masih memiliki cita-cita untuk bisa belajar lagi hingga bergelar doktor. Namun, pengalaman dan kesulitan mencari kerja ketika sudah bergelar S-2 membuatnya bimbang, saatnya berhenti atau terus?

Isu keterbatasan pemerintah menyediakan lapangan kerja yang sesuai dengan keahlian alumnus penerima beasiswa LPDP sempat disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Satrio Soemantri Brodjonegoro beberapa waktu lalu. Dia menawarkan opsi agar para penerima beasiswa yang tak memiliki ikatan dinas terlebih dahulu mengembangkan kariernya di luar negeri.

Hanya 20 persen

Menurut Direktur Utama LPDP Andin Hadiyanto, jumlah penerima LPDP yang belum bekerja persentasenya hanya 20 persen. Dari angka itu, 10 persen tak bekerja karena mereka, saat lulus sebagai penerima beasiswa LPDP, harus berhenti dari perusahaan tempatnya bekerja.

”Yang 10 persennya memang fresh graduate. Jadi, kalau lihat proporsi, sebenarnya kecil sekali,” kata Andin, Senin (18/11/2024), di Jakarta.

Penerima beasiswa yang tak bekerja tergolong sedikit karena mereka rata-rata sudah berkarier dan tersebar di berbagai sektor, baik itu sektor publik maupun swasta. Rinciannya, penerima beasiswa yang bekerja di badan usaha milik negara (BUMN) dan badan usaha milik daerah (BUMD) sebanyak 3,3 persen, swasta (24,7 persen), wirausaha (5,4 persen), guru, dosen, tenaga pendidik, peneliti (43,2 persen), lalu PNS, TNI, dan Polri (23,4 persen).

Direktur Utama LPDP Andin Hadiyanto

Meski jumlah penerima beasiswa LPDP yang belum bekerja minim, LPDP tak lepas tangan. Ada sejumlah program yang disiapkan untuk membantu alumni segera menemukan tempat pengabdian. Program yang disiapkan untuk membantu para penerima itu disebut pengabdian alumni non-ASN.

”Kami akan memberikan semacam proyek di daerah tertinggal, daerah 3T dan beberapa di Sumatera. Ada program 3 bulan, 6 bulan, untuk membantu daerah itu. Tentunya mereka akan dapat tunjangan dari kami sambil mereka mencari (pekerjaan),” ucapnya.

Mulai fokus

Sejak tahun 2013 selama bergulirnya beasiswa LPDP, saat ini jumlah alumninya mencapai 25.116 orang. Dari jumlah itu, alumni yang bergelar doktor sebanyak 21 persen, magister 73 persen, dan sisanya merupakan lulusan dokter spesialis dengan persentase 6 persen.

Menciptakan lulusan magister dan doktor sebanyak mungkin jadi tujuan awal lahirnya program beasiswa LPDP. Sebab, manusia Indonesia dengan lulusan S-2 dan S-3 baru sekitar 0,45 persen dari total penduduk berusia produktif.

Jumlah ini masih kalah dari sejumlah negara tetangga, seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand yang lulusan S-2 maupun S-3 sudah sekitar 2,5 persen dari penduduk usia produktif. Jika dibandingkan dengan negara maju, Indonesia bahkan makin tertinggal karena di negara-negara maju, presentase lulusan S-2 dan S-3 sudah mencapai 9,8 persen.

Banyak persiapan yang harus dilakukan untuk bisa kuliah dan bekerja di luar negeri, yang utama adalah kemampuan bahasa.

”Terus ke sini, kita harus akomodasi kebutuhan, program-program prioritas nasional. Itu mulai kami bangun dan didukung negara lain,” ucap Andin.

Langkah menciptakan lulusan yang sesuai dengan program nasional salah satunya melalui kerja sama dengan Tiongkok. Indonesia, sejak 2021, setiap tahun mengirim 150 pelajar untuk belajar khusus tentang nikel di China. Ratusan pelajar itu setelah lulus langsung terserap ke pusat-pusat pengelolaan nikel di Tanah Air, seperti di Morowali.

LPDP juga fokus melahirkan lulusan di bidang sains, teknologi, perekayasa/engineering, dan matematika (STEM). Jumlah penerima beasiswa LPDP dengan latar belakang STEM pun terus meningkat. Sejak 2023, para penerima beasiswa LPDP dari STEM komposisinya mencapai 52 persen dari keseluruhan kuota beasiswa LPDP.

”Memang di Indonesia itu alumni STEM masih kurang dari 20 persen. (Dibandingkan) yang non-STEM masih 80 persen. Ini timpang,” kata Andin.

Upaya mempriotaskan lulusan STEM tak berarti menyepelekan disiplin ilmu lain. Namun, keberadaan lulusan dengan latar belakang STEM tak bisa dipungkiri jadi lokomotif penggerak kemajuan ekonomi suatu negara.

”Kita harus paham bahwa kemajuan ekonomi itu harus dari STEM, tidak ada yang lain. Nilai tambah ekonomi itu dari hard science. Mau tidak mau, kita harus fokus ke STEM,” kata Kepala BRIN Laksana Tri Handoko.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stefanus Ato, Insan Alfajri, Melati Mewangi, Sarie Febriane, Pandu Wiyoga
 | 

Editor:

Sarie Febriane, Andy Riza Hidayat
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra