KRI Brawijaya ini memang menjadi kapal fregat terbesar di Asia Tenggara saat ini.
09 Sep 2025 15:36 WIB · Politik & Hukum
Setelah 44 hari berlayar melintasi rute yang mencakup Turki, Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Sri Lanka, hingga akhirnya memasuki perairan Indonesia, KRI Brawijaya-320 kini bersandar di Dermaga 107 Tanjung Priok, Jakarta, Senin (8/9/2025). Setelah menempuh pelayaran panjang, kapal baru buatan Italia ini akan semakin memperkuat armada tempur Angkatan Laut RI.
Kedatangan kapal fregat yang diklaim terbesar di Asia Tenggara itu langsung disambut oleh Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin dengan didampingi Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kepala Staf TNI AL Laksamana Muhammad Ali, serta Kepala Kepolisian RI Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo. Ada 160 awak KRI Brawijaya-320 yang dipimpin oleh Kolonel Laut (P) John David Nalasakti Sondakh.
Kapal ini memiliki panjang 143 meter, lebar 16,5 meter, dan draf 5,2 meter. Dengan kombinasi mesin diesel, listrik, dan turbin gas, kapal ini mampu mencapai kecepatan maksimum 32 knot. KRI Brawijaya-320 dipersenjatai dengan sistem rudal SAM (surface-to-air missile), SSM (surface-to-surface missile), meriam 127 mm, meriam 76 mm, dan torpedo.
Dalam keterangannya, Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan bahwa kedatangan KRI Brawijaya-320 adalah wujud nyata komitmen pemerintah dalam membangun kekuatan TNI yang disegani.
”Ini adalah kebanggaan, sekaligus merupakan tantangan bagi kita untuk terus memelihara kemampuan dan keterampilan, mengawal kedaulatan NKRI dari Sabang sampai Merauke,” ujar Menteri Pertahanan, Senin (8/9/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/08/f99d99638de69c709ff06f55a69aabdb-20250908RZF06.JPG)
Sjafrie Sjamsoeddin juga menekankan pentingnya menjaga kesiapan tempur dan profesionalisme seluruh awak serta perangkat yang ada di KRI Brawijaya-320. Tantangan ke depan, menurut dia, tidak mudah dan tidak hanya datang dari ancaman eksternal.
”Kita dihadapkan pada tantangan selain untuk memelihara NKRI. Kita juga dihadapkan dengan tantangan untuk menertibkan dan mengamankan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia,” kata Sjafrie Sjamsoeddin.
Selain KRI Brawijaya, Indonesia juga akan kedatangan kapal lainnya dari Italia. Kapal yang dimaksud yakni KRI Prabu Siliwangi-321 yang bakal tiba pada Januari 2026. Kedua kapal itu merupakan buah dari kontrak pembelian kapal antara Pemerintah RI dan Fincantieri, perusahaan pembuatan kapal di Italia, senilai 1,18 miliar euro yang ditandatangani pada Maret 2024.
KRI Brawijaya-320 bakal ditempatkan di wilayah kerja Komando Armada (Koarmada) II. Namun, wilayah operasinya bisa sampai ke wilayah timur Indonesia, seperti laut Papua yang merupakan wilayah Koarmada III.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/08/f5fd845d0e7a1ab3b6252de9996252b2-20250908RZF03.JPG)
Koarmada II membawahi wilayah laut Indonesia bagian tengah dengan markas di Surabaya, Jawa Timur. Koarmada II membawahi beberapa Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal), seperti Lantamal V (Surabaya), Lantamal VI (Makassar), Lantamal VII (Kupang), Lantamal VIII (Manado), dan Lantamal XIII (Tarakan).
Sementara KRI Prabu Siliwangi-321, menurut rencana, akan beroperasi di wilayah Koarmada I. Wilayah tanggung jawab Komando Armada I (Koarmada I) mencakup sebagian besar wilayah laut Indonesia bagian barat, termasuk Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, Selat Malaka, serta Laut China Selatan. Koarmada I berlokasi di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Staf TNI AL Laksamana Muhammad Ali mengatakan, KRI Brawijaya akan memperkuat jajaran Satuan Kapal Eskorta Koarmada II dan akan bertugas di wilayah sekitarnya. Namun, operasi KRI Brawijaya juga tidak menutup kemungkinan bisa diproyeksikan ke seluruh Indonesia sesuai kebutuhan operasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/12/28/eceb3a66-1e3a-4e41-a077-2bd4f9e1882f_jpg.jpg)
Para awak kapal juga telah menjalani latihan operasional kapal patroli multiguna (PPA) di La Spezia, Italia. Pelatihan meliputi sistem kapal, prosedur operasional, pemeliharaan, hingga penyelamatan kapal PPA.
Dengan panjang mencapai 143 meter, kapal fregat ini dinilai akan mampu melesat hingga kecepatan maksimum 32 knot dan memiliki daya jelajah impresif sejauh 5.000 mil laut. Hal ini memungkinkannya beroperasi di lautan lepas dalam waktu lama.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kita masih sangat kekurangan kapal perang modern berukuran besar, dalam hal ini fregat. Tidak hanya membeli saja, kita juga harus memperhatikan aspek keterpaduan antara kapal dan sistem persenjataannya.
Tak hanya itu, keunggulan utamanya juga disebut terletak pada sistem persenjataan dan sensornya yang dirancang untuk menghadapi peperangan modern di empat dimensi sekaligus: anti-serangan udara, antikapal permukaan, antikapal selam, dan peperangan elektronika. Kemampuan ini diklaim menjadikannya sebagai salah satu platform tempur paling mematikan di kawasan.
KRI Brawijaya-320 juga dirancang untuk mendukung operasi non-konvensional, seperti infiltrasi pasukan khusus dan misi intelijen, menjadikannya aset yang fleksibel untuk berbagai skenario ancaman.
Dalam seremoni penggantian nama kapal pada akhir Januari 2025 yang dilangsungkan di galangan kapal Fincantieri di Muggiano (La Spezia), Kepala Staf TNI AL Laksamana Muhammad Ali telah menyampaikan, nama KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi terinspirasi dari raja-raja Nusantara. Nama-nama ini dipilih dengan harapan agar kapal-kapal ini kelak menjadi legenda baru yang berkontribusi besar bagi kejayaan bangsa.
”Pemberian nama kapal bukan sekadar formalitas, melainkan merupakan langkah strategis dalam membangun identitas kapal. Nama-nama yang dipilih tersebut merupakan simbol harapan, doa, dan tekad untuk menegakkan kedaulatan dan kehormatan bangsa di seluruh lautan dunia,” katanya (Kompas.id,16/5/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/30/9c33109478f9a10b6b311500b2c07940-IMG_20250130_WA0011.jpg)
Berdasarkan catatan Kompas, penamaan Brawijaya dan Prabu Siliwangi, bukan sama sekali baru. Di era Orde Lama, Angkatan Laut Indonesia pernah mengoperasikan kapal perusak kelas Skory buatan Uni Soviet. Kapal pertama yang dioperasikan AL Indonesia bernama Siliwangi dengan nomor lambung 201 sehingga disebut kelas Siliwangi.
Tak hanya itu, AL Indonesia juga pernah memiliki kapal perang bernama Brawidjaja yang bernomor lambung 307. Sebelum diakuisisi AL Indonesia, Brawidjaja 307 bernama Bezzhalostny. Setelah beroperasi memperkuat AL Indonesia selama beberapa tahun sejak 1964, Brawidjaja-307 dipensiunkan pada awal 1970-an.
Direktur Eksekutif Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi, saat dihubungi, Selasa (9/9/2025), menilai, hadirnya KRI Brawijaya memang merupakan lompatan besar bagi TNI AL Indonesia. Dari sisi ukuran, kapal fregat ini memang menjadi yang terbesar di Asia Tenggara saat ini dan yang lebih signifikan adalah lompatan teknologinya.
Kapal ini dirancang sebagai multipurpose combat ship dengan kemampuan anti-udara, antipermukaan, antikapal selam, dan peperangan elektronik.
Pelayaran panjang selama 44 hari dari Italia ke Indonesia juga menjadi ujian sekaligus pelatihan nyata bagi para awak. Dalam perjalanan, mereka berkesempatan untuk berlatih dan berinteraksi dengan angkatan laut dari negara-negara yang disinggahi, membiasakan diri dengan standar operasi internasional.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/03/16/f753b21b-d406-49c1-8e5a-3ff5a33d48ab.jpg)
”Tantangannya sekarang adalah bagaimana pengalaman itu ditularkan lebih luas melalui cascade training, sehingga bukan hanya awak inti yang mahir, tetapi juga teknisi, operator cadangan, hingga staf taktis di pangkalan. Hanya dengan begitu, kapal ini bisa dioperasikan berkelanjutan dan siap tempur dalam arti penuh,” katanya.
Tak hanya itu, lanjut Khairul, agar dapat memberikan nilai strategi lebih dengan hadirnya KRI Brawijaya maka perlu pula didukung dengan sumber daya manusia yang siap, persenjataan yang lengkap, hingga infrastruktur yang memadai, dan doktrin yang mutakhir.
”Modernisasi armada harus berimbang. Fregat besar memang penting, tapi korvet, kapal cepat, kapal logistik, dan pesawat patroli maritim juga perlu ditingkatkan agar keseluruhan armada bekerja efektif,” kata Khairul.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/08/5661049ef3885ac4b96c0b83eb965267-20250908RZF02.JPG)
Analis pertahanan Fauzan Malufti berharap paket persenjataan penuh seperti rudal, torpedo, dan sistem lainnya akan segera dilengkapi oleh pemerintah. Sebab, ia melihat kapal ini datang masih tanpa persenjataan lengkap sehingga pemerintah harus segera meng-upgrade kapal ini hingga ke level full combat configuration. Hal ini mengingat kondisi geopolitik dunia yang semakin tidak stabil dan antrean produksi persenjataan global.
”Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kita masih sangat kekurangan kapal perang modern berukuran besar, dalam hal ini fregat. Tidak hanya membeli saja, kita juga harus memperhatikan aspek keterpaduan antara kapal dan sistem persenjataannya,” katanya.
Penulis:
Hidayat SalamEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Retma Wati