Setelah Berlaku 20 Tahun, Aturan Lepas Sepatu di Bandara AS Dibatalkan

Kasus bom sepatu tahun 2001 dalam pesawat American Airlines menjadi pemicu aturan melepas sepatu diterapkan.

09 Jul 2025 09:00 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat Kristi Noem, Selasa (9/9/2025), mengumumkan pencabutan aturan pemeriksaan dengan melepas alas kaki saat memasuki bandara. Kini, penumpang yang ingin mengejar penerbangan di bandara AS tidak lagi diharuskan melepaskan sepatu mereka selama pemeriksaan keamanan. 

Berakhirnya aturan yang telah berlangsung selama 20 tahun ini juga menunjukkan kemajuan peralatan pemeriksaan kemanan yang lebih canggih. Sebelumnya, pencopotan alas kaki dilakukan dengan alasan keamanan. 

Dalam foto 3 Agustus 2011 ini, seorang penumpang maskapai penerbangan memegang sepatu dan sabuk pengaman yang longgar saat melewati pos pemeriksaan keamanan Administrasi Keamanan Transportasi di Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta, di Atlanta.

”Saya pikir sebagian besar warga Amerika akan sangat gembira karena mereka bisa tetap memakai sepatu, dan prosesnya akan jauh lebih mudah,” kata Noem.

Meskipun melepas sepatu tidak lagi menjadi prosedur standar di pos pemeriksaan keamanan bandara, beberapa pelancong mungkin masih diminta untuk melepas alas kaki mereka. ”Hal itu jika kami merasa lapisan pemeriksaan tambahan diperlukan,” tambahnya.

Agen Administrasi Keamanan Transportasi AS (TSA) memberi sinyal penumpang berikutnya dalam antrean di pos pemeriksaan keamanan di Bandara Internasional O'Hare, Chicago, AS, pada 26 Mei 2023.
Mary-Carroll Lee mengikat sepatunya setelah melalui pemeriksaan keamanan oleh Administrasi Keamanan Transportasi Amerika Serikat di Bandara Internasional Los Angeles, AS, 10 Januari 2007.
Sebuah ikat pinggang dan sepatu berada di nampan dengan iklan yang digunakan dalam pemeriksaan keselamatan para pelancong yang dilakukan oleh Administrasi Keamanan Transportasi Amerika Serikat, di Bandara Internasional Los Angeles, AS, 10 Januari 2007.
Seorang penumpang pesawat melepas sepatunya di Bandara Internasional Hartsfield-Jackson, Atlanta, Amerika Serikat, 15 Januari 2014.
Penumpang tanpa alas kaki menunggu dikembalikannya sepatu mereka saat melewati pos pemeriksaan keamanan Administrasi Keamanan Transportasi Amerika Serikat (TSA) di Bandara Internasional Hartsfield-Jackson, Atlanta, 3 Agustus 2011. TSA dibentuk setelah serangan teroris di AS pada 11 September 2001.

Kabar ini pertama kali ditulis oleh buletin perjalanan Gate Access. Majalah ini melaporkan bahwa akan ada perubahan pemeriksaan keamanan, terutama yang menyangkut sepatu di bandara. 

ABC News melaporkan memo internal yang dikirim ke petugas Administrasi Kemanan Transportasi AS (TSA) minggu lalu yang menyatakan bahwa kebijakan baru ini memungkinkan pelancong tetap mengenakan sepatu selama pemeriksaan di banyak bandara AS yang akan dimulai Minggu ini. Perubahan itu akan segera terjadi di semua bandara AS.

Sebelumnya, saat aturan melepas alas kaki masih berlaku, penumpang dapat menghindari persyaratan tersebut jika mereka berpartisipasi dalam program TSA PreCheck yang biayanya sekitar 80 dollar AS selama lima tahun. Program ini memungkinkan penumpang pesawat melewati proses pemeriksaan tanpa melepas sepatu, ikat pinggang, atau jaket tipis mereka, dan tanpa perlu mengeluarkan laptop dan perlengkapan mandi dalam tas.

Sebuah model alat peledak plastik yang tersembunyi di dalam sepatu ditampilkan sebelum konferensi pers tentang keamanan perjalanan, Jumat, 13 Mei 2016, di Bandara Nasional Ronald Reagan Washington.

Kasus Bom Sepatu

Richard Reid adalah penyebab semua penumpang, terutama di Amerika Serikat, untuk melepaskan sepatunya dan memasukannya dalam wadah plastik untuk kemudian dimasukkan dalam mesin peneriksaan sinar-X di hampir semua bandara di AS.

Kisahnya dimulai pada 22 Desember 2001. Saat itu Richard Reid dalam perjalanan dari Paris, Perancis, menuju Miami, AS, dengan menumpang pesawat American Airlines. Ia ditangkap oleh awak pesawat dibantu penumpang setelah aksinya mencoba meledakkan bom yang dipasang di sepatu yang dikenakannya diketahui. 

Seorang agen FBI (kiri) duduk di sebelah tersangka yang diidentifikasi oleh pihak berwenang sebagai Richard Reid (kanan) saat dia diangkut dengan mobil dari barak Polisi Negara Bagian di Bandara Internasional Logan, Boston, Amerika Serikat, 22 Desember 2001. Reid didakwa mengganggu awak pesawat di atas American Airlines Penerbangan 63 yang sedang dalam perjalanan dari Paris ke Miami setelah dia mencoba menyalakan alat peledak.
Petugas membawa senapan serbu berpatroli di area di depan Pengadilan Federal di Boston, Amerika Serikat, 30 Januari 2003, sebelum sidang Richard Reid. Reid adalah anggota kelompok teroris Al-Qaeda yang mencoba meledakkan penerbangan American Airlines pada 22 Desember 2001 dengan bahan peledak yang tersembunyi di sepatunya. Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Seorang petugas polisi berpakaian preman membawa dokumen ke markas polisi di Paris, Perancis, 26 November 2002. Polisi anti-terorisme Perancis telah menangkap enam tersangka sehubungan dengan rencana gagal Richard Reid meledakkan penerbangan trans-Atlantik dengan bom sepatu setahun sebelumnya.
Seorang tersangka teror dikawal polisi ke pengadilan Paris, Perancis, 16 Juni 2005. Pengadilan Perancis menghukum Ghulam Rama Pakistan (67) lima tahun penjara terkait dengan kelompok separatis Islam Kashmir yang memiliki kontak dengan pembawa bom sepatu, Richard Reid.
Tersangka Hakim Mokhfi dikawal ke gedung pengadilan di Paris, Perancis, 11 Mei 2005. Ia dan dua orang lainnya didakwa memiliki hubungan dengan pembawa bom sepatu, Richard Reid.
Tersangka Hassan el-Cheguer (tengah), dikawal ke gedung pengadilan di Paris, Perancis, 11 Mei 2005. Ia dan dua orang lainnya mengatakan memiliki hubungan dengan pembom sepatu, Richard Reid. Reid dipenjara setelah mencoba meledakkan alat peledak yang tersembunyi di sepatunya di atas penerbangan American Airlines Paris-ke-Miami pada 22 Desember 2001.

Pesawat dengan sekitar 200 penumpang itu akhirnya berhasil mendarat darurat di Bandara Internasional Logan di Boston, AS. Setelah melalui rangkaian persidangan, Pengadilan AS menjatuhkan hukuman seumur hidup.

Beberapa tahun sejak kasus bom sepatu, mencopot sepatu menjadi standar pemeriksaan keamanan bagi penumpang pesawat terbang di seluruh AS. Belakangan, standar keamanan ini juga diberlakukan di banyak negara.

Semua penumpang berusia antara 12 dan 75 tahun diharuskan melepas sepatu mereka, yang dipindai bersama dengan tas jinjing dan barang-barang terpisah lainnya, seperti pakaian luar.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto