Kasus bom sepatu tahun 2001 dalam pesawat American Airlines menjadi pemicu aturan melepas sepatu diterapkan.
09 Jul 2025 09:00 WIB · Internasional
Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat Kristi Noem, Selasa (9/9/2025), mengumumkan pencabutan aturan pemeriksaan dengan melepas alas kaki saat memasuki bandara. Kini, penumpang yang ingin mengejar penerbangan di bandara AS tidak lagi diharuskan melepaskan sepatu mereka selama pemeriksaan keamanan.
Berakhirnya aturan yang telah berlangsung selama 20 tahun ini juga menunjukkan kemajuan peralatan pemeriksaan kemanan yang lebih canggih. Sebelumnya, pencopotan alas kaki dilakukan dengan alasan keamanan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/09/20c362d0-8379-4667-9172-3bdd2a086c46_jpg.jpg)
”Saya pikir sebagian besar warga Amerika akan sangat gembira karena mereka bisa tetap memakai sepatu, dan prosesnya akan jauh lebih mudah,” kata Noem.
Meskipun melepas sepatu tidak lagi menjadi prosedur standar di pos pemeriksaan keamanan bandara, beberapa pelancong mungkin masih diminta untuk melepas alas kaki mereka. ”Hal itu jika kami merasa lapisan pemeriksaan tambahan diperlukan,” tambahnya.
Kabar ini pertama kali ditulis oleh buletin perjalanan Gate Access. Majalah ini melaporkan bahwa akan ada perubahan pemeriksaan keamanan, terutama yang menyangkut sepatu di bandara.
ABC News melaporkan memo internal yang dikirim ke petugas Administrasi Kemanan Transportasi AS (TSA) minggu lalu yang menyatakan bahwa kebijakan baru ini memungkinkan pelancong tetap mengenakan sepatu selama pemeriksaan di banyak bandara AS yang akan dimulai Minggu ini. Perubahan itu akan segera terjadi di semua bandara AS.
Sebelumnya, saat aturan melepas alas kaki masih berlaku, penumpang dapat menghindari persyaratan tersebut jika mereka berpartisipasi dalam program TSA PreCheck yang biayanya sekitar 80 dollar AS selama lima tahun. Program ini memungkinkan penumpang pesawat melewati proses pemeriksaan tanpa melepas sepatu, ikat pinggang, atau jaket tipis mereka, dan tanpa perlu mengeluarkan laptop dan perlengkapan mandi dalam tas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/09/5c79835a-204b-44ac-9328-012cdf747efc_jpg.jpg)
Kasus Bom Sepatu
Richard Reid adalah penyebab semua penumpang, terutama di Amerika Serikat, untuk melepaskan sepatunya dan memasukannya dalam wadah plastik untuk kemudian dimasukkan dalam mesin peneriksaan sinar-X di hampir semua bandara di AS.
Kisahnya dimulai pada 22 Desember 2001. Saat itu Richard Reid dalam perjalanan dari Paris, Perancis, menuju Miami, AS, dengan menumpang pesawat American Airlines. Ia ditangkap oleh awak pesawat dibantu penumpang setelah aksinya mencoba meledakkan bom yang dipasang di sepatu yang dikenakannya diketahui.
Pesawat dengan sekitar 200 penumpang itu akhirnya berhasil mendarat darurat di Bandara Internasional Logan di Boston, AS. Setelah melalui rangkaian persidangan, Pengadilan AS menjatuhkan hukuman seumur hidup.
Beberapa tahun sejak kasus bom sepatu, mencopot sepatu menjadi standar pemeriksaan keamanan bagi penumpang pesawat terbang di seluruh AS. Belakangan, standar keamanan ini juga diberlakukan di banyak negara.
Semua penumpang berusia antara 12 dan 75 tahun diharuskan melepas sepatu mereka, yang dipindai bersama dengan tas jinjing dan barang-barang terpisah lainnya, seperti pakaian luar.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto