Setelah Dinasti Assad di Suriah Runtuh

Kemampuan para pemangku kepentingan di Suriah lepas dari tarikan kekuatan asing, yang selama ini bermain di Suriah, jadi kunci pemulihan negara itu pasca-era Assad.

10 Des 2024 08:10 WIB · Editorial

Oleh REDAKSI

Di luar dugaan, hanya 11 hari serangan oposisi bersenjata di Suriah mengakhiri kekuasaan dinasti Assad. Babak baru Suriah jangan mengulang kisah pilu Irak-Libya.

Hari Minggu (8/12/2024) tercatat dalam sejarah Suriah dan dunia Arab, seperti ditulis media pro-pemerintah negeri itu, Al-Watan, sebagai ”babak baru di Suriah”. Setelah berkuasa hampir seperempat abad, Presiden Bashar al-Assad terguling.

Sebelum faksi-faksi oposisi yang digalang Hayat Tahrir al- Sham (HTS) pimpinan Abu Mohammed al-Golani mencapai ibu kota Damaskus, Assad dikabarkan sudah kabur ke Rusia.

Seperti diberitakan, dalam 11 hari sejak 27 November, pasukan oposisi bersenjata di bawah HTS melancarkan serangan kilat dari Idlib. Dari wilayah barat laut Suriah ini, mereka nyaris tanpa perlawanan menguasai kota-kota penting, seperti Aleppo, Hama, Homs, hingga Damaskus.

Infografik AFP Serangan Kilat Pemberontak Suriah

Kepergian Bashar al-Assad sekaligus mengakhiri lebih dari 53 tahun kekuasaan dinasti Assad di Suriah. Bashar al-Assad—melalui referendum dengan calon tunggal dirinya—mewarisi kekuasaan dari ayahnya, Hafez al-Assad, dalam usia 34 tahun.

Semula, di awal-awal pemerintahannya, banyak yang berharap Bashar al-Assad menjadi reformis setelah tiga dekade Suriah dipimpin ayahnya dengan tangan besi.

Namun, setali tiga uang dengan Assad Senior. Assad Junior juga memimpin Suriah tak kalah brutalnya, terutama dalam melibas gerakan unjuk rasa anti-pemerintah sejak Maret 2011. Saat itu, seperti sejumlah negara Arab lain, Suriah tak luput dari gelombang Musim Semi Arab.

Dengan kepemimpinan tangan besi pula, Bashar al-Assad bertahan jauh lebih lama dibanding para penguasa di sejumlah negara yang dilanda Musim Semi Arab: Zine El Abidine Ben Ali (Tunisia, tumbang 2011), Hosni Mubarak (Mesir, 2011), Moammar Khadafi (Libya, 2011), dan Ali Abdullah Saleh (Yaman, 2012). Namun, rakyat Suriah harus membayar sangat mahal.

(COMBO) This combination of pictures created on December 9, 2024 shows the statue of Syria's late President Hafez al-Assad, father of ousted president Bashar al-Assad, in Damascus on December 2, 2024 (top) and below it another picture showing a Syrian man hitting with a stick the same statue after it was brought down following the fall of the Syrian capital in rebel hands on December 8, 2024. Islamist-led anti-government rebels took Damascus in a lightning offensive on December 8, sending the current president fleeing and ending five decades of Baath rule in Syria. (Photo by Louai BESHARA / AFP)

Perang saudara lebih dari satu dekade di Suriah telah menelan hampir setengah juta warganya. Separuh dari 23 juta jiwa penduduknya mengungsi, menjadi bencana kemanusiaan di banyak negara, mulai dari Jordania, Irak, Lebanon, Turki, dan bahkan hingga Eropa.

Belum lagi kerusakan infrastruktur di antero Suriah, negeri yang kaya peninggalan sejarah.

Quote

Perang saudara lebih dari satu dekade di Suriah telah menelan hampir setengah juta warganya. Separuh dari 23 juta jiwa penduduknya mengungsi.

Dalam laporan yang dirilis pada Februari 2023, Bank Dunia menghitung, kerugian akibat kerusakan total di 14 kota dan sektor-sektor utama Suriah sejak awal perang saudara tahun 2011 mencapai 11,4 miliar dollar AS (Rp 181 triliun). Kerusakan bakal semakin masif jika di ”babak baru” ini Suriah semakin tak terkendali dan terperangkap perang panjang antarfaksi-faksi bersenjata.

Pertemuan para menteri luar negeri sejumlah negara Arab di Doha, Qatar, memperingatkan kemungkinan Suriah menjadi negara gagal jika situasi saat ini tidak terkendali. Beberapa diplomat Arab menyebut pengalaman Irak dan Libya.

Irak pasca-tumbangnya Saddam Hussein tahun 2003 dilanda konflik sektarian berkepanjangan hingga menjadi lahan subur tumbuhnya kelompok terorisme. Libya pasca-Khadafy juga terpecah dan terus dilanda kekacauan hingga hari ini.

Semuanya terpulang pada seluruh pemangku kepentingan di Suriah. Kemampuan mereka lepas dari tarikan kepentingan kekuatan asing, yang selama ini bermain di Suriah, menjadi kunci.

Semua upaya mereka harus diabdikan demi kepentingan rakyat Suriah dan perdamaian di negara itu.


Kerabat Kerja

Penulis:

REDAKSI
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi, Andreas Maryoto