Setelah Dipereteli, Xi Jinping Minta Pengusaha Swasta Menambah Kontribusi Ekonomi

Lesunya pertumbuhan ekonomi China membuat pemerintah mendekati pengusaha swasta yang selama ini mereka tekan.

17 Feb 2025 17:59 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

BEIJING, SENIN — Presiden China sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Komunis China Xi Jinping melakukan pertemuan tertutup dengan para pengusaha swasta di negara tersebut. Xi meminta mereka agar giat memicu pertumbuhan ekonomi yang masih lesu walaupun pandemi Covid-19 sudah berakhir. Padahal, empat tahun lalu, Pemerintah China mempereteli kalangan pengusaha karena dianggap mempromosikan kesenjangan sosial.

Kantor berita nasional China, Xinhua, Senin (17/2/2025), melaporkan, selain Xi, turut hadir Perdana Menteri China Li Qiang dan Wakil PM Ding Xuexiang. Rapat sendiri dipimpin oleh Ketua Konferensi Permusyawaratan Rakyat China.

Dari kalangan pengusaha swasta yang hadir antara lain pendiri aplikasi kecerdasan buatan DeepSeek, Liang Wenfeng; pendiri Alibaba, Jack Ma; Direktur Utama BYD Wang Chuanfu; pendiri Huawei, Ren Zhengfei; Direktur Utama Tencent Pony Ma Huateng; dan salah satu pendiri Xiaomi, Lei Jun. Berdasarkan laporan televisi pemerintah, CCTV, Xi menyampaikan pidato tetapi tidak diungkap isinya.

Inilah pertemuan besar pertama Xi dan petinggi utama China dengan pengusaha teratas negara itu sejak 2018. Pertemuan digelar di tengah kerentanan ekonomi China oleh faktor domestik dan luar negeri.

Kebijakan Xi selepas 2020 berkontribusi pada pelambatan aktivitas perusahaan di China. Berbagai pihak menyebut, Xi mempreteli perusahaan besar karena dianggap mendorong kesenjangan. “Kesulitan dan tantangan yang dihadapi sektor swasta dihasilkan dalam reformasi dan peningkatan industri. Hanya sementara, tidak dalam jangka panjang. Bisa diatasi," kata Xi dalam forum Senin.

A woman walks past Alibaba’s offices in Beijing on February 14, 2025. Alibaba shares soared by more than six percent on February 14, following reports that Chinese President Xi Jinping was poised to meet with the tech juggernaut’s co-founder Jack Ma. (Photo by ADEK BERRY / AFP)

Xi mengatakan kepada para pengusaha teratas China bahwa kebijakan dasar pemerintah dan kebijakan pengembangan dunia swasta telah digabungkan dalam sosialisme China. Kebijakan itu akan terus dijunjung. "Tidak bisa dan tidak akan diubah," kata Xi sebagaimana dikutip CCTV.

Pesan disampaikan kala kepercayaan swasta kepada pemerintah terus merosot. Pertumbuhan ekonomi China tak lagi sepesat dulu. Kini, keriuhan geopolitik antara China dengan Amerika Serikat dan Eropa menambah kesuraman.

Sementara itu, stasiun televisi pemerintah, CGTN, melaporkan, sebanyak 48,6 persen neraca perdagangan internasional China disumbang oleh sektor swasta. Apabila dilihat secara keseluruhan, sektor swasta berkontribusi terhadap 60 persen pendapatan domestik bruto China, 70 persen inovasi teknologi, dan 80 persen lapangan pekerjaan di wilayah perkotaan.

Melansir CGTN, pemerintah juga sedang menggodok undang-undang pertumbuhan sektor swasta. Ini adalah undang-undang pertama soal itu yang ada di China. Tujuan peraturan tersebut adalah mengoptimalkan lingkungan yang menumbuhkan sektor swasta demi peningkatan perekonomian.

Kemauan politik

Para pengamat ekonomi China menafsirkan pertemuan tersebut dan kehadiran Xi sebagai wujud dari dukungan pemerintah atas sektor swasta. ”Adanya dukungan dari level teratas ini menghidupkan kembali semangat pertumbuhan di China,” kata ekonom firma Fidelity International, Liu Peiqian, kepada CNBC.

Menurut Liu, sikap politik ini bisa lebih kuat dibandingkan pemberian stimulus fiskal. Pasalnya, kini terlihat ada kemauan politik dari pemerintah untuk mendukung sektor teknologi dengan lebih terbuka. Ini juga menunjukkan upaya pemerintah menggenjot ekonomi yang tidak kunjung meningkat drastis.

A general view of Zhongguancun No 1, a landmark park of Hi-tech enterprises at Hangdian district in Beijing on February 13, 2025. (Photo by ADEK BERRY / AFP)

Perekonomian China lesu sejak pandemi Covid-19. Bahkan, dua tahun sejak pandemi usai, per 2022, tidak ada kenaikan yang signifikan. Sektor properti China ambruk gara-gara skandal Evergrande yang mengakibatkan hangusnya tabungan jutaan warga China yang diinvestasikan di rumah dan apartemen. Walhasil, konsumsi domestik juga berkurang.

Apalagi, kini Beijing dijatuhi tarif oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Segala barang ekspor China ke AS dikenakan bea masuk 60 persen. Untuk mobil-mobil listrik, bea masuknya bahkan mencapai 100 persen.

Secercah harapan terlihat dalam satu bulan ini karena saham-saham perusahaan China naik di bursa efek. Penyebabnya ialah gebrakan DeepSeek, aplikasi kecerdasan buatan (AI) gratis yang digadang-gadang bisa menyaingi ChatGPT dari AS.

Para ”anak hilang”

Pertemuan itu juga menjadi ajang kembalinya para ”anak hilang”. Mereka adalah penguaha-pengusaha besar dengan kekayaan miliaran dollar AS yang dipereteli oleh pemerintah. Xi sejak menjadi kepala negara China pada 2012 terus mengumandangkan targetnya untuk menyebarluaskan kesejahteraan kepada setiap warga negaranya.

Oleh sebab itu, pemerintah gencar mengincar para pengusaha besar yang memiliki pengaruh sosial dan kekayaan yang dianggap menyaingi mereka. Jack Ma dari Alibaba contohnya, pemerintah selain menyindir kekayaannya, juga melarang sistem kerja 996 yang diterapkan Alibaba, yaitu kerja dari pukul 09.00 sampai dengan pukul 21.00 selama enam hari dalam sepekan.

Alibaba Group Executive Chairman Jack Ma prepares to deliver a speech during the main forum of the World Artificial Intelligence Conference 2018 (WAIC 2018) in Shanghai on September 17, 2018. - WAIC 2018 is held in Shanghai from September 17 to 19. (Photo by STR / AFP) / China OUT

Ma sempat menghilang dari sorotan publik pada 2020. Pada 2022, ia dilaporkan berada di Jepang dan menjadi dosen tamu di sejumlah perguruan tinggi. Pengusaha-pengusaha lain juga dipereteli dan akhirnya ”tiarap”.

”Xi menginginkan praktik bisnis para pengusaha ini sejalan dengan prinsip PKC. Ia tidak peduli apabila para pengusaha ini membuka lapangan pekerjaan dan membayar pajak yang tinggi,” kata Dexter Roberts, pengamat isu Indo-Pasifik di Atlantic Council kepada Deutsche Welle edisi 3 Januari 2023.

Bahkan, firma investasi dari Inggris, Henley & Partners, pada Juni 2024 mengeluarkan laporan. Mereka memperkirakan, per akhir 2024, China akan kehilangan 15.200 warganya yang berpenghasilan sangat tinggi, yaitu para pengusaha. Mereka umumnya berpindah ke Singapura, AS, dan Uni Emirat Arab. Ada pula yang memilih Australia dan Jepang. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan