Setelah Paus Fransiskus Wafat , Takhta Suci Masuki Masa ”Papal Interregnum”

”Papal interregnum” berasal dari bahasa Latin yang berarti ’kekosongan takhta suci’.

22 Apr 2025 16:00 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Wafatnya Paus Fransiskus di Vatikan, Senin (21/4/2025), ”membangunkan” kembali serangkaian ritual pemakaman berusia lebih dari 2.000 tahun. Ritual ini telah digunakan untuk memakamkan lebih dari 250 paus. Saat ini, Vatikan memasuki masa papal interregnum sebelum konklaf atau pemilihan paus berlangsung.

Papal interregnum berasal dari bahasa Latin yang berarti ’kekosongan takhta suci’. Periode ini adalah masa pemerintahan kosong setelah seorang paus meninggal dunia atau mengundurkan diri dan sebelum paus baru terpilih.

Menurut EWTN, ada tiga fase yang terjadi selama papal interregnum. Ketiga fase itu adalah sembilan hari berkabung (novendiales), persiapan konklaf, dan konklaf.

Sembilan hari berkabung mencakup masa para kardinal mengatur upacara pemakaman untuk paus. Sejauh ini, Vatikan telah menempatkan jenazah Paus Fransiskus dalam peti di Kapel Domus Santa Martha, tempat tinggal Paus, Senin (21/5/2025).

”Kardinal Kevin Joseph Farrell, Camerlengo Gereja Roma Suci, akan memimpin upacara konfirmasi kematian dan penempatan jenazah di peti,” kata Vatikan dalam pernyataan.

Paus Fransiskus melepaskan burung merpati di Katedral Roh Kudus Istanbul sebagai bagian dari perjalanan tiga hari di Istanbul, Turki, pada tanggal 29 November 2014. Paus Fransiskus meninggal pada tanggal 21 April 2025 dalam usia 88 tahun

Setelah itu, menurut NBC News, jenazah Paus Fransiskus akan disemayamkan di Basilika Santo Petrus, paling cepat pada Rabu (23/4/2025). Di sinilah tempat umat dapat memberikan penghormatan terakhir. Setiap hari, seorang kardinal menyelenggarakan Misa Peringatan.

Misa rekuiem mesti dilaksanakan 4-6 hari setelah kematian. Pada umumnya, jenazah paus dimakamkan di ruang bawah tanah Basilika Santo Petrus, Vatikan. Namun, Paus Fransiskus meminta agar dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore di Roma, Italia.

Buku pedoman untuk pemakaman Fransiskus berasal dari dokumen setebal 20 halaman yang disebut ”Universi Dominici Gregis” atau ”Gembala Seluruh Kawanan Tuhan”. Dokumen ini diterbitkan oleh Paus Yohanes II pada 1996.

”Pada dasarnya, ini menjabarkan prosedur tentang apa yang terjadi setelah seorang paus yang berkuasa meninggal dan pemilihan penggantinya, suatu periode yang disebut masa peralihan kepausan,” kata David Collins, profesor dan Direktur Studi Katolik di Georgetown University.

Proses konklaf

Persiapan konklaf berlangsung mulai dari hari kesepuluh. Konklaf berasal dari bahasa Latin, con clave, yang berarti ’dengan kunci’. Konklaf harus berjalan 15-20 hari setelah meninggalnya paus.

CNN melaporkan, sebanyak 135 kardinal berusia di bawah 80 tahun dari seluruh dunia dapat mengikuti konklaf. Untuk menjamin kerahasiaan, mereka tinggal di tempat khusus. Mereka juga tidak berkomunikasi dengan dunia luar, merekam proses, atau mengungkapkan rahasia. Jika melanggar, ada ancaman ekskomunikasi.

Tempat pemilihan berada di Kapel Sistina. Pada hari konklaf, setelah kardinal berdoa dan bersumpah, pemimpin upacara memerintahkan extra omnes agar orang tidak berkepentingan keluar.

Surat suara berbentuk persegi panjang lalu dibagikan kepada kardinal. Di atasnya tertulis Eligo in Summum Pontificem atau ”Saya memilih sebagai paus tertinggi”. Ada kolom kosong di bawahnya. Para kardinal akan menulis nama pilihan dengan tulisan tangan yang berbeda dari biasanya. Kertas lalu dilipat dua kali.

From left, Pope Francis is welcomed by Archbishop of Singapore Cardinal William Seng Chye Goh, the Apostolic Nuncio to Singapore, Bishop Marek Zalewski, and the President of the Catholic Bishops' Conference of Malaysia, Singapore and Brunei Julian Leow Beng Kim as he arrives at Singapore Changi International Airport, Wednesday, Sept.11, 2024. Pope Francis has arrived to Singapore for the final leg of his 11-day trip to Asia and Oceania. (AP Photo/Gregorio Borgia) Paus Fransiskus disambut oleh Uskup Agung Singapura Kardinal William Seng Chye Goh, Nuncio Apostolik untuk Singapura, Uskup Marek Zalewski, dan Presiden Konferensi Waligereja Katolik Malaysia, Singapura, dan Brunei Julian Leow Beng Kim (kiri ke kanan ) di Bandara Internasional Changi Singapura, Rabu (11/9/2024).

Setiap kardinal berjalan ke altar sambil mengangkat surat suara ke atas dan mengucapkan sumpah. Surat diletakkan di atas piring yang kemudian dituangkan ke dalam guci perak di altar. Kardinal yang terlalu lemah untuk berjalan menyerahkan suara mereka kepada seorang pengawas.

Jika ada kardinal yang terlalu sakit untuk memilih, petugas infirmarii mengumpulkan surat suara mereka dari samping tempat tidur. Petugas juga bisa membantu menuliskan nama kandidat apabila diperlukan. Surat itu akan dikunci dalam guci khusus untuk dibawa ke kapel.

Setelah semua surat suara terkumpul, pengawas mengocok guci untuk mencampur suara. Surat selanjutnya dipindahkan ke wadah kedua untuk penghitungan. Pengawas akan membaca nama dengan keras dan mencatat. Surat yang sudah dibacakan ditusuk dengan jarum. Perevisi memeriksa ulang.

Surat suara dan catatan yang dibuat oleh para kardinal akan dimusnahkan lewat pembakaran di tungku di kapel. Asap hitam keluar jika belum ada paus terpilih dan asap putih keluar jika ada paus baru. Warna asap berasal dari penambahan bahan kimia.

Seorang kardinal membutuhkan dua pertiga suara agar terpilih sebagai paus. Seandainya pemilihan pertama gagal, para kardinal bakal melakukan pemungutan suara berikutnya.

Berlangsung terus

Pemungutan suara dapat berjalan sebanyak empat kali sehari. Artinya, dua putaran pada pagi hari dan dua putaran pada sore hari. Pemilihan berlangsung sampai seorang paus terpilih.

Ketika pemungutan suara berlanjut terus, kardinal akan meluangkan hari kelima untuk beristirahat, berdoa, berefleksi, dan berdialog. Pemungutan suara berlanjut ke hari berikutnya. Apabila belum ada pemenang setelah tujuh putaran, akan ada hari jeda lagi. Begitu seterusnya.

Seumpama para kardinal mencapai jeda keempat tanpa hasil, mereka dapat sepakat untuk memberikan suara hanya pada dua kandidat terpopuler. Pemenangnya adalah sosok yang memperoleh suara mayoritas.

Seorang pria membawa foto Paus Yohanes Paulus I saat misa beatifikasi dipimpin Paus Fransiskus di lapangan Santo Petrus di Vatican, Minggu (4/9/2022). (AP Photo/Andrew Medichini)

”Dalam sejarah terkini, tidak lazim bagi konklaf berlangsung terlalu lama, karena itu merupakan simbol kepercayaan terhadap kandidat yang menang. Jika dilakukan secara otomatis, itu memberi kesan bahwa tidak ada banyak kepastian pada orang tersebut,” kata Deborah Lubov, analis Vatikan di NBC News.

Setelah itu, kardinal dekan akan bertanya kepada calon paus, ”Apakah Anda menerima pemilihan kanonik Anda sebagai paus tertinggi?”

Begitu sang kardinal terpilih menjawab ”accepto”, dia menjadi paus. Tidak hanya menjadi pemimpin Gereja Katolik Roma, sosok itu juga menjadi pemimpin negara terkecil di dunia, Vatikan. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji