AS kembali menyerang Iran setelah ”drone” Shahed dilaporkan menjatuhkan Apache di Selat Hormuz. Iran menyatakan akan membalas.
10 Jun 2026 09:15 WIB · Internasional
AFP/US Central Command
WASHINGTON, SELASA — Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah sebuah helikopter serang Apache milik Angkatan Darat AS jatuh di dekat Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menuduh Iran menembak jatuh helikopter tersebut.
”Saya yakin responsnya harus sangat kuat, sangat dahsyat, dan itulah yang dilakukan kali ini,” kata Trump soal tanggapan atas jatuhnya helikopter AS kepada ABC News, Selasa (9/6/2026).
Seorang pejabat AS mengatakan bahwa helikopter AH-64 Apache tersebut jatuh setelah bertabrakan dengan pesawat nirawak (drone) Iran saat berpatroli di perairan dekat pantai Oman pada Selasa dini hari.
Trump mengatakan, kedua awaknya selamat dan tidak terluka. Centcom menyatakan keduanya berada dalam kondisi stabil. Belum diketahui apakah tabrakan itu disengaja.
Teheran belum mengeluarkan konfirmasi resmi ataupun bantahan terbuka bahwa pesawat nirawak Iran menjatuhkan helikopter tersebut. Namun, dikutip dari media Iran, seorang sumber militer anonim mengatakan, tidak ada operasi udara ofensif Iran di Selat Hormuz dalam 24 jam sebelum Apache jatuh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/928cb9929a6056b281c3998ba54db9a4-Iran_Drone_Warfare_136596495.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/05/ed773c0e181ff224e1bf28626c789482-20260305_NNN_Drone_Iran_mumed.png)
Sumber itu juga menyatakan Iran akan memberikan respons tegas jika musuh kembali melakukan permusuhan dengan menjadikan insiden helikopter tersebut sebagai alasan.
Tak lama setelah Trump menuduh Iran menembak jatuh Apache, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menulis di media sosial X bahwa Selat Hormuz berada ribuan mil dari pesisir AS.
”Pasukan asing yang berada di dekat wilayah kami terus-menerus menghadapi risiko akibat kesalahan manusia mereka sendiri, kecelakaan biasa, atau kemungkinan terjebak dalam baku tembak. Untuk mengurangi risiko, solusi terbaik adalah mereka pergi,” tulisnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/20/5fd12db645b0c57d17f44fb0fe2a42ac-IRAN_US_ISRAEL_WAR_137621808.jpg)
Serangan AS ke Iran dimulai pada Selasa pukul 17.00 waktu pantai timur AS atau Rabu (10/6/2026) pukul 04.00 WIB. ”Misi ini merupakan respons yang proporsional terhadap agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan,” tulis Centcom di media sosial.
Sejumlah sistem pertahanan udara dan radar Iran di sekitar Selat Hormuz menjadi sasaran serangan AS. Media Axios melaporkan hal itu dengan mengutip seorang pejabat AS.
Media pemerintah Iran, IRNA, melaporkan, ledakan terdengar di Pulau Qeshm di Selat Hormuz. Sebuah proyektil juga dipastikan menghantam kota pelabuhan Sirik.
Ledakan juga dilaporkan terdengar di Bandar Abbas dan kemudian di sekitar Kabupaten Jask, dekat pintu masuk Selat Hormuz. Media Iran mengutip sumber lokal dan warga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/27/d15b000c611bc6fc49b36658ee08ae6c-Iran_US_2_.jpg)
Sekitar satu jam setelah serangan dimulai, Press TV, mengutip lembaga penyiaran negara Iran, IRIB, melaporkan gelombang serangan AS di Iran selatan, terutama Provinsi Hormozgan, telah mereda. Namun, ledakan kemudian kembali terdengar di Jask, dan AS dilaporkan melancarkan gelombang serangan kedua.
Araghchi menyatakan serangan AS tidak akan dibiarkan tanpa balasan. ”Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak akan membiarkan satu pun serangan atau ancaman tanpa balasan,” tulisnya di X.
Pasukan asing yang berada di dekat wilayah kami terus-menerus menghadapi risiko akibat kesalahan manusia mereka sendiri, kecelakaan biasa, atau kemungkinan terjebak dalam baku tembak.
Araghchi menyatakan, pasukan Iran tidak akan membiarkan satu pun serangan atau ancaman tanpa balasan. ”Tinggalkan kawasan kami jika kalian ingin selamat,” tulisnya di X.
Sebelum serangan AS dilancarkan, Trump sempat menganggap jatuhnya Apache bukan kejadian serius. Ia mengatakan insiden itu bukan masalah besar dan kedua pilot selamat.
Namun, Trump dilaporkan berubah pikiran setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine merekomendasikan tindakan militer.
Menurut laporan media The Wall Street Journal, rekomendasi diberikan dalam pengarahan di Gedung Putih. Keduanya juga menyampaikan informasi terbaru tentang drone Shahed Iran yang menghantam Apache tersebut.
Sekitar dua jam setelah Apache jatuh, sebuah kapal permukaan nirawak milik Angkatan Laut AS menemukan kedua awak pada pukul 03.30 waktu setempat. Kapal itu membawa mereka ke lokasi lain di laut. Keduanya kemudian dijemput dengan helikopter.
Operasi tersebut merupakan penyelamatan pertama di laut oleh kapal nirawak yang diketahui pernah dilakukan militer AS. Kapal yang digunakan dalam penyelamatan adalah Corsair sepanjang 7,3 meter buatan Saronic Technologies. Kapal itu berada di bawah Task Force 59 Angkatan Laut AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/03/2aeec613300bd123f68b7bf6b404eac8-9609002.jpg)
Satuan yang dibentuk pada 2021 tersebut merupakan unit pertama Angkatan Laut AS yang berfokus pada sistem nirawak dan kecerdasan buatan (AI). Mereka bertugas untuk keamanan maritim di Timur Tengah, termasuk Selat Hormuz dan Terusan Suez.
Juru bicara Centcom, Kapten Tim Hawkins, semula mengatakan kapal itu membawa kedua awak ke darat. Ia kemudian mengoreksi keterangannya dan menyatakan keduanya dipindahkan ke lokasi lain di laut sebelum dijemput helikopter.
Apache menjadi salah satu aset penting AS dalam menjalankan blokade AS terhadap pengiriman minyak mentah dan kapal tanker Iran. Blokade itu digunakan untuk menekan Teheran agar menerima kesepakatan dengan Washington. Uni Emirat Arab juga menggunakan Apache untuk menembak jatuh drone Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/c9bf32e4f71b143de719fd494e7997f0-wires_photo.jpg)
Insiden tersebut terjadi sehari setelah Iran dan Israel kembali saling menyerang. Baku serang Israel-Iran merupakan yang pertama kali sejak gencatan senjata berlaku pada April. Televisi pemerintah Iran menyebut serangan Israel itu menewaskan sedikitnya dua anggota satuan pertahanan udara Iran.
AS dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Perang tersebut mengguncang perekonomian global, menaikkan harga energi, dan membuat berbagai kebutuhan pokok, termasuk pangan, semakin mahal.
Jatuhnya Apache dan serangan baru AS semakin menghambat upaya mengubah gencatan senjata menjadi kesepakatan permanen. Sebelum menuduh Iran menjatuhkan Apache, Trump mengaku optimistis kesepakatan dapat dicapai dalam waktu dekat.
”Kami memiliki peluang bagus untuk menandatangani kesepakatan dalam dua atau tiga hari,” kata Trump pada Senin malam. ”Kami sangat dekat untuk mendapatkan kesepakatan yang sangat, sangat baik, kuat, dan kokoh.”
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/3ca44ffa285f54c641db8fd979faeaa4-Trump.jpeg)
Trump tidak menjelaskan dasar optimismenya. Selama dua bulan sejak AS dan Iran menyepakati gencatan senjata awal, ia berulang kali mengatakan kesepakatan sudah dekat.
Pakistan menjadi perantara utama dalam perundingan tersebut. Namun, AS dan Iran masih mempertahankan tuntutan masing-masing. AS menuntut Iran menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya tinggi. Uranium itu diyakini terkubur akibat serangan udara AS selama perang 12 hari pada 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/f798163dfcb952f50f2d60bb5978604d-20260409_H01_KID_Gencatan_Senjata_Perang_mumed.jpg)
Sementara itu, Iran menolak tuntutan tersebut. Teheran meminta pencabutan sanksi dan pencairan aset yang dibekukan, bahkan sebelum kesepakatan akhir tercapai. Trump menolak permintaan itu.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf mengatakan, pernyataan Trump mengenai kemungkinan kesepakatan bertentangan dengan bagian-bagian yang telah disepakati. Menurut Qalibaf, pernyataan itu menunjukkan AS tidak menginginkan gencatan senjata ataupun dialog.
Di Lebanon, Israel terus menyerang kota pelabuhan Tyre di Lebanon selatan dan menewaskan sedikitnya delapan orang. Serangan itu menjadi yang paling mematikan di kota tersebut sejak pertempuran di Lebanon meletus pada awal Maret.
Video yang diverifikasi Reuters memperlihatkan puing-puing berserakan di jalan di lokasi serangan. Israel tidak pernah menghentikan operasi militernya di Lebanon. Operasi tersebut telah menewaskan ribuan orang
Penolakan Israel untuk menghentikan operasi terhadap Hizbullah menghambat upaya Trump mengubah gencatan senjata dalam perang AS-Israel dengan Iran menjadi kesepakatan permanen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/3a1e14234280224ef4b04d1f0dc57a6e-wires_photo_3_.jpg)
Teheran menyatakan, kesepakatan damai dengan Washington juga bergantung pada berakhirnya pertempuran di Lebanon.
Panglima Angkatan Darat Lebanon Jenderal Rodolphe Haykal berkunjung ke Pakistan pada Selasa. Ia bertemu Panglima Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir, salah satu tokoh penting dalam perundingan Iran-AS.
Kunjungan itu berlangsung ketika Pemerintah Lebanon meningkatkan tekanan terhadap Hizbullah. Namun, pemerintah belum mampu melucuti kelompok tersebut.
Hizbullah berterima kasih kepada Iran karena menyerang Israel untuk membela rakyat Lebanon. Kelompok itu juga meminta Pemerintah Lebanon memperbaiki hubungan dengan Teheran. (Reuters/AP/AFP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar