Shai Gilgeous-Alexander, Dari Pemain Buangan ke Puncak Dunia

Tujuh tahun seusai masuk NBA dan enam tahun seusai dibuang dari klub pertamanya, Shai Gilgeous-Alexander sukses menggapai puncak dunia dalam karier sebagai pebasket.

25 Jun 2025 16:55 WIB · Tokoh

Oleh Kelvin Hianusa

Shai Gilgeous-Alexander pernah datang ke Jakarta pada 2023 bersama tim Kanada. Dia masih berstatus bintang muda, belum di level saat ini. Namun, semua orang yang menyaksikannya sadar, Shai akan segera berdiri di puncak dunia. Dia punya aura bintang, jiwa kepemimpinan, dan kemampuan bola basket yang tidak terbantahkan.

Sekitar dua tahun setelah kunjungan ke Jakarta, seluruh mata dari penjuru dunia tertuju ke pemain Oklahoma City Thunder tersebut, yaitu tepatnya pada Senin (23/6/2025) WIB di Stadion Paycom Center. Shai berdiri di podium setelah mengantarkan Thunder menjadi juara NBA untuk pertama kali setelah relokasi pada 2008.

Ada dua trofi sekaligus di depan wajah guard 26 tahun itu. Satu adalah trofi juara. Satu lagi lebih kecil, yaitu trofi penghargaan individu Most Valuable Player (MVP) Final yang diberikan kepada Shai. Trofi mini itu adalah bentuk simbolis, penanda Shai merupakan pahlawan juara Thunder dalam seri final versus Indiana Pacers.

Sempurna. Hanya kata itu yang bisa menggambarkan pencapaian Shai di musim ini. Dia meraih banyak hal pertama dalam karier, mulai dari juara, MVP Final, MVP Final Wilayah Barat, sampai MVP dan pencetak skor terbanyak di musim reguler. Sepanjang sejarah NBA, tidak ada pemain lain yang bisa meraih semua itu dalam semusim.

Menariknya, Shai menggapai semuanya bersama skuad termuda di NBA. ”Pada akhirnya, itu akan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu musim terhebat yang pernah dicapai seorang pemain. Saya bangga menjadi rekannya. Dia selalu memikirkan tim, kemenangan, bukan tentang dirinya,” kata forward Thunder, Chet Holmgren.

Oklahoma City Thunder guard Shai Gilgeous-Alexander celebrates with his wife, Hailey Summers, and son Ares Alexander, after winning the NBA basketball championship with a Game 7 victory against the Indiana Pacers Sunday, June 22, 2025, in Oklahoma City. (AP Photo/Nate Billings)

Pelaut hebat tidak datang dari lautan yang tenang. Sama halnya dengan Shai di bola basket. Pemain kelahiran Toronto, Kanada, itu pertama kali masuk NBA pada 2018 dan bermain untuk Los Angeles Clippers. Mirisnya, dia hanya bertahan semusim di Clippers sebelum dibuang ke Thunder pada musim berikutnya.

Shai menjadi korban dari ambisi Clippers yang berniat mendatangkan pemain bintang Thunder, Paul George. Kepindahan itu menjadi pukulan hebat pertama dalam kariernya. Dia merasa hal itu tidak dibutuhkan. Namun, setelah berdamai, dia menjadikan rasa pahit tersebut sebagai motivasi untuk bertumbuh lebih baik.

Quote

Seperti Michael Jordan yang butuh sosok Scottie Pippen dalam dinasti juara Chicago Bulls, Shai pun demikian.

Musibah perlahan menjadi berkah. Shai ternyata pindah ke kolam yang tepat. Thunder dipimpin Sam Presti, manajer umum kawakan yang pernah ”menciptakan” trio James Harden, Kevin Durant, dan Russell Westbrook. Shai masuk dalam proyek baru Thunder yang diisi pelatih muda Mark Daigneault dan para pemain muda.

Keberuntungan terbesarnya di Thunder adalah bisa bermain bersama dengan guard legendaris, Chris Paul, pada musim 2019-2020. Shai belajar banyak dari pemain berjuluk ”Point God” itu. Dia selalu datang ke kondominium sang senior untuk mengobrol soal basket, berlatih bersama, hingga menonton liga divisi bawah.

Seperti Michael Jordan yang butuh sosok Scottie Pippen dalam dinasti juara Chicago Bulls, Shai pun demikian. Kebangkitan Shai dimulai setelah Thunder mendapatkan dua pemain muda, Holmgren dan Jalen Williams, dalam draft 2022. Trio itu terus meningkat setiap musim dan akhirnya menjadi fondasi juara Thunder musim ini.

Pencandu basket

Di angkatannya, Shai bukanlah bakat terbaik. Dia berada di bayang-bayang guard bertalenta, seperti Luka Doncic dan Trae Young, dalam malam draft. Kedua pemain itu terpilih jauh lebih awal sebelum Shai di urutan ke-11. Begitu pun ketika sedang menuju universitas. Dia berada di urutan ke-30 daftar peringkat pemain terbaik sekolah menengah atas.

Ibu Shai, Charmaine Gilgeous, merupakan pelari Olimpiade yang membela Antigua-Barbuda. Dia mendapatkan bakat atletis dari sang ibu, tubuh setinggi 1,98 meter dan rentang lengan sampai lebih dari 2,1 meter. Hal itu membuatnya sangat relevan di NBA yang membutuhkan pemain tinggi dengan lengan panjang.

Para suporter Oklahoma City Thunder bersorak selama babak kedua gim 7 Final NBA melawan Indiana Pacers 2025 di Paycom Center, Oklahoma City, Amerika Serikat, Senin (22/6/2025) wib. Laga kandang dan dukungan penuh suporter mengantarkan Oklahoma City Thunder menjnadi juara NBA 2025.

Namun, bakat fisik itu juga bukan yang terbaik. Daigneault, sang pelatih, berkata, Shai bukan atlet super seperti LeBron James ataupun Giannis Antetokounmpo. Anak asuhannya itu juga tidak secepat Ja Morant. ”Hebatnya, dia berada di satu lantai bersama para pemain itu. Semua itu memperlihatkan keterampilannya yang luar biasa,” ujarnya.

Keterampilan tidak dibawa dari lahir, tetapi bisa menonjol karena dilatih dengan gigih. Berbicara soal kegigihan untuk menjadi lebih baik, sulit mengalahkan Shai. Pemain yang mengidolakan sosok legendaris Kobe Bryant itu berprinsip, besok harus lebih baik dari hari ini. Prinsip itu diturunkan dari sang ibu dan dilakukan sejak kecil.

Berlatih di garasi

Shai pertama kali diajarkan bermain basket oleh ayahnya, Vaughn Alexander, di garasi rumah pada usia 10 tahun. Dia berlatih bersama sepupunya, Nickeil Alexander-Walker, yang sekarang menjadi pebasket NBA juga. Hobi itu baru mulai dilakukan dengan serius ketika masuk sekolah menengah pertama.

SGA, panggilannya, belum terlihat punya bakat tinggi saat 13 tahun. Dia masih di bawah 1,7 meter, cukup pendek di antara teman-temannya. Demi mengatasi itu, dia bekerja lebih keras daripada yang lain. ”Saya selalu cepat mempelajari sesuatu. Jadi saya berusaha menyerap banyak hal dan menjadi lebih baik secepat mungkin,” katanya.

Shai selalu berangkat ke sekolah setiap pukul enam pagi, dua setengah jam sebelum kelas dimulai. Saat anak-anak lain masih tidur, dia sudah berlatih di lapangan sekolah. Pelatih pertamanya, Dwayne Washington, berkata, Shai selalu tertarik mempelajari hal baru. Dia membawa catatan kecil saat berlatih untuk menulis teori dari sang pelatih.

Quote

Rasanya itu seperti saya kecanduan menjadi lebih baik.

Berkat kerja keras itu, Shai berkembang pesat. Dia bisa menghadapi pemain tinggi dengan banyak cara, mulai dari akselerasi dan deselerasi kecepatan untuk mencari ruang hingga mencari pelanggaran. Peningkatan keterampilannya beriringan dengan tinggi badannya. Shai tiba-tiba mencapai hampir 1,9 meter pada kelas satu SMA.

Guard Kanada Shai Gilgeous-Alexander (kiri) melewati forward Perancis Terry Tarpey dalam laga penyisihan grup H Piala Dunia FIBA 2023 di Stadion Indonesia Arena, Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (25/8/2023). ***Canada guard Shai Gilgeous-Alexander (2) passes around France forward Terry Tarpey (22) during the Basketball World Cup group H match between France and Canada at the Indonesia Arena stadium in Jakarta, Indonesia, Friday, Aug. 25, 2023. (AP Photo/Dita Alangkara)

Sikap dan karakter pejuang itu tetap terjaga sampai saat ini, yaitu setelah menjadi megabintang NBA. Setiap akhir musim, dia selalu pulang ke kampungnya untuk berlatih mandiri. Dia berlatih sejak pagi bersama pelatih pribadi dan rekan-rekan semasa SMA di Hamilton, Ontario, untuk menyiapkan gerakan baru.

”Rasanya itu seperti saya kecanduan menjadi lebih baik. Saya sudah berhasil mencapai sejauh ini dengan bekerja sekeras mungkin. Saya mungkin bisa bermain sepuluh tahun ke depan jika beruntung. Jadi, mengapa tidak memberikan yang terbaik lagi untuk sepuluh tahun ke depan dan lihat apa yang terjadi,” ucap Shai tentang pola pikirnya.

Shai mengajarkan, bakat saja tidak cukup jika ingin menjadi terbaik dari yang terbaik. Komitmen, haus ilmu, dan kegigihan dibutuhkan untuk berada di titik tertinggi. Hanya dengan itu, kelemahan bisa menjadi kelebihan. Musibah bisa menjadi berkah terselubung. Pengubah nasib terbaik adalah diri sendiri. (AP)

 

Shai Gilgeous-Alexander

Lahir: Toronto, Kanada, 12 Juli 1998

Klub:

  • Los Angeles Clippers (2018-2019)
  • Oklahoma City Thunder (2019-sekarang)

Prestasi:

  • Juara NBA 2024-2025 (bersama Thunder)
  • MVP Final 2024-2025
  • MVP Final Wilayah Barat 2024-2025
  • MVP musim reguler 2024-2025
  • Pencetak skor terbanyak musim reguler 2024-2025
  • Tim All-NBA (3 kali)
  • Tim All-Star (3 kali)

Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Moh. Hilmi Faiq
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar