Perusahaan yang membuka SPBU pertamanya di Indonesia pada 2005 ini mengalihkan hak lisensi merek dagang BBM-nya kepada perusahaan patungan global.
24 Mei 2025 21:13 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — PT Shell Indonesia memutuskan untuk menjual seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU mereka kepada perusahaan patungan terafiliasi asing. Aksi korporasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai profitabilitas penjualan bahan bakar minyak oleh perusahaan energi raksasa global ini di Indonesia.
Vice President Corporate Relations Shell Indonesia Susi Hutapea, dalam keterangannya kepada pers, Jumat (23/5/2025), menjelaskan aksi korporasi penjualan SPBU kepada Shell Citadel Pacific Limited dan Sefas Group. Obyek yang dijual adalah lisensi hak guna merek Shell dalam bisnis Mobility Indonesia, yang mendistribusikan produk BBM Shell.
”Perjanjian lisensi mengizinkan penerima lisensi untuk menggunakan merek Shell sesuai dengan standar Shell di wilayah tersebut. Hal ini memungkinkan penerima lisensi untuk mendapatkan keuntungan dari nilai merek,” jelas Susi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/20/a285ab6c-857d-4b41-9ea8-ba7953742edc.jpg)
Dengan perjanjian itu, kegiatan operasional di jaringan SPBU Shell Indonesia tidak akan berubah, termasuk produk yang dijual hingga sumber daya manusia. Perusahaan yang hadir sejak 2005 itu telah memiliki sekitar 200 SPBU di empat provinsi, yaitu Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur. SPBU Shell menjual BBM nonsubsidi, seperti RON 92, RON 95, RON 98, dan diesel CN51.
”Shell tetap berkomitmen untuk menjalankan kegiatan operasional yang aman dan andal,” tuturnya.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, saat dihubungi Kompas, Sabtu (24/5/2025), melihat, aksi ini murni strategi yang bertujuan mengoptimalkan keuntungan bisnis.
Pelepasan kepemilikan SPBU dari Shell ke perusahaan swasta lain dalam bentuk penjualan lisensi ini, menurut dia, dapat berarti bisnis BBM kurang potensial dibanding bisnis lain Shell.
Apalagi, pangsa pasar anak usaha Shell Plc ini kecil, karena hanya menguasai 2,5 persen jaringan SPBU dari total 8.000-an SPBU milik Pertamina dan beberapa perusahaan swasta lain di seluruh Indonesia.
"Bisnis BBM yang pangsa pasarnya enggak besar dan intervensi regulasi pemerintahnya cukup kuat, mereka ukur sebagai tantangan bisnis. Kalau dikatakan profit atau tidak, mungkin tetap profit. Tapi, dibandingkan portofolio lain, (bisnis) ini bisa jadi ada di rangking bawah,” jelasnya.
Dibandingkan dengan bisnis hulu dalam rantai pasok BBM di Indonesia, penjualan BBM di hilir ke ritel, menurutnya, tidak memberikan keuntungan besar. Hal ini karena harga jual BMM diatur pemerintah untuk mendukung daya beli masyarakat.
”Margin penjualan BBM sangat tipis di kisaran Rp 200-Rp 150 per liter, tinggal dikalikan volume yang dijual. Kalau volumenya enggak banyak, untuk menutup biaya operasional saja enggak cukup,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/11/3d3f98e2-5aa6-4b0d-86fc-9a4346b00fd5.jpg)
Sementara itu, penjualan lisensi merek oleh Shell ini tidak akan berpengaruh banyak pada kualitas operasional dan layanan BBM Shell, mengingat stok BBM masih akan bersumber dari Shell. Komaidi juga menilai perusahaan joint venture (JV) yang membeli lisensi SPBU Shell sudah berpengalaman.
”Pihak JV yg akan mengakusisi SPBU Shell sudah membeli lisensi Shell di beberapa negara. Jadi, saya kira, ini bukan kerja sama baru, melainkan kerja sama lain yang diperluas,” ujarnya.
Salah satu perusahaan JV, Citadel Pacific Ltd, diketahui merupakan perusahaan swasta asal Filipina, yang bergerak di banyak bidang, seperti telekomunikasi, ritel, distribusi minyak dan gas, properti, katering dalam penerbangan, dan layanan tenaga kerja. Dikutip dari laman resminya, perusahaan ini beroperasi di berbagai negara, termasuk Hong Kong, Makau, Wilayah AS Guam, dan Filipina.
Adapun perusahaan lainnya, Sefas Group adalah perusahaan Indonesia yang didirikan dan dimiliki Herman Soegeng dan Ricky Roesli. Perusahaan yang berasal dari Kalimantan Timur ini, menurut laman resminya, telah berpengalaman dalam mendistribusikan produk pelumas Shell Marine di banyak negara dan produk kimia otomotif melalui PT Blue Coolant Indonesia.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase