Tahun baru, pelatih baru. PSSI mengumumkan penggantian pelatih timnas sepak bola Indonesia, Shin Tae-yong, setelah gagal berprestasi di Piala AFF 2024.
06 Jan 2025 15:54 WIB · Riset
Tim nasional Indonesia tak lagi ditangani pelatih Shin Tae-yong setelah tahun baru 2025. Performa Timnas Indonesia yang tersisih di babak penyisihan grup Piala ASEAN 2024 atau Piala AFF 2024 menjadi sorotan atas kinerja pelatih asal Korea Selatan tersebut.
Shin Tae-yong ditunjuk PSSI sebagai pelatih tim nasional sepak bola Indonesia pada Desember 2019. Meski demikian, Shin Tae-yong baru resmi menakhodai timnas pada pertandingan kualifikasi Grup G Piala Dunia 2022 Zona Asia pada Juni 2021.
Bersama timnas Indonesia, Shin Tae-yong menjalani tiga laga tersisa di kualifikasi tersebut. Saat itu, Indonesia belum memiliki tabungan nilai baik dari hasil kemenangan maupun hasil imbang di babak kualifikasi Grup G Piala Dunia 2022 Zona Asia tersebut.
Debut perdana Shin Tae-yong bersama timnas terjadi saat melawan Thailand pada 3 Juni 2021 di Dubai, Uni Emirat Arab. Indonesia bermain seri dengan Thailand dengan skor 2-2. Hasil imbang ini membuat timnas meraih poin pertama, yang sebelumnya selalu kalah di lima laga Grup G.
Namun, di dua laga tersisa melawan Vietnam dan Uni Emirat Arab, timnas Indonesia mengalami kekalahan. Dengan hasil ini, Indonesia hanya berhasil meraih satu poin dan berada di peringkat paling bawah Grup G Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia.
Minimnya prestasi menjadi tantangan berat yang dialami Shin Tae-yong pada awal-awal masa kepelatihannya. Shin Tae-yong menjalani laga uji coba bersama Timnas U-19 Indonesia dalam pemusatan latihan di Krosia.
Pada laga uji coba perdananya pada 5 September 2020, Indonesia kalah dari Bulgaria dengan skor 0-3. Timnas Indonesia U-19 juga takluk atas timnas Kroasia U-19 dengan skor 7-1 pada laga uji coba Selasa (8/9/2020).
Kekalahan beruntun juga dialami timnas Indonesia yang diterjunkan pada Kualifikasi Grup G Piala Dunia 2022 Zona Asia. Sebelum menjalani laga kualifikasi, timnas Indonesia melakukan uji coba dengan Afghanistan dan Oman di Uni Emirat Arab. Hasilnya, timnas asuhan Shin Tae-yong juga mengalami kekalahan beruntun dalam laga uji coba saat berhadapan dengan Afghanistan (2-3) dan Oman (1-3) pada Mei 2021.
Namun tak selalu kalah, timnas muda Indonesia U-19 juga menunjukkan tren perbaikan dengan meraih kemenangan 4-1 atas Macedonia Utara U-18 dalam laga uji coba di Stadion Gradski Sinj, Kroasia (11/10/2020) dan menang 4-0 atas Hajduk Split, tim pemuncak klasemen Liga Kroasia (20/10/2020).
Shin Tae-yong baru menjalani turnamen perdananya sebagai pelatih timnas Indonesia pada Piala AFF 2020. Pada turnamen ini, prestasi timnas Indonesia bersama Shin Tae-yong ialah menjadi runner-up Piala AFF 2020.
Prestasi lain yang diraih timnas Indonesia pada masa kepelatihan Shin Tae-yong ialah meraih medali perunggu SEA Games 2021, runner-up Piala AFF U-23 2023, babak 16 besar Piala Asia 2023, peringkat keempat Piala Asia U-23 2024 sekaligus lolos ke Piala Asia 2027.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/25/0378835e-61f0-4a2d-bed4-6a73804ec838_png.png)
Regenerasi pemain muda menjadi visi kepelatihan Shin Tae-yong dengan fokus jangka panjang. Tak heran, jika Shin Tae-yong selalu melakukan peremajaan tim. Untuk menyambut Piala AFF 2020, Kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022 ataupun Piala Dunia U-20 2021, Shin Tae-yong banyak memasukkan pemain muda dengan usia rata-rata pemain 23,8 tahun.
Sejumlah nama pemain muda yang diangkut Shin Tae-yong, antara lain, Asnawi Mangkualam, Nadeo Argawinata, Pratama Arhan, Irfan Jaya, dan Egy Maulana Fikri. Dengan rata-rata usia 23,8 tahun, skuad yang dibawa Shin Tae-yong di Piala AFF 2020 ini lebih muda dibandingkan tim Indonesia sebelumnya yang dikirim ke Piala AFF 2020 dan Piala AFF 2016 yang rata-rata berusia di atas 25 tahun.
Pilihan pada masa depan timnas dengan pemain muda kembali dipilih Shin Tae-yong pada ajang Piala ASEAN Mitsubishi Electric 2024 atau Piala AFF 2024. Indonesia menjadi tim termuda dalam gelaran Piala AFF tahun 2024 dengan rata-rata usia pemain 20,9 tahun. Meski demikian, pilihan menurunkan pemain dengan rata-rata usia di bawah 22 tahun ini memiliki aspek kelemahan dalam hal pengalaman bertanding.
Dalam persaingan dengan timnas dengan negara lain yang mengandalkan tim senior, timnas ”Garuda Muda” masih harus mengakui keunggulan tim-tim negara lain, seperti Vietnam, Laos, dan Filipina. Meski demikian, Shin Tae-yong telah mewariskan sederet pemain muda sesuai dengan visi regenerasi jangka panjang yang diusung meski dengan risiko minim prestasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/04/30/c41338d9-6c4c-4729-9878-2873de1f9333_jpg.jpg)
Bukan hanya Shin Tae-yong, sebanyak 19 pelatih asing sudah menangani tim nasional sejak awal kemerdekaan. Sebagaimana Shin Tae-yong, pasang surut prestasi menjadi tantangan bagi para pelatih asing tersebut.
Pada awal kemerdekaan, ada dua pelatih asing pernah menangani timnas Indonesia, yakni Choo Seng Quee dari Singapura (1951-1953) dan Toni Pogacnik dari Yugoslavia (1954-1964). Choo Seng Quee berhasil membawa Timnas Indonesia hingga babak perempat final Asian Games I yang digelar di New Delhi 1951.
Adapun Pogacnik berhasil membawa timnas Indonesia menembus semifinal Asian Games 1954 di Manila. Empat tahun kemudian, timnas Indonesia berhasil meraih medali perunggu di Asian Games 1998 Tokyo.
Timnas besutan Pogacnik itu juga sempat mengejutkan di ajang Olimpiade 1956 dengan melaju hingga babak perempat final. Pogacnik kemudian mundur setelah gagal mencapai target medali di ajang Asian Games 1962 (Kompas.id 16/6/2021).
Jejak pelatih asing berlanjut pada masa Orde Baru mulai dari Anatoli Polosin hingga Simon McMenemy dan Shin Tae-yong. Meski demikian, tidak semua pelatih mampu mempersembahkan prestasi gemilang sebagaimana yang ditorehkan Pogacnik. Dua nama yang juga menorehkan jejak prestasi ialah Anatoli Polosin pada masa Orde Baru.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/11/48809d09-c582-4405-853e-36ff2a764ea6_png.png)
Anatoli Polosin yang melatih pada era 1987-1991 sukses mempersembahkan medali perunggu di SEA Games 1989 dan medali emas bagi Indonesia di ajang SEA Games 1991. Pelatih lain yang juga tercatat berhasil meraih prestasi ialah Wiel Coerver dari Belanda yang merebut medali perak SEA Games 1979, Bernd Fischer dari Jerman yang mendapat medali perunggu SEA Games 1981, dan Henk Wullems dari Belanda dengan prestasi medali perak SEA Games 1997.
Selain itu, ada nama Bernard Schumm yang mempersembahkan medali perunggu di ajang SEA Games 1999 dan Ivan Kolev yang berhasil membawa timnas lolos ke babak final Piala AFF 2002 dan keluar sebagai runner-up.
Selanjutnya, Peter Withe dari Inggris yang mendampingi timnas di ajang Piala Tiger 2004 atau Piala AFF 2004 dan berhasil melaju hingga ke partai final. Prestasi serupa juga ditorehkan Afred Riedl dengan membawa timnas hingga babak final Piala AFF 2010.
Sederet nama pelatih asing pernah menjadi arsitek timnas Indonesia. Nama-nama pelatih itu memiliki rekam jejak dan prestasi di kancah sepak bola dunia. Melihat pasang-surut prestasi pelatih-pelatih dunia tersebut, keberadaan pelatih asing ini perlu diimbangi dengan kualitas pemain dan kompetisi sepak bola yang profesional. Tanpa asupan pemain dan liga berkualitas, tantangan berat akan selalu dihadapi pelatih sepak bola nasional. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Andreas Yoga PrasetyoEditor:
Yohan WahyuInfografik:
Dicky Indratno, Gunawan Kartapranata