Selain kerapan, Madura juga punya tradisi kontes sapi sonok. Sapi betina nan cantik untuk menjaga kemurnian sapi Madura.
05 Jul 2024 07:30 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/02/19/748cc81b-1626-459b-8449-46d4aeed7863_jpg.jpg)
Sapi menjadi simbol status warga di Madura. Dalam kultur setempat, semegah apa pun rumah seseorang, sementereng apa pun jabatannya, tetapi jika tak punya sapi, dia belum dianggap tajir melintir. Labih dari itu, bagi warga Madura, sapi adalah daya hidup mereka.
Lapangan Desa Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Sabtu (27/4/2024), ramai dipadati warga. Semarak suasana kontes sapi sonok di tempat itu begitu terasa.
Sapi sonok merupakan sebutan bagi sapi madura betina yang memiliki postur tubuh yang indah, dengan bulu yang halus mengilat. Sekitar 60 pasang sapi betina dari sejumlah daerah di Madura diikutsertakan dalam kontes rutin yang digelar oleh paguyuban sapi sonok kabupaten setempat itu.
Seakan menari, kaki-kaki pasangan sapi betina itu melangkah perlahan mengikuti alunan musik tradisional khas Madura. Sambil maju perlahan, para joki memegang tali kekang panjang. Mereka mengendalikan laju pasangan sapi di depannya agar tetap berada di jalur sepanjang 22 meter sejak garis awal sampai garis akhir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/10/10897138-e9b4-4ce6-8d86-03e428c4e600_jpg.jpg)
Sesampai di garis akhir, sapi-sapi itu berhenti. Kaki depannya kemudian menapak di atas balok kayu, di mana sang pemilik sudah menunggu di situ. Sapi betina dengan hiasan di tanduk, kening, leher, hingga kaki itu pun terlihat semakin memesona.
”Saya selalu datang tiap ada kontes,” ujar Fayas (23), peserta asal Desa Kecer, Kecamatan Dasuk, Sumenep, yang tengah sibuk memasang selop, hiasan berbentuk kerucut mengilap di ujung tanduk. Hari itu, Fayas membawa dua dari tiga pasang sapi sonok miliknya.
Saat kontes, Fayas turun sebagai joki. Mengenakan topi ala ”koboy” lengkap dengan pin sheriff, sarung, dan kemeja batik, beberapa kali tangannya melambaikan gerakan tari. Penampilan dia cukup berbeda dibandingkan dengan peserta lain yang kebanyakan telah berusia paruh baya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/10/3fbcb42b-93aa-4e85-b050-694b24187b9c_jpg.jpg)
Meski peserta dalam kontes itu hanya mendapatkan kenang-kenangan berupa sarung atau baju, semangat mereka tetap menyala. Pemilik menampilkan sapi-sapi tercantik yang dipunyai. Bahkan, untuk mengiringi ketika sapinya diarak mengelilingi lapangan, di antara mereka ada yang membawa saronen atau alat musik tiup khas Madura, serta perangkat gamelan.
”Yang utama bukan hadiahnya. Tetapi, kalau sudah tampil puas. Rasanya, wah, bangga,” tutur Mad Darno (44), peserta asal Desa Bantelan, Kecamatan Batuputih. Hari itu ia membawa dua pasang sapi, masing-masing bernama ”Luna Maya” dan ”Dua Bidadari”.
Hadiah yang tidak sebanding dengan pengeluaran untuk merawat dan mempersiapkan sapi untuk ikut kontes itu, bagi Mad Darno tidak jadi soal. Untuk datang ke lokasi kontes, dia mengeluarkan dana di atas Rp 2 juta. Uang itu untuk ongkos transportasi hingga konsumsi anggota tim selama kontes.
”Kalau sudah senang, berapa pun biaya yang harus dikeluarkan tidak jadi masalah,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/10/7a11fc08-7999-4d3a-9d0d-7937fafa71c1_jpg.jpg)
Tak seperti sapi biasa, pemilik harus mengeluarkan biaya ekstra untuk merawat sapi-sapi seksi itu. Setiap hari mereka harus dimandikan dan dijemur agar bulunya halus dan mengilat serta dilatih berjalan. Pakan yang menyehatkan juga musti diperhatikan.
Baca juga: 48 Jam Terkungkung Bersama Sapi-sapi dari Banyuwangi Sampai Jabotabek
Satu lagi yang tidak bisa diabaikan, sapi-sapi itu juga ditempatkan di kandang bagus. Seperti sapi milik Alif Suhaimi di Desa Waru Barat, Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan. Kandang sapi di samping rumah Suhaemi telah dikeramik dan kondisinya bersih. Di bagian depan terdapat tempat untuk berjemur.
Suhaimi yang menjadi Ketua Paguyuban Sapi Sonok Madura mengatakan, sapi sonok punya kriteria unggul, seperti postur tubuh tinggi, kepala mancung, dan tanduk berbentuk huruf ”U”. Ibarat orang, sonok merupakan peragawati yang punya tubuh bagus. Pun dengan cara berjalannya.
Calon sonok sudah terlihat sejak sapi baru lahir. Si pemilik biasanya langsung tahu dan merawat. Ketika umurnya bertambah, sapi itu terlihat semakin berbeda dengan sapi biasa.
”Sonok adalah upaya pelestarian sapi madura murni biar tidak punah. Mereka memelihara sonok supaya dapat keturunan yang bagus. Saat ini populasinya ada ribuan ekor,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/27/616827b8-1052-4f01-9d7b-4521b5505c12_jpg.jpg)
Suhaimi memiliki enam sapi sonok. Salah satu sapi yang dia beli seharga Rp 65 juta telah ditawar orang Rp 200 juta, tetapi tidak diberikan. Padahal, harga indukan sapi biasa saat ini ada di kisaran Rp 25 juta per ekor.
Memelihara sonok, bagi orang Madura, merupakan wujud menjaga kebudayaan. Di daerah setempat, sapi tidak hanya sekedar bisnis semata, tetapi juga kebanggaan dan simbul status sosial. Oleh karena itu, kabanyakan warga di daerah itu memelihara sapi.
Keberadaan kontes sapi sonok juga memiliki sejarah panjang. Suhaimi menuturkan, festival atau kontes sonok berasal dari Desa Dempoh, Kecamatan Pasean, sekitar tahun 1960-an. Kala itu Kepala Desa Dempoh membuat hiburan seusai panen dengan menampilkan sapi sonok. Untuk menyelenggarakannya, dibuat perkumpulan. Lambat laun, sekitar tahun 1970 ada campur tangan pemerintah daerah dengan menggelar lomba dan kontes sapi sonok.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/10/0adfc3ad-b829-4e3f-8f55-25008e0cf755_jpg.jpg)
Sayangnya, ketika lomba diselenggarakan, justru sering berujung pada pertengkaran. Akibatnya, ajang ini sempat vakum selama beberapa waktu hingga kemudian ada keinginan oleh pemerintah daerah agar dihidupkan lagi.
”Sejak 1999-2000, almarhum bapak saya dan tokoh lain dipanggil oleh Bupati Pamekasan, disuruh ngadainevent lagi. Bapak bilang, ya udah dikonteskan saja lagi, tidak usah lomba. Akhirnya sejak tahun 2000 tidak ada lomba, kecuali kontes. Dalam kontes, semua peserta dapat hadiah,” tuturnya.
Kontes sempat berkurang saat penyakit mulut dan kuku (PMK) merebak beberapa waktu lalu. Namun, pada pertengahan 2023, kegiatan massal sudah mulai merangkak lagi sampai sekarang.
”Saat pandemi Covid-19 tidak terlalu berpengaruh. Justru waktu PMK itu pengaruhnya besar. Sempat drop. Banyak sapi mati. Ada yang harga Rp 200 juta sepasang mati. Event pun jarang dilakukan karena khawatir tertular virus. Setelah isu PMK mereda, 2-3 bulan kemudian baru aktif lagi,” ujar Kepala Desa Pasongsongan Hariyanto.
Sonok sendiri merupakan salah satu event melibatkan sapi sebagai bintang di Madura, selain kerapan dan taccek. Taccek hampir mirip sonok, kecuali jumlah sapi. Jika sonok ada sepasang sapi yang dikaitkan menggunakan pangonong atau ukiran kayu di leher, taccek hanya satu ekor sapi yang ditautkan pada dua buah tiang.
Sementara kerapan lebih mengutamakan adu kecepatan berlari oleh sepasang sapi jantan. Kerapan sendiri telah lama menjadi ikon Pulau Garam. Sapi yang menang dalam kerapan harganya bisa sangat mahal, melebihi sapi sonok lantaran statusnya juara.
Jika sonok acap diselenggarakan di Pamekasan dan Sumenep, kerapan lebih banyak digelar di Bangkalan dan Sampang. Kerapan sapi juga telah ditetapkan menjadi gelaran tahunan berupa Piala Presiden. Kegiatan terakhir diselenggarakan pada Oktober 2023 di Stadion Kerapan Sapi Raden Panji Mohammad Noer di Bangkalan. Pesertanya berasal dari empat kabupaten di Madura.
Selama ini, sapi-sapi kerapan banyak di datangkan dari Pulau Sapudi yang berada di sisi timur Madura daratan. Sejak zaman kolonial, Sapudi telah menjadi pemasok utama sapi karapan ke Madura. Sapudi juga terkenal sebagai lokasi pemurnian sapi-sapi Madura.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/0a8f9bb9-0cb7-4055-908c-20f9e0d5e2b3_jpeg.jpg)
Ketua Pusat Riset dan Pengembangan Sapi Madura Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Andrie Kisroh Sunyigono memaparkan, proses pembibitan sapi jantan untuk kerapan ada di Sapudi. Kalau sudah dibawa ke Madura daratan tidak bisa lagi menghasilkan bibit sapi karapan yang bagus.
”Selalu dari Sapudi. Apa alasannya? belum diteliti. Biasanya untuk kebutuhan kerapan mereka bawa kapal sendiri, membawa uang miliaran rupiah untuk mencari bibit di Sapudi. Nanti dibawa ke Madura sudah siap ditandingkan. Mereka, istilahnya, hanya memelihara agar siap tanding saja. Tetapi, proses melahirkan dan sebagainya dari Sapudi,” ucapnya.
Di Madura sendiri ada dua kelompok besar sapi, yakni sapi yang terjaga kemurniannya dan sapi yang telah melalui perkawinan silang karena alasan bisnis/daging.
Selain Sapudi, kawasan yang menjadi lokasi pemurnian sapi ada di Pamekasan sisi utara. Ada empat kecamatan, yakni Pasean, Pakong, Batumarmar, dan Waru (Papabaru), menjadi kawasan pemurnian sapi Madura.
Masyarakat yang senang sonok dan karapan menjadi faktor utama dalam menjaga kemurnian sapi Madura.
Hal itu dikuatkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian dan Peraturan Bupati Pamekasan. Di tempat itu tidak boleh ada sapi non-Madura masuk. Juga tidak boleh ada inseminasi buatan menggunakan semen dari sapi lain.
Baca juga: Inseminasi Buatan Teknologi Meningkatkan Kualitas Sapi Nasional
Sementara untuk kebutuhan daging, karena ukuran sapi Madura rata-rata kecil 200-300 kilogram, maka digulirkan strategi perkawinan silang dengan sapi lain. Perkawinan silang lebih maksimal hasilnya dibandingkan dengan penggemukan. Lokasinya ada di daerah Pandemawu di Pamekasan selatan.
Di luar sapi untuk kebutuhan konsumsi, keberadaan kontes sonok dan kerapan membuat sapi Madura tetap lestari. ”Masyarakat yang senang sonok dan karapan menjadi faktor utama dalam menjaga kemurnian sapi Madura,” ucapnya.
Andrie yang juga dosen Program Studi Agribisnis UTM mengatakan, dua tahun terakhir pihaknya bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Pamekasan membuat perangkat lunak Sistem Informasi Recording Sapi Madura (Sirosida), serta membagikan surat keterangan layak bibit kepada peternak.
”Kami data sapi sonok dan sapi unggul yang dapat keterangan layak. Sekarang lebih dari 3.000 ekor karena pendataan masih terus belangsung. Spesies sapi Madura telah mendapatkan pengakuan oleh pemerintah pusat sebagai plasma nuftah lokal nasional,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/19/57f2232a-db8d-4549-96db-5532078912eb_jpg.jpg)
Selain itu, tiga tahun terakhir UTM juga bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) mendapatkan hibah matching fund dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi. Tahun ini fokusnya pengembangan pakan sapi, yakni strategi guna menangani kendala pakan yang ada bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pamekasan.
Masa reproduksi sapi Madura lama, salah satunya karena daerah habitatnya kering. Kondisi rumput yang jadi pakannya juga kering saat kemarau.
”Kita coba cari formula untuk meminimalisir kendala. Nantinya, kita coba juga sampai ke hilirisasi dan produksi. Sebelumnya, masalah yang ditangani terkait inbreeding (perkawinan kerabat) sehingga sapi-sapi yang hidup di pulau-pulau kecil itu bisa bereproduksi dengan baik,” katanya.
Badan Pusat Statistik sendiri mencatat, secara keseluruhan ada 1.095.817 ekor (2022) sapi di Madura, terdiri 28 sapi perah dan 1.095.789 sapi potong. Populasi sapi potong terbesar ada di Sumenep 381.104 ekor, disusul Bangkalan 272.052 ekor, Sampang 246.735 ekor, dan Pamekasan 195.898 ekor.
Hingga kini, sapi seolah telah menjadi napas hidup orang Madura. Selain membantu sang empunya bekerja, menjadi sumber ekonomi dan protein hewani, sapi juga menjadi kebanggaan hingga status sosial. Keberadan sapi madura melampaui zaman karena dibarengi upaya pelestarian plasma nuftah yang ada, serta pelestarian menggunakan pendekatan kebudayaan.
Penulis:
DEFRI WERDIONOEditor:
CHRISTOPERUS WAHYU HARYO PRIYO, SIWI YUNITA CAHYANINGRUM