Penentuan awal Ramadhan selalu ditunggu umat Islam di Indonesia. Sukacita menyambut bulan suci yang penuh berkah.
28 Feb 2025 14:30 WIB · Riset
Kementerian Agama menggelar sidang isbat sebagai penetapan awal Ramadhan 1446 Hijriah pada 28 Februari 2025. Di mesin pencari Google, informasi menggunakan kata ”sidang isbat” sudah banyak dicari warganet Indonesia. Dari rentang skala 0-100, Google Trends menangkap puncak pencarian (skor 100) informasi tentang sidang isbat terjadi pada 28 Februari 2025 pukul 11.56.
Titik pencarian tertinggi ini menjadi salah satu indikasi besarnya antusiasme warganet saat ini. Informasi yang dicari adalah pukul berapa sidang isbat akan dimulai dan apa hasil sidang isbat tersebut.
Dari laman Kemenag, sidang isbat hari ini akan memiliki tiga agenda, yakni pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi, kemudian verifikasi hasil rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di Indonesia, serta musyawarah dan pengambilan keputusan yang akan diumumkan kepada masyarakat.
Di era teknologi digital saat ini, pengumuman hasil sidang isbat semakin mudah didistribusikan kepada masyarakat. Kemajuan teknologi membuat informasi sidang isbat penetapan awal Ramadhan mengalir dari kanal-kanal media, mulai dari koran, televisi, radio, portal berita, media digital, hingga media sosial, seperti Youtube, X, Instragram, dan Tiktok.
Kondisi ini berbeda dengan masa lalu, di mana teknologi belum berkembang pesat. Di era kolonial, misalnya, pengumuman awal Ramadhan masih dilakukan dengan alat komunikasi sederhana, seperti beduk, gong, atau tembakan meriam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/12/98724b48-6a2f-45b7-9268-b2b33dcbb8a9_jpg.jpg)
Peneliti dari Belanda, Snouck Hurgronje, dalam laporannya yang diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Orang Aceh: Budaya, Masyarakat, dan Politik Kolonial (2019) menyebutkan, pengumuman awal Ramadhan dilakukan pemerintah melalui tabuhan beduk atau tembakan meriam. Selain itu, duta dari kesultanan juga turut membantu pengumuman melalui pemukulan gong.
Pengumuman ini benar-benar dinantikan masyarakat Aceh saat itu pada sekitar tahun 1800. Bahkan, persiapan untuk puasa telah dilakukan beberapa hari sebelum memasuki bulan Ramadhan. Dalam catatannya, Hurgronje menjelaskan terdapat dua cara yang digunakan umat Islam di Aceh untuk menentukan awal bulan Ramadhan. Kedua metode itu adalah hisab dan rukyat.
Hurgronje juga menguraikan pemerintah kolonial saat itu turut memberikan fasilitas untuk penetapan awal Ramadhan. Anak-anak Aceh saat itu juga diberikan keistimewaan untuk tidak melakukan banyak aktivitas agar maksimal menjalankan ibadah puasa. Masyarakat Aceh juga memiliki tradisi Meugang, yaitu hari penyembelihan hewan sapi atau kerbau dalam menyambut bulan Ramadhan. Tradisi ini sudah ada sejak abad ke-17 (Kompas.id, 22/4/2023).
Artikel Kompas.com mengutip wawancara dosen sejarah UIN Raden Mas Said Surakarta, Martina Safitry (13/5/2019), yang mengungkapkan penetapan awal puasa di era kolonial Belanda dilakukan oleh Perhimpunan Penghulu dan Pegawainya (PPDP). Hal ini tidak terlepas dari tugas penghulu yang memiliki fungsi sebagai pemimpin agama dan penasihat agama sejak masa Kerajaan Islam hingga pemerintah kolonial. Di era kolonial, ada istilah kepala penghulu atau hoofd penghoeloe yang menjadi bagian dari birokrasi pemerintah Belanda.
Dalam perkembangannya, pada era Indonesia Merdeka, tugas ini dilakukan Kementerian Agama. Pada 1972, Menteri Agama membentuk Badan Hisab dan Rukyat (BHR). Badan ini bertugas melakukan hisab dan rukyatul hilal untuk menetapkan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah hingga saat ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/28/5ed7b3d3-5e46-4d66-b489-6f5ddb7d4c3e_jpg.jpg)
Datangnya bulan Ramadhan juga menghadirkan sejumlah tradisi masih terus berkembang dan mewarnai kegiatan masyarakat menyambut bulan puasa di Indonesia, seperti dhandhangan, dugderan, dan ruwahan. Tradisi dhandhangan berasal dari Kudus, Jawa Tengah. Tradisi ini berawal dari keramaian masyarakat yang mendatangi kompleks Masjid Menara untuk mendengarkan penjelasan saat puasa dimulai dari Sunan Kudus.
Setelah diumumkan dan beduk ditabuh, mereka tetap tinggal di masjid hingga menjelang sahur. Kesempatan berkumpulnya warga tersebut dimanfaatkan pedagang menggelar aneka kebutuhan untuk makan sahur ataupun berbuka puasa (Kompas, 31/12/1997).
Sebagaimana masyarakat Kudus, warga Semarang juga memiliki tradisi jelang Ramadhan, yakni dugderan. Tradisi yang sudah dilakukan sejak abad ke-19 ini dilaksanakan sehari sebelum menjalani ibadah puasa. Kegiatan ini diawali dengan penyerahan hasil halaqoh (pertemuan) para kiai kepada Wali Kota Semarang.
Sebagai puncak acara, ditandai dengan menabuh beduk yang bergantian dengan tembakan meriam sehingga mengeluarkan bunyi ”dug” dan ”der” dan pawai karnaval. Tradisi dugderan ini menjadi pertanda dimulainya puasa Ramadhan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/28/1d37c1bf-890e-479c-aaf2-5c8659e8fc01_jpg.jpg)
Masyarakat Yogyakarta juga mempunyai tradisi menjelang bulan puasa. Tradisi ruwahan yang dilakukan di bulan Ruwah jelang bulan Ramadhan antara lain diisi kegiatan nyadran, apeman, dan padusan. Masyarakat mengawali tradisi ruwahan dengan memasak apem bersama.
Kue apem membawa makna mohon ampun atau mohon dimaafkan. Simbolisasi maaf ini dilakukan untuk menyucikan hati sebelum menjalani ibadah puasa dan untuk mendoakan arwah para leluhur melalui kegiatan bersih makam (nyadran).
Tradisi lain adalah padusan. Kegiatan ini berupa membersihkan diri atau menyucikan diri melalui mandi keramas bersama di sungai, sendang (mata air), atau umbul. Tak jarang tradisi ini sekarang juga banyak dilakukan di kolam renang.
Laman Kemendikbud menyebutkan, tradisi jelang Ramadhan menjadi warisan tak benda. Salah satunya adalah tradisi mirsalin Tradisi ini dilakukan di area Situs Bojong Salawe, Jawa Barat. Misalin merupakan kegiatan warga untuk membersihkan lingkungan. Tradisi ini juga bermakna sebagai pembersihan diri untuk menyambut bulan Ramadhan dan ajang silaturahmi saling memaafkan antarwarga sebelum memasuki bulan puasa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/23/55704ca3-2853-48f8-97e8-4d06e69a73de_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/05/01/35e03683-7ab5-42b0-af0b-0c0393fa5bac_png.jpg)
Beberapa kegiatan keagamaan untuk meningkatkan spritualitas juga dilakukan selama bulan Ramadhan. Mulai dari shalat Tarawih, tadarus, hingga mengikuti kegiatan pesantren kilat yang digelar untuk meningkatkan ketakwaan di bulan Ramadhan.
Berbagai kegiatan spritualitas tersebut terangkum pada bulan Ramadhan tahun lalu. Hasil jajak pendapat Kompas Maret 2024 menunjukkan shalat Tarawih bersama menjadi agenda yang paling sering dilakukan.
Aktivitas lain yang juga juga menjadi kebiasaan masyarakat pada bulan puasa adalah berbuka puasa bersama dan mencari makanan takjil untuk berbuka serta ngabuburit. Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan sosial yang dilakukan umat Islam pada bulan Ramadhan. Aspek kebersamaan menjadi penambah kemeriahan menjalankan ibadah puasa.
Kebersamaan ini juga ditandai dengan kehadiran pasar kaget yang menjual berbagai camilan, minuman, dan jajanan di sejumlah daerah. Pasar kaget ini menarik minat masyarakat karena menjajakan aneka makanan khas Ramadhan. Salah satu pasar khas ini adalah Pasar Beduk di Jambi. Pasar yang buka mulai pukul 15.00 ini menyediakan beragam keperluan berbuka puasa yang didominasi makanan daerah.
Ada pula Kampung Ramadhan Jogokariyan di Yogyakarta yang menjadi sarana bagi masyarakat sekitar berdagang bermacam makanan takjil untuk berbuka puasa. Sementara Masjid Jogokariyan sendiri menyediakan 3.500 porsi makanan gratis untuk berbuka puasa setiap hari selama bulan Ramadhan tahun 2025 ini.
Beragam tradisi dan kebersamaan yang merekam kegiatan umat Islam di Indonesia jelang dan saat Ramadhan sejak dahulu. Tak hanya beragam tradisi, perbedaan penentuan awal Ramadhan juga pernah terjadi di Indonesia. Namun, keberagaman tersebut tidak mengurangi kuatnya semangat masyarakat untuk menjalankan ibadah puasa dengan damai. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Andreas Yoga PrasetyoEditor:
Yohan WahyuPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari