Sedikitnya 606 jiwa di tiga negara meninggal karena siklon Senyar, dengan korban terbanyak di Indonesia 442 jiwa, disusul Thailand 162 jiwa, dan Malaysia 2 jiwa.
01 Des 2025 06:20 WIB · Lingkungan
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Hujan ekstrem hingga lebih dari 400 milimeter per hari yang disebabkan siklon Senyar memicu bencana banjir dan longsor di tiga negara. Korban jiwa sedikitnya 606 jiwa, dengan korban terbanyak di Indonesia 442 jiwa, disusul Thailand 162 jiwa, dan Malaysia 2 jiwa.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, total korban bencana hidrometeorologi yang meninggal di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hingga Minggu (30/11/2025) mencapai 442 jiwa. Sebanyak 402 jiwa masih dinyatakan hilang.
Saat ini, tim gabungan BNPB, TNI-Polri, Basarnas, kementerian/lembaga, serta pemerintah daerah terus bekerja mempercepat operasi pencarian, pertolongan, logistik, dan pembukaan akses wilayah terdampak. ”Korban jiwa untuk Sumatera Utara 217 orang, kemudian 209 orang masih hilang,” kata Suharyanto.
Korban meninggal di Sumut terutama di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, Kota Padang Sidempuan, Deli Serdang, dan Nias. Korban hilang meningkat setelah banyak yang melaporkan kehilangan keluarga kepada petugas di posko pengungsian.
Pengungsi tersebar di beberapa titik, antara lain 3.600 jiwa di Tapanuli Utara, 1.659 jiwa di Tapanuli Tengah, 4.661 jiwa di Tapanuli Selatan, 4.456 jiwa di Kota Sibolga, 2.200 jiwa di Humbang Hasundutan, dan 1.378 jiwa di Mandailing Natal.
Menurut Suharyanto, akses darat di beberapa kabupaten di Sumut masih terputus akibat longsor dan kerusakan jembatan. Di Tapanuli Utara, Jalan Tarutung-Sibolga terputus di sejumlah titik dan sejumlah desa di Parmonangan dan Adiankoting belum dapat dijangkau dengan total lebih dari 12.000 jiwa terdampak.
Di Mandailing Natal, jalur Singkuang-Tabuyung serta ruas Batang Natal-Muara Batang Gadis terputus pada beberapa titik sehingga sejumlah kecamatan terisolasi. Di Tapanuli Tengah, pembersihan material longsor terus dilakukan pada ruas jalan nasional Sibolga-Padang Sidempuan, Sibolga-Tarutung, serta jembatan yang rusak di beberapa titik.
Suharyanto mengatakan, di Provinsi Aceh tercatat 96 jiwa meninggal dan 75 jiwa hilang, tersebar di Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireueun, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Timur, Lhokseumawe, Gayo Lues, Subulussalam, dan Nagan Raya. Adapun jumlah pengungsi mencapai 62.000 keluarga di sejumlah kabupaten/kota.
Beberapa daerah di Aceh juga masih terisolasi. Sejumlah jalur utama masih terputus total, termasuk perbatasan Sumut-Aceh Tamiang, Jembatan Meureudu di perbatasan Pidie Jaya-Bireuen, serta jalan nasional di Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah. Akses Subulussalam-Aceh Selatan masih tergenang tanpa jalur alternatif.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/27/bf89ad3aab5ec27deefa00ff2cff5fa8-20251127_H01_NNN_Siklon_Senyar_mumed.png)
Sementara itu, korban meninggal di Sumbar, menurut data BNPB, mencapai 129 jiwa, 118 hilang, dan 16 luka-luka. Korban tersebar di Kabupaten Agam, Kota Padang Panjang, Kota Padang, Padang Pariaman, Tanah Datar, Pasaman Barat, Pasaman, Solok, Kota Solok, dan Pesisir Selatan. Total jumlah pengungsi mencapai 11.820 keluarga atau 77.918 jiwa dengan konsentrasi terbesar di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Menurut Suharyanto, sejumlah ruas jalan provinsi dan nasional di Sumbar terputus, termasuk ruas Koto Mambang-Balingka, Pasar Baru-Alahan Panjang, Panti-Simpang IV, serta jalan nasional Padang Panjang-Sicincin dan Simpang Taman-batas Lubuk Sikaping. Upaya pembukaan akses terus dilakukan agar distribusi bantuan dapat menjangkau seluruh titik terdampak.
”Secara umum masih bisa dilalui lewat jalur darat,” tutur Suharyanto.
Menurut data BMKG, siklon Senyar telah memicu hujan ekstrem di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dengan intensitas di atas 300 milimeter (mm) per hari. Curah hujan tertinggi tercatat di Kecamatan Kuala, Bireun, dengan intensitas 411 mm per hari pada 25-26 November 2025, seperti disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi Aceh Muhajir.
Menurut Muhajir, pada hari itu ada lima daerah di Aceh yang tercatat mengalami hujan ekstrem di atas 370 mm per hari. Selain Kecamatan Kuala, curah hujan hingga 397,4 mm juga terekam di Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang; 382 mm di Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa; 376,6 mm di Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan; dan 376,6 mm di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.
Hujan ekstrem di atas 150 mm juga terekam di sejumlah wilayah Aceh, mulai dari pesisir utara-timur Aceh, Kota Sabang, Aceh Besar, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, dan Kota Subulussalam.
Sistem bibit siklon tropis ataupun siklon tropis tidak dapat ditangani secara efektif melalui operasi modifikasi cuaca (OMC).
Sementara itu, di Sumatera Utara, rekor hujan tercatat di Pos Hujan Cempa, Kabupaten Langkat, sebesar 386 mm per hari pada 26-27 November, seperti dilaporkan Kepala Stasiun Klimatologi Sumut Wahyudin. Pada hari itu, hujan ekstrem di atas 300 mm juga tercatat di Kota Medan, Kota Binjai, Deli Serdang, Batubara, dan Humbang Hasundutan.
Direktur Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan, dalam lima tahun terakhir beberapa siklon tropis tercatat semakin sering mendekati wilayah Indonesia. Kehadiran siklon tersebut menimbulkan dampak signifikan, terutama hujan ekstrem, angin kencang, dan gelombang tinggi.
”Fenomena terbaru siklon tropis Senyar merupakan kejadian yang sangat tidak biasa karena terbentuk pada lintang rendah sekitar 4,5 derajat Lintang Utara di kawasan Selat Malaka, wilayah yang secara klimatologis seharusnya tidak mendukung pembentukan siklon tropis,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/30/2fe8cedc-c678-4ab0-b19f-d87eff2dbed8.jpg)
Kondisi ini memiliki kemiripan dengan kejadian langka siklon Vamei pada tahun 2001 yang juga terbentuk di Selat Malaka pada lintang sangat rendah.
Serangkaian anomali atmosfer, seperti penguatan monsun Asia, konvergensi besar di Selat Malaka, suhu laut hangat, shear angin yang rendah, penguatan konvektivitas dari fenomena skala regional seperti MJO, Gelombang Kelvin dan Rossby, serta pengaruh geografi selat yang sempit, menciptakan kondisi bibit siklon dapat berkembang di wilayah yang selama ini dianggap aman.
”Perubahan pola cuaca dan tren siklon tropis yang semakin mendekati wilayah Indonesia perlu kita cermati dengan serius karena hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi sepenuhnya terlindungi dari ancaman siklon tropis, baik dari arah barat, utara, maupun selatan,” katanya.
Menurut Andri, dalam konteks respons operasi modifikasi cuaca, perlu ditegaskan bahwa sistem bibit siklon tropis ataupun siklon tropis tidak dapat ditangani secara efektif melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) karena ukuran dan kekuatan sel konvektifnya yang sangat besar.
”OMC hanya dapat dilakukan setelah siklon menjauh dan difokuskan pada tahap evakuasi serta pemulihan pascasiklon untuk mengurangi intensitas hujan sisa yang masih berpotensi menimbulkan genangan atau banjir,” katanya.
Dengan meningkatnya kecenderungan anomali atmosfer akibat perubahan iklim, penguatan sistem deteksi dini, pemodelan cuaca beresolusi tinggi, dan kesiapsiagaan lintas sektor menjadi sangat penting untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem dan dampak siklon yang dapat muncul lebih sering di masa mendatang.
Di Thailand dilaporkan, setidaknya 162 orang tewas akibat siklon Senyar yang memicu salah satu banjir terburuk dalam satu dekade di negara ini, seperti disampaikan juru bicara Pemerintah Thailand, Siripong Angkasakulkiat, kepada Reuters pada Sabtu (29/11/2025).
Sekitar 3,5 juta orang telah terdampak dan saat ini pihak berwenang telah mengangkut pasien dan mengirimkan pasokan penting, termasuk tabung oksigen, ke masyarakat yang terendam. Langkah-langkah bantuan telah diluncurkan oleh Pemerintah Thailand, termasuk kompensasi bagi rumah tangga yang kehilangan anggota keluarga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/94bc65b727683c8c1bdf08c189d04ae1-wires_photo_37_.jpg)
Namun, kritik publik terhadap respons banjir Thailand semakin meningkat. Seperti dilaporkan AFP, dua pejabat lokal telah diberhentikan sementara atas dugaan kegagalan mereka dalam menangani bencana.
Hujan terderas tercatat di Kota Hat Yai, pusat transportasi dan perdagangan utama di Provinsi Songkhla, Thailand, yang mencatat ”hujan terderas dalam 300 tahun”, menurut Departemen Irigasi Kerajaan. Beberapa tempat telah mencatat akumulasi hujan hampir 400 milimeter.
Sementara itu, di Malaysia dilaporkan dua orang meninggal setelah banjir melanda sebagian wilayah utara negara bagian Perlis, seperti dilaporkan portal InfoBencana dari Departemen Kesejahteraan Sosial, Malaysia. Lebih dari 34.000 orang telah dievakuasi di seluruh Malaysia.
Meskipun banjir di beberapa negara bagian, seperti Melaka, telah surut, sebagian negara bagian lain, termasuk Terengganu dan Selangor, masih tergenang, dan menyebabkan ribuan orang berada di pusat-pusat bantuan sementara.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto