Kaki Simon Tahamata memang tidak pernah berandil untuk sepak bola Indonesia. Kini, dari kepalanya, Indonesia memiliki harapan benahi pembinaan usia dini.
04 Jun 2025 07:34 WIB · Olahraga
Tingginya hanya 1,64 meter. Bagi pemain di Eropa, postur itu bisa disebut “kerdil”. Namun, Simon Tahamata telah membuktikan karier gemilangnya sebagai pemain mulai pertengahan dekade 1970-an hingga pertengahan 1990-an.
Setelah gantung sepatu, keberadaannya juga tetap berarti bagi Ajax Amsterdam, klub masa kecilnya. Tidak hanya di Belanda, Simon mendapat penghormatan serupa di Belgia. Peran besarnya untuk salah satu klub tersukses di Belgia, yaitu Standard Liege, sulit ditandingi oleh siapapun.
Pengalaman panjangnya menangani sejumlah tim junior, mulai dari Standard Leige dan Beerschot di Belgia, lalu Ajax serta klub Arab Saudi, Al-Ahli, adalah bukti Simon memiliki sumbangan penting bagi program pembinaan usia dini bagi tim-tim itu.
Simon memang tidak memberikan kesempatan debut kepada pemain ke tim utama, tetapi dia adalah otak yang merancang program demi program serta melatih langsung anak-anak muda dengan impian menembus level sepak bola profesional.
Peran sebagai Kepala Pemandu Bakat Tim Nasional Indonesia per 1 Juni 2025 menjadi tantangan baru bagi pria berusia 69 tahun itu. Keraguan tentu sempat membayangi kedatangan Simon, yang berdarah Maluku, ke tanah leluhurnya. Ia dianggap akan lebih fokus ke pemain-pemain diaspora di Belanda atau negara lainnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/02/d904f2b32034fbe246e65d1a06ee0414-20250602YGA06.jpg)
Kenyataannya, Simon menepis dugaan itu. Ia telah berencana tinggal di Indonesia selama memiliki kontrak dengan PSSI. Hal serupa juga dilakukannya ketika menjadi pelatih teknik di Akademi Al-Ahli di Arab Saudi pada kurun waktu 2005-2009.
Simon pun hadir langsung mengamati latihan perdana timnas Indonesia di Jakarta jelang hadapi China, Senin (2/6/2025), di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta. Bersama staf teknik PSSI dan mantan pelatih tim U-20 Indonesia, Indra Sjafri, keduanya nampak berbincang dengan serius.
“Kitorang mau tolong (sepak bola) Indonesia. Anak-anak harus sudah bermain sepak bola sejak di bawah 13 tahun, delapan tahun seperti di Belanda. Jangan terlambat saat berusia 15 tahun,” tutur Simon dalam bahasa Indonesia dialek Maluku yang fasih.
Ia melanjutkan, “saya ingin membantu dari anak-anak muda. Saya tidak mau kalau kita hanya memakai anak-anak dari luar Indonesia”.
Simon datang ke Indonesia dengan pengalaman lebih dari 15 tahun bertugas di De Toekomst, pusat akademi Ajax. Saban hari, pekan-pekan berganti, dan bulan-bulan berlalu, dilalui Simon di salah satu “pabrik” pesepak bola terbaik dunia itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/02/f90271616f4c95d3ac06fc0495e949e9-20250602YGA01.jpg)
Tugas utama Simon tidak hanya melatih langsung anak-anak untuk pengenalan dan pengembangan teknik dasar mereka. Simon juga memastikan “DNA” sepak bola Ajax yang menyerang dan menghibur sesuai warisan dari Johan Cruyff tetap lestari untuk generas-generasi pemain muda.
Tak ayal, bagi anak-anak yang baru masuk Akademi Ajax, mendapat kesempatan dilatih langsung oleh Simon adalah satu hal yang mereka dambakan sebelum berjuang menembus tim utama.
Di Indonesia, Simon, yang tercatat miliki 22 penampilan bersama timnas Belanda, menegaskan akan mempertahankan filosofi Ajax yang telah mendarah-daging di dalam dirinya. Ia mengungkapkan akan mencari pemain-pemain muda potensial untuk tim usia muda Indonesia berlandaskan formasi 4-3-3.
Saya paling kecil di hadapan lawan-lawan yang jauh lebih tinggi. Saya mesti pakai cara lain. Saya harus pintar.
Ia mengatakan butuh bek tangguh yang bisa memainkan bola dan membangun serangan; pemain sayap di pos bek dan penyerang yang cepat, lincah, juga cerdas; lalu otak permainan di tengah; serta penyerang dengan insting gol brilian. Simon yakin Indonesia memiliki pemain-pemain itu, apalagi jika para pemain itu diasah dengan optimal.
“Saya ingin pemain bisa menggunakan kedua kaki sama baiknya, teknik sangat bagus, dan mental menjadi pemenang. Itu adalah bekal untuk menjadi pemain spesial,” kata Simon yang berposisi sebagai penyerang sayap kiri ketika aktif bermain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/02/5a00135e74389be413c5674cb12f9035-cropped_image.jpg)
Tak ketinggalan, Simon mengingatkan pentingnya pemain Indonesia tidak memiliki mental inferior.
“Saya paling kecil di hadapan lawan-lawan yang jauh lebih tinggi. Saya mesti pakai cara lain. Saya harus pintar,” ucap Simon sembari menunjuk kepalanya.
Oom Simon, sebutannya di komunitas pemain dan pendukung Ajax, membuktikan postur bukan halangan bagi pesepak bola. Otak dan kemampuan dasar yang paling penting untuk bersaing di kerasnya rimba sepak bola dunia.
Sejatinya, formasi 4-3-3 itu sudah sejalan dengan format filosofi sepak bola Indonesia alias filanesia yang digagas PSSI pada 2017 lalu. Kala itu, filanesia diinisiasi oleh Direktur Teknik PSSI Danurwindo.
Dengan pengalaman panjang Simon untuk klub-klub Belanda dan Belgia, tentu ia berpeluang menjadikan filanesia semakin sempurna. Filanesia tidak lagi menjadi jargon pembinaan, tetapi diimplementasikan dalam pembentukan pemain di seluruh sekolah sepak bola lokal, pendidikan pelatih, hingga diterapkan di kompetisi usia dini dan profesional.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/27/63bdb4a6-254c-4aad-aaa8-5087c501c035_jpg.jpg)
“Kami fokus memikirkan strategi untuk pemain di bawah usia 18 tahun,” tutur Simon.
Dalam susunan manajemen timnas Indonesia saat ini, Simon adalah sosok yang paling dihormati. Pantas, Pelatih Indonesia Patrick Kluivert turut mengajak Simon memberikan sumbangan bagi sepak bola Indonesia.
Pengalamannya dalam bidang teknik pembinaan usia dini di Eropa, lalu hubungan darah dengan Indonesia, menjadikannya sosok yang pantas untuk membantu Kluivert serta tiga asistennya, yaitu Danny Landzaat, Alex Pastoor, dan Gerald Vanenburg, melahirkan pemain-pemain timnas baru dari Indonesia.
Hubungan Simon dengan Kluivert juga sangat baik. Kedekatan mereka secara personal bisa terlihat dalam acara peluncuran patung empat pemain legenda Ajax, 21 November 2024 lalu, di Rumah Suporter Ajax yang berada di kompleks Stadion Johan Cruyff. Empat legenda itu ialah Simon, Kluivert, Frank Rijkaard, dan Daley Blind.
Kluivert bersama mantan kiper Ajax dan timnas Belanda, Edwin van Der Sar, menggendong Simon untuk membuka tirai hitam yang menutupi patung kepalanya di tembok bagian atas yang berjarak sekitar tiga meter dari lantai.
“Pengalaman dan keahliannya dalam pengembangan pemain muda akan menjadi aset berharga dalam perjalanan kami menuju panggung dunia,” tutur Ketua Umum PSSI Erick Thohir tentang harapan PSSI terhadap Simon.
Semoga PSSI mampu memaksimalkan peran Simon. Tidak hanya untuk memantau pemain-pemain muda, gagasan Simon demi perbaikan pembinaan usia dini Indonesia juga harus difasilitasi dengan baik.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari