Sinar Terang Lini Belakang ”Garuda Muda”

Pertahanan yang baik senantiasa dikaitkan dengan raihan trofi. Akankah soliditas lini belakang Indonesia berbuah trofi Kejuaraan ASEAN U-23?

22 Jul 2025 13:57 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Penyelesaian akhir menjadi kelemahan paling kentara tim sepak bola Indonesia U-23 sepanjang Kejuaraan ASEAN. Namun, bukan berarti tim besutan Pelatih Gerald Vanenburg tidak memiliki capaian yang membanggakan. Saat lini depan tumpul, situasi sebaliknya terjadi di lini belakang. Setelah menuntaskan fase penyisihan grup, gawang Indonesia belum sekalipun pernah kebobolan.

Manajer legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson, pernah mengatakan kalimat yang pada akhirnya menjadi semacam pepatah lama di Liga Inggris. Menurut Ferguson, menyerang membuat suatu tim bisa memenangkan pertandingan. Namun, dibutuhkan pertahanan solid untuk memenangkan sebuah kejuaraan.

Pepatah lama itu kemudian seakan mendapatkan validitasnya ketika Jose Mourinho mempersembahkan trigelar bersama Inter Milan pada 2010. Inter menguasai Eropa berkat pendekatan bertahan yang kemudian dikenal sebagai taktik parkis bus. Lewat pertahanan solid itulah Inter membuat lawan frustrasi lalu menghukumnya lewat skema serangan balik.

Tim sepak bola Indonesia U-23 bisa merujuk pada kesuksesan Inter era Mourinho. ”Garuda Muda” sejauh ini selalu mencatatkan nirbobol pada tiga laga penyisihan grup Kejuaraan ASEAN U-23. Pada laga pamungkas penyisihan Grup A, Indonesia ditahan imbang Malaysia 0-0, Senin (21/7/2025), di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.

Belum kebobolan dalam tiga laga menjadi pencapaian positif di tengah kritik terhadap kinerja lini serang yang di bawah rata-rata saat menghadapi tim dengan kualitas di atas Brunei Darussalam. ”Menurut saya, kami sudah bekerja sangat keras. Lagi-lagi, clean sheet. Itu pujian untuk lini belakang, tetapi juga untuk seluruh tim yang sudah memberikan segalanya hari ini,” kata Pelatih Indonesia U-23 Gerald Vanenburg seusai laga menghadapi Malaysia.

Pemain Tim Sepakbola Indonesia U-23 Kakang Rudianto (kiri) duel udara dengan kiper Malaysia U-23 Zulhilmi Bin Sharani dalam kualifikasi ASEAN Mandiri U-23 Championship Mandiri Cup 2025 Grup A di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (21/7/2025).

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
21-07-2025

Duet Kakang Rudianto dan Kadek Arel mampu menghadirkan ketenangan di lini belakang. Pengalaman dua palang pintu itu di level senior bersama klub dan timnas memengaruhi cara bermain mereka. Saat ditekan atau terjadi kemelut di depan gawang, Kadek dan Kakang piawai membaca arah serangan. Mereka pun tampil solid dalam mementahkan upaya membangun serangan lawan.

Dari semua lini Garuda Muda, pertahanan menjadi pos yang memiliki kedalaman sangat baik. Selain Kadek dan Kakang, Vanenburg juga punya Muhammad Ferarri dan Brandon Scheunemann. Para bek tengah berpengalaman itu semakin tangguh berkat kinerja bek sayap. Alfharezzi Buffon serta Dony Tri Pamungkas tampil sangat baik dengan tidak enggan turut membantu skema pressing dari depan.

Mobilitas bek sayap Indonesia yang amat dinamis beberapa kali bisa membongkar pertahanan lawan. Dalam hal ini, Achmad Maulana, yang jadi pesaing Alfharezzi di sayap kanan, patut mendapat apresiasi. Manuvernya saat membantu serangan berkali-kali merepotkan pertahanan Malaysia. Peluang emas Jens Raven berawal dari keberanian Maulana dalam melewati lawan.

”Kami memang mempertahankan penguasaan bola selama mungkin dan tidak gampang kehilangan bola. Namun, pada 10 menit terakhir, kami malah terburu-buru ingin langsung ke depan. Itu salah satu hal yang harus kami evaluasi,” kata Kapten Indonesia U-23, Kadek Arel.

Memiliki lini bertahan yang solid ibarat berkah di dalam musibah bagi Vanenburg. Di saat lini depan belum bertaji, para pemain belakang tampil baik dengan tidak membiarkan lawan berkreasi. Filipina dan Malaysia dibuat mati kutu dengan hanya mencatatkan satu tembakan tepat sasaran. Selebihnya, peluang Malaysia terbentur tembok kokoh Garuda Muda. Total ada lima tembakan ”Harimau Muda” yang diblok para bek Indonesia.

Pemain Indonesia U-23 Dony Tri Pamungkas berduel dengan pemain Malaysia U-23 Muhammad Aliff Izwan Bin Yuslan dalam kualifikasi ASEAN Mandiri U-23 Championship Mandiri Cup 2025 Grup A di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (21/7/2025). Indonesia U-23 imbang 0-0 saat melawan Malaysia U-23. Hasil ini membawa Indonesia U-23 melaju ke babak semi final.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

21-07-2025

Akan tetapi, performa impresif lini belakang Indonesia tidak akan berarti apa-apa jika tidak diimbangi ketajaman para penyerang. Inter era Mourinho pun tidak akan bisa meraih treble winner jika tidak disertai ketajaman lini depan dalam skema serangan balik.

Kemampuan bertahan memang menjadi dasar yang dibutuhkan tim dalam persaingan memperebutkan trofi. Akan tetapi, kemampuan mencetak gol juga penting untuk memenangkan laga. Dalam hal ini, Vanenburg harus lekas mencari solusi mengembalikan ketajaman Raven yang mencetak hattrick ganda saat menghadapi Brunei.

Tantangan berat sudah menanti Indonesia di semifinal. Menilik performa para rival di Grup B dan C, Thailand menjadi calon lawan yang paling mungkin dihadapi Indonesia.

Pertahanan Indonesia kembali akan diuji Thailand yang merupakan tim terproduktif ketiga turnamen ini. Untuk mencapai final, sudah saatnya lini serang Indonesia turut terpacu menampilkan performa menawan sebagaimana para pemain bertahan.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra