Sinar Terang Pemanjat Belia "Lead" dan "Boulder"

Prestasi para pemanjat belia disiplin "lead" dan "boulder" menumbuhkan harapan untuk menambah prestasi di kancah dunia yang selama ini mengandalkan "speed".

17 Nov 2024 20:39 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

Dalam beberapa tahun terakhir, lead dan boulder seolah ”tenggelam” dengan nama besar speed. Padahal, dua disiplin panjat tebing ini lebih dulu populer. Dengan kemunculan atlet-atlet belia, tumbuh harapan dua disiplin ini juga akan menambah prestasi panjat tebing di kancah dunia.

Salah satu atlet belia, Alma Ariella Tsany (15), menumbuhkan harapan tersebut setelah menorehkan capaian gemilang di IFSC Youth Asian Championship Jamshedur 2024 di India. Alma, yang mewujudkan mimpinya untuk memperkuat Indonesia di luar negeri, berhasil meraih medali perak disiplin lead Youth B (U-16) putri.

Berkompetisi pada Sabtu (16/11/2024) dalam debutnya di level internasional, Alma berhasil mencetak poin 34+. Pemanjat yang mencuri perhatian di PON Aceh-Sumut 2024 setelah meraih 3 medali emas dan 2 perak ini hanya kalah dari atlet Jepang, Arisha Hayashi, yang memimpin dengan 48 poin. Sehari sebelumnya, Alma bersama Cikal Damarwulan berhasil mencapai babak final kategori boulder Youth B meski tidak berhasil naik podium.

Tak cuma Alma, pemanjat belia Indonesia lainnya juga menorehkan prestasi gemilang. Ada Taqiyya Nur Aziza (16) yang meraih medali perunggu di disiplin lead Youth A (U-18) putri. Taqiyya mencatatkan poin 27+, sama dengan Kanna Fujimura (Jepang), peraih medali emas, dan Mahdisa Hamidnezhad (Iran), peraih medali perak. Namun, berdasarkan hasil kualifikasi sebelumnya, Taqiyya berada di posisi ketiga.

Quote

Sejak awal, kami ingin mengetahui seberapa jauh jarak kami dengan negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan.

Atlet panjat tebing Indonesia, Putra Tri Ramadani, meraih medali emas di disiplin "lead" kategori yunior (U-20) di IFSC Asian Youth Championships 2024 yang berlangsung di Jamshedpur, India, Sabtu (16/11/2024).
Atlet panjat tebing Indonesia, Taqiyya Nur Aziza , meraih medali perunggu di disiplin "lead" kategori youth A (U-18) di di IFSC Asian Youth Championships 2024 yang berlangsung di Jamshedpur, India. Pada Sabtu (16/11/2024).
Atlet panjat tebing Indonesia, Alma Ariella Tsani, meraih medali perak di disiplin "lead" kategori youth B (U-16) di di IFSC Asian Youth Championships 2024 yang berlangsung di Jamshedpur, India. Pada Sabtu (16/11/2024).

Pada sektor putra, pemanjat Putra Tri Ramadani (19) meraih medali emas disiplin lead yunior (U-20). Ia mencetak poin  28+, sama seperti dua atlet Jepang, Kisato Wada dan  Rikuto Inohana, yang menempati posisi kedua dan ketiga. Prestasi ini menjadi pelengkap setelah sebelumnya Putra meraih medali perunggu di disiplin boulder yunior.

Dengan hasil ini, Indonesia mengumpulkan 4 medali, 1 emas, 1 perak, dan 2 perunggu dari disiplin lead dan boulder. Adapun dari disiplin speed, Indonesia berhasil menambah 3 medali emas dan 2 perunggu. Hasil ini mengantarkan Indonesia yang diperkuat 18 atlet mampu membuntuti Jepang yang mengirim 45 atlet dan finis sebagai juara umum dengan total perolehan 8 emas, 8 perak, dan 8 perunggu.

Manajer tim sekaligus Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), M Rizali Umarella mengatakan, Indonesia memang sedang berusaha merapatkan jarak dengan Jepang. Bersama Korea Selatan, Jepang merajai disiplin lead dan boulder di kejuaraan panjat tebing internasional, khususnya Asia.

”Sejak awal, kami ingin mengetahui seberapa jauh jarak kami dengan negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan. Kompetisi ini merupakan sarana untuk berusaha mendekatkan jarak dengan kedua negara-negara tersebut khususnya pada kedua disiplin tersebut (boulder dan lead),”  tutur Rizali.

Pemanjat putra Jepang, Anraku Sorato, meraih tiket ke Olimpiade Paris 2024 setelah menjadi juara IFSC Climbing Asian Qualifier, di Lot 11 Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (11/11/2023).

Rizali melanjutkan, partisipasi atlet Indonesia di ajang tersebut merupakan bagian dari pembinaan atlet muda demi menatap Olimpiade pada masa yang akan datang. Ia berharap para atlet muda bisa terus mengasah potensi seiring umur yang masih belia.

Kalah pamor

Tidak seperti disiplin speed, disiplin lead dan boulder Indonesia belum bisa berbicara banyak di kancah internasional. Saat atlet speed putra dan putri bisa menembus lima besar daftar peringkat IFSC (Federasi Panjat Tebing Internasional) tahun ini lewat Rajiah Sallsabillah (peringkat keempat) dan Veddriq Leonardo (posisi ketiga), peringkat terbaik atlet boulder adalah ke-57 lewat Ravianto Ramadhan (21). Di lead putri, ada Sukma Lintang Cahyani (20) menempati peringkat ke-73.

Saat panjat tebing disiplin lead dan boulder dilombakan di PON Aceh-Sumut 2024, misalnya, antusias masyarakat untuk menyaksikan tetap tinggi. Namun, penonton yang datang tidak seramai ketika disiplin speed dilombakan.

Berbeda dengan disiplin speed yang bisa berlangsung hanya dalam hitungan detik, lead dan boulder biasanya berjalan lebih lama. Jika orang lebih suka adrenalin beradu kecepatan, dia bisa jadi bosan ketika menyaksikan lead dan boulder yang lebih menguji ketangkasan atlet, terutama dalam memecahkan teka-teki berupa rute pemanjatan.

Pada perlombaan lead, atlet hanya diberikan satu kesempatan untuk memanjat jalur dengan tingkat kesulitan tertentu sampai puncak dinding setinggi 15 meter dalam waktu enam menit. Apabila tidak ada yang mencapai puncak, pemenang ditentukan dari siapa pemanjat yang mampu mencapai titik poin paling tinggi antara satu hingga 50.

Infografik Panjat Tebing Kombinasi Asian Games 2022

Adapun perlombaan boulder, atlet dituntut untuk memecahkan rute terbanyak pada dinding panjat 4,5 meter atau jauh lebih rendah dibanding nomor lead ataupun speed. Pada babak kualifikasi, atlet biasanya diberikan waktu memanjat selama lima menit dan semakin menyempit pada final menjadi empat menit.

Pelatih panjat tebing Indonesia, Hendra Basir, mengatakan, pihaknya mencoba mengatasi kondisi ketertinggalan dua disiplin itu dengan fokus menguatkan atlet-atlet muda. Perbedaan kemampuan antara para atlet yunior Indonesia dan asing masih tak begitu jauh sehingga memudahkan untuk mengejar ketertinggalan. Sebaliknya, disparitas kemampuan antar atlet senior Indonesia dan dunia terlalu jauh sehingga kurang efektif untuk mengimbanginya.

Menurut rencana, tahun 2020-2024 merupakan fase pengembangan dan pembangunan fondasi bagi atlet yunior lead dan boulder. Dalam tahap ini, daya tahan jadi fokus utamanya. Setelah itu, tahun 2025-2028, atlet akan belajar berkompetisi, sehingga jam terbang untuk beradu dalam berbagai kompetisi akan bertambah. Ketika fase itu berjalan dengan benar, fase terakhir adalah berlatih untuk menang. Tahap ini setara dengan speed saat ini.

Pelatih panjat tebing Jatim Ronald Mamarimbing berharap kehadiran atlet-atlet dari daerahnya seperti Alma dan Putra yang mampu bersinar kian memacu perkembangan boulder dan lead. Mantan pelatih kepala pelatnas ini mengatakan, selama ini fokus perhatian cenderung hanya pada speed. Sementara itu, dua disiplin lainnya seolah ditinggalkan.

”Dengan talenta-talenta muda yang terlihat di sini seperti Alma, saya berharap mereka bisa menjadi bintang masa depan Indonesia dari dua disiplin selain speed ini,” tuturnya.

Dua pemanjat tebing pelatnas Indonesianomor kombinasi (lead dan boulder), Sukma Lintang Cahyani dan Tri Ramadani Putra, menjalani perlombaan lead IFSC Climbing Asian Qualifier 2023 di Lot 11 Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (10/11/2023).

Ketua Umum FPTI Yenny Wahid mengatakan, pihaknya berencana untuk mengirim para atlet lead dan boulder untuk berlatih di luar negeri mulai tahun depan. Tujuannya agar para atlet terbiasa dengan rute yang variatif, sesuatu yang masih sulit untuk didapatkan di Indonesia karena keterbatasan sarana dan prasana.

Strategi itu disiapkan sembari mendorong para pembuat jalur dan juri untuk juga belajar atau mengikuti kursus di luar negeri. Dengan demikian, mereka nantinya bisa membantu untuk merancang jalur atau rute yang semakin rumit dan menantang.

”Rencana kalau tidak latihan di Eropa, ya, di Jepang. Kami sedang komunikasi dengan federasi dan negara yang akan kami tuju sembari juga menyiapkan anggaran. Setelah itu, baru kami akan tentukan atlet mana saja yang akan berlatih di sana. Kemungkinan besar akan campuran dari yang muda, yunior, dan senior,” tutur Yenny.

”Ini semua upaya agar panjat tebing bisa memiliki wakil di tiga disiplin pada Olimpiade Los Angeles 2028,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata