Meritokrasi yang dijunjung tinggi membuat siapa pun bisa bersaing dengan adil. Hal itu yang membuat talenta unggul Indonesia memilih berkiprah di Singapura.
03 Des 2024 06:44 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
Anda tak perlu khawatir diserobot mereka yang punya bekingan orang dalam atau ordal. Bukan itu tolok ukurnya. Kemampuan seseorang dilihat dari prestasi dan kompetensinya. Selalu ada ruang di Singapura bagi siapa pun yang bisa membuktikan dirinya punya value.
Situasi ini yang mendorong anak-anak berprestasi Indonesia tertarik ke Singapura, seperti yang dilakukan Otto Alexander Sutianto (24). Lelaki asal Solo, Jawa Tengah, ini mengisahkan pengalamannya saat ditemui di sebuah kedai kopi di kampung halamannya, Sabtu (12/10/2024).
Otto menunjukkan dua medali Olimpiade Matematika Internasional (IMO) yang diraihnya pada 2017 dan 2018. Satu perak dan satu perunggu. Medali itulah yang menjadi tiket masuknya ke perguruan tinggi terbaik di ”Negeri Singa”, National University of Singapore (NUS).
Lantaran berprestasi di bidang matematika, Otto tidak perlu menjalani tes. Namun, ini bukan karena berkat bantuan ordal. Ia langsung diterima di NUS kemudian lanjut ke tahap wawancara untuk program beasiswa.
Orang-orang seperti Otto jalurnya sudah jelas. Ketika kuliah, ia ambil dua jurusan sekaligus, matematika dan ilmu komputer. Gelar ganda ini untuk memperbesar peluangnya terserap di pasar tenaga kerja.
Saat masih mahasiswa, ia ”cek ombak” dunia industri dengan magang di tiga perusahaan berbeda. Kini ia berstatus karyawan tetap di salah satu perusahaan tempat magangnya dulu. Ia bekerja sebagai quantitave trader, memprogram komputer yang memungkinkan sebuah perusahaan investasi bisa melakukan aksi jual beli saham dengan baik.
”Singapura negara meritokrasi. Kemampuan akademik sangat dihargai. Kalau kamu bisa memberikan value yang besar, kepercayaan terhadapmu juga bagus,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/30/c9aa8bdb-1c8f-421d-811a-b744afadbb3f_jpg.jpg)
Anak-anak olimpiade seperti Otto tinggal meneruskan pola yang sudah lebih dulu dijalani pendahulu atau seniornya. Misalnya, Herbert Ilhan Tanujaya (27), senior Otto di NUS.
Ilhan juga medalis IMO, dapat beasiswa, kuliah di NUS dengan gelar ganda (matematika dan ilmu komputer), lalu bekerja di perusahaan yang teregistrasi di Singapura. Memasuki tahun kedua perkuliahan, Ilhan sudah menghasilkan uang lewat magang di perusahaan. Magang di sana dibayar secara profesional. Ia menerima sekitar 3.000 dollar Singapura (sekitar Rp 35 juta) per bulan.
Sambil menyantap hamburger pada sebuah restoran di Singapura, Rabu (30/10/2024) sore, ia menceritakan rencananya dalam waktu dekat. Jika tak ada aral melintang, ia akan menikah tahun depan. Calon istrinya satu almamater dengannya. ”Semoga, ya. Pestanya di Singapura sama di Jakarta,” ujar pria yang kini berstatus permanent resident (PR) ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/bb654ed6-7410-4ed0-b3c5-cf83bf8c2fc1_jpg.jpg)
WNI berbakat lain yang berlabuh di Singapura adalah sejumlah peserta Clash of Champions (CoC) bikinan perusahaan startup Ruangguru. Kompetisi ini mempertemukan mahasiswa brilian RI dari berbagai kampus ternama untuk beradu kecerdasan.
Kompas bertemu dua peserta CoC Ruangguru yang menuntut ilmu di Nanyang Technological University (NTU), Singapura, akhir Oktober 2024. Mereka adalah Christopher Govert (19) dan Fernando Kho (22).
Bagi Fernando yang baru saja lulus dan bekerja di sebuah perusahaan keuangan ini, kuliah di luar negeri ibarat pedang bermata dua. Orang bisa jadi bersemangat untuk kembali ke Tanah Air, menerapkan ilmu dan berbagai praktik baik yang telah didapat selama studi di negeri orang. ”Atau malah (kian) menjauh (dari Indonesia),” ujar medalis Olimpiade Geografi Internasional ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/7a001008-9f98-4f34-bd9d-2b7d91a08fd0_jpg.jpg)
Dia setuju dengan pandangan yang menyebutkan anak-anak bertalenta juga harus mengisi kampus di dalam negeri. Ini agar kampus di Indonesia bisa membaik karena mendapat input yang berkualitas.
Namun, alangkah baiknya orang itu tertempa lebih dahulu di kampus-kampus terbaik di luar negeri. Hal itu agar mereka memahami sistem semacam apa yang membuat pendidikan di negara itu bekerja dengan sangat baik. ”Pas kita kembali ke Indonesia, kita jadi tahu apa yang salah (dan perlu dibenahi),” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/03/99e044ed3a32ac815caaa09aca88e08a-20241202_H02_Nanyang_Singapore_mumed.png)
Christopher merasakan betapa menariknya iklim pendidikan di Singapura. Hal ini tecermin dari komunikasinya dengan seorang profesor di kelas. Saat ada pertanyaan yang belum terjawab, sang profesor akan mencari tahu dulu dan berjanji mengirim jawabannya lewat e-mail. Dan, jawaban itu betul-betul dikirim ke e-mail Chris. Dia merasakan ada kesungguhan dalam mendidik orang. ”Dia (profesor) bilang, ’Terima kasih sudah memberi pertanyaan berbobot’,” ujarnya, setelah pulang kuliah di NTU.
Lain lagi dengan kisah pakar terorisme Noor Huda Ismail. Prosesnya berlabuh di Singapura berawal ketika ia di Australia. Saat masih studi doktoral di Monash University di Melbourne, Huda bikin ”heboh” dengan membuat film Jihad Selfie (2016). Setelah film ini viral, ia mendapat tawaran fellowship di S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), NTU. Ia menerima tawaran itu dan mulai berstatus visiting fellow di RSIS sejak 2018.
Sementara itu, ahli keamanan siber Fred Ezerman ditawari ke NTU saat ia berstatus mahasiswa S-2 tahun pertama di Filipina dan baru saja merampungkan riset tentang komputasi kuantum. Pembimbingnya meminta makalah dari riset itu dikirim ke Konferensi Matematika Asia tahun 2005 di Singapura.
Seorang guru besar matematika Singapura yang jadi moderator konferensi itu tertarik dengan makalah Fred. Ia memberi tawaran Fred beasiswa S-3 di NTU yang baru membuka pusat studi kriptografi. Fred setuju.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/f4209556-3782-43ce-9389-01cdbf3221ae_jpg.jpg)
Per Agustus 2007, selepas menamatkan S-2 di Filipina, Fred bergabung dengan NTU. Kini, ia menjadi Adjunct Assistant Professor di kampus itu. Sejauh ini, ia belum berpikir untuk kembali ke Tanah Air.
Saat ditemui di NTU, Selasa (29/10/2024), Fred sedang membahas proyek penelitian bersama dua rekannya yang juga orang Indonesia, Prastudy Fauzi dan Adamas Aqsa Fahreza. Mereka bertiga sama-sama ahli keamanan siber yang bekerja di ”bawah bendera” NTU.
Dalam pertemuan siang itu tergambar betapa leluasanya mereka sebagai periset. Meski sama-sama di NTU dan berstatus ahli keamanan siber, mereka sejatinya bertugas pada pos yang berbeda. Fred lebih banyak mengurusi kebutuhan industri, sedangkan Prastudy dan Adamas bekerja di laboratorium.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/52f21080-5c2b-4363-866d-c687c5ca0d27_jpg.jpg)
Kendati demikian, kampus membolehkan mereka menggarap proyek bersama. Yang penting, riset tersebut dilakukan dengan benar dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. ”Kerjanya sama siapa dan topiknya apa, bebas saja. Kami masing-masing ada research grant (dana penelitian). Kalau mau, tinggal minta,” ujarnya.
Iklim akademik di Singapura, lanjutnya, sangat sehat. Mereka bisa fokus pada pekerjaan yang bersifat substantif saja. Sementara urusan-urusan yang bersifat administrasi dibantu staf lain di kampus. Selain itu, relasi personal juga tidak terlalu banyak gimik di Singapura.
”Di sini, kita gak ngomongin soal orang, pilihan pribadi. Gak ngeribetin soal yang remeh-temeh. Kalau lagi bertemu begini, yang dibicarakan adalah, kita ada ide (riset) apa nih,” lanjutnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/2ce374c8-d6b6-4df3-90e6-32a6b2effd17_jpg.jpg)
Menurut dia, pemerintah bisa mencontoh bagaimana China menarik kembali para diasporanya yang bersinar di negara lain. Mereka didatangi, ditanya apa yang dicita-citakan. Selain mendapat kompensasi yang sepadan, mereka juga diberi keleluasaan untuk membentuk tim peneliti.
Duta Besar RI di Singapura Suryopratomo memperkirakan 250.000 WNI berada di Singapura. Dari jumlah itu, sekitar 20.000 berstatus pelajar dan mahasiswa. Menurut dia, Singapura sejak lama menarik talenta-talenta unggul dari ASEAN, termasuk Indonesia.
Hal tersebut, lanjutnya, turut berkontribusi terjadinya brain drain, beralihnya SDM unggul Indonesia ke luar negeri. Untuk mengatasi ini, harus tercipta level playing field di Tanah Air agar semua orang punya potensi untuk maju.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/ea87e259-ed7d-45c3-8379-fbf7ae5b8157_jpg.jpg)
”Di Singapura yang dilihat adalah kamu bisanya apa. Karena itulah orang-orang kebanyakan (common people) suka di sini. Karena ada potensi untuk bisa jadi ’seseorang’ di sini,” ujarnya.
Situasi seperti ini menguntungkan Singapura. Negeri ini pandai memetik manfaat dari talenta-talenta unggul Indonesia yang belajar, melakukan riset, dan bekerja di Singapura. Apakah Indonesia terus merasa baik-baik saja dengan fenomena ini?
Penulis:
Insan Alfajri, Pandu Wiyoga, Stefanus Ato, Melati Wewangi, Sarie FebrianeEditor:
Sarie Febriane, Andy Riza Hidayat