Siswa Muntah Usai Santap Menu Diduga Basi, MBG di Empat Lawang Diminta Dihentikan Sementara

Delapan siswa SD Negeri 7 Tebing Tinggi, Empat Lawang, Sumsel, dibawa ke puskesmas karena sakit perut dan muntah seusai makan menu MBG yang diduga basi dan berulat.

19 Feb 2025 16:46 WIB · Nusantara

Oleh Adrian Fajriansyah

PALEMBANG, KOMPAS – Kepolisian Resor Empat Lawang, Sumatera Selatan, meminta program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kabupaten itu dihentikan sementara waktu. Permintaan itu disampaikan setelah adanya delapan siswa SD dilarikan ke puskesmas karena mengeluh sakit perut dan muntah-muntah seusai menyantap menu MBG yang diduga basi dan berulat.

Delapan pelajar yang sakit itu adalah siswa SD Negeri 7 Tebing Tinggi, Empat Lawang. Mereka mengeluh sakit perut dan muntah-mutah sesudah menyantap menu MBG, Selasa (18/2/2025).

Delapan siswa itu akhirnya dilarikan ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Adapun siswa lain dikabarkan belum sempat menyantap menu tersebut.

”Dari delapan siswa itu, ada satu yang sempat dirawat inap hingga Rabu (19/2/2025) pukul 09.00. Tetapi, sekarang, dia sudah dibawa pulang oleh orangtuanya untuk rawat jalan. Tujuh siswa lainnya sudah pulang sejak kemarin,” ungkap Kapolres Empat Lawang Ajun Komisaris Besar Abdul Aziz Septiadi saat dihubungi dari Palembang, Sumsel, Rabu.

Kapolres Empat Lawang AKBP Abdul Aziz Septiadi menjenguk siswa SD Negeri 7 Tebing Tinggi, Empat Lawang, Sumatera Selatan yang mengeluh sakit perut dan muntah-muntah di Puskesmas Tebing Tinggi usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis yang diduga basi dan berulat, Selasa (18/2/2025).

Aziz memaparkan, setelah kejadian tersebut, kepolisian meminta program MBG di Empat Lawang yang baru berjalan dua hari dihentikan sementara waktu. Penghentian dilakukan hingga ada kepastian hasil uji laboratorium dari sampel menu yang diduga basi dan berulat tersebut.

”Bukannya kami tidak mendukung program MBG. Justru karena kami sangat mendukungnya, kami ingin perkara ini ditangani dengan hati-hati dan ada evaluasi menyeluruh. Tujuannya, agar setelah temuan tersebut, program MBG di sini bisa berjalan dengan baik dan tidak muncul lagi perkara serupa,” ujar Aziz.

Aziz pun meminta penanggung jawab MBG di Empat Lawang melakukan evaluasi menyeluruh atas temuan kasus tersebut. ”Hasil evaluasi itu juga harus disampaikan kepada masyarakat. Tujuannya untuk memberikan ketenangan kepada masyarakat. Jangan sampai, nantinya masyarakat justru trauma dengan menu MBG,” katanya.

Terkait penanganan kasus tersebut, Aziz menuturkan, pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi, mulai dari pihak katering atau penyedia menu, petugas pengantar menu, pihak penerima menu di sekolah, dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Empat Lawang.

Kapolres Empat Lawang AKBP Abdul Aziz Septiadi menjenguk siswa SD Negeri 7 Tebing Tinggi, Empat Lawang, Sumatera Selatan yang mengeluh sakit perut dan muntah-muntah di Puskesmas Tebing Tinggi usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis yang diduga basi dan berulat, Selasa (18/2/2025).

Selain itu, polisi telah mengirim sampel menu yang diduga basi dan berulat itu ke Laboratorium Forensik Polda Sumsel dan Laboratorium Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (POM) di Palembang. Sampel menu yang dikirim pada Selasa itu dikabarkan sudah sampai di dua laboratorium tersebut pada Rabu ini.

”Kami masih menunggu hasil uji laboratorium dari sampel menu tersebut. Kami harap hasilnya bisa segera keluar secepatnya. Hasil uji laboratorium itu yang akan digunakan untuk menentukan langkah selanjutnya dari perkara ini. Untuk saat ini, kami belum bisa berasumsi penyebab terjadinya perkara tersebut. Sebab, kami tidak ada wewenang memastikan menu itu layak atau tidak untuk dikonumsi. Yang bisa menerangkan penyebab terjadinya perkara itu adalah pihak laboratorium,” papar Aziz.

Ditemukan ulat

Kasus menu MBG di Empat Lawang yang diduga basi dan berulat itu mencuat di sejumlah akun media sosial yang berbasis di Empat Lawang dan Sumsel. Salah satunya dikabarkan oleh akun Instagram empatlawangterkini.

Dalam video yang diunggah, perekam menunjukkan ada sejumlah ulat atau belatung yang menempel di wadah makanan dan menempel di beberaga bagian lauk yang disediakan.

Ulat atau belatung yang terdapat di buah pepaya dalam menu Makan Bergizi Gratis di SD Negeri 8 Tebing Tinggi, Empat Lawang, Sumatera Selatan, Selasa (18/2/2025) sebagaimana tangkapan layar dari akun Instagram empatlawangterkini, Selasa.

Temuan itu diduga bukan hanya di SD Negeri 7 Tebing Tinggi, melainkan terjadi pula di SD Negeri 8 Tebing Tinggi. Itulah kenapa, sebagian besar siswa tidak bersedia memakannya.

”Dapat kiriman video dari salah satu follower sanak. Bekal Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 8 Tebing Tinggi dan SDN 7 Tebing Tinggi terdapat ulat/belatung (biso sanak-sanak liat di video). Hmm… Cakmano lah menurut kalian?” tulis akun Instagram empatlawangterkini, Selasa.

Menu MBG di Empat Lawang disediakan oleh Yayasan Vieki Indira. Yayasan itu berada di bawah koordinasi Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Sumsel.

Quote

Bukannya kami tidak mendukung program MBG. Justru karena kami sangat mendukungnya, kami ingin perkara ini ditangani dengan hati-hati dan ada evaluasi menyeluruh

Ketua DPD PPJI Sumsel Evie Hadenli saat dikonfirmasi oleh sejumlah awak media menyampaikan, menu MBG hari kedua di Empat Lawang adalah ikan patin fillet crispy, bihun goreng, tahu goreng, dan buah papaya.

Evie menyebut, menu ikan itu dipotong tipis dan digoreng garing seperti kerupuk sehingga mustahil ada belatung. Apalagi menu itu masih segar atau baru disediakan. ”Ini yang menjadi pertanyaan. Kecuali ikan itu masih utuh dan dimasak kurang matang, itu masuk akal (basi dan berulat),” tulis Evie kepada salah satu awak media melalui pesan Whatsapp.

Ulat atau belatung yang terdapat di omprengan atau wadah makanan menu Makan Bergizi Gratis di SD Negeri 8 Tebing Tinggi, Empat Lawang, Sumatera Selatan, Selasa (18/2/2025) sebagaimana tangkapan layar dari akun Instagram empatlawangterkini, Selasa.

Saat Kompas coba menghubungi Evie, dia menjelaskan bahwa kasus itu sudah selesai dan tidak terbukti ada menu yang basi ataupun berulat. Dengan begitu, dia memastikan program MBG di Empat Lawang akan kembali berjalan mulai Kamis (20/2/2025). ”Sudah selesai Pak, kan tidak terbukti. Besok dapur sudah jalan kembali,” tulisnya melalui pesan Whatsapp.

Saat ditanya hasil pembuktian itu dari mana, apakah dari Laboratorium Forensik Polda Sumsel atau Laboratorium BBPOM di Palembang, Evie tak memberikan jawaban. Bahkan, dia lekas menutup sambungan telepon saat coba dihubungi.

Kepala BBPOM di Palembang Yani Ardiyanti memberikan keterangan tertulis kepada awak media, Rabu siang. Dia menyatakan, benar ada sampel MBG yang dibawa oleh Polres Empat Lawang dan telah diterima pada Rabu pukul 08.00. Sampel itu masih dalam proses untuk dilakukan pengujian.

Hasil uji belum dapat diberikan dan jika pun telah selesai diuji, maka hasilnya akan disampaikan kepada pemilik sampel atau Polres Empat Lawang. ”Hasil tersebut hanya berlaku untuk sejumlah sampel yang dibawa dan diuji ke BBPOM di Palembang,” ujar Yani.  


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari