Skandal Naturalisasi

FIFA menghukum Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) karena terbukti menggunakan dokumen palsu dalam proses naturalisasi tujuh pemain.

29 Sep 2025 02:00 WIB · Tajuk Rencana

Oleh Redaksi

Tak pelak, skandal itu mengguncang persepakbolaan Malaysia. Kasus tersebut juga dianggap sangat mempermalukan Malaysia.

Dalam pernyataan resmi Badan Yudisial FIFA, Jumat (26/9/2025), FAM terbukti melanggar Pasal 22 Kode Disiplin FIFA mengenai pemalsuan dokumen dan keterangan palsu. FIFA tidak menyebutkan jenis dokumen apa yang dipalsukan dalam proses naturalisasi tujuh pemain itu.

Mereka adalah Facundo Tomas Garces (kelahiran Argentina), Gabriel Palmero (Spanyol), Rodrigo Julian Holgado (Argentina), Imanol Javier Machuca (Argentina), Joao Figueiredo (Brasil), Jon Irazabal (Spanyol), dan Hector Alejandro Hevel (Belanda). Menurut laporan beberapa media Malaysia, sejumlah pemain yang dinaturalisasi itu mempunyai darah keturunan Malaysia.

Para pemain tersebut turut memperkuat Malaysia saat mereka menghancurkan Vietnam 4-0 pada pertandingan kualifikasi Piala Asia 2027, 10 Juni 2025, di Kuala Lumpur. ”Harimau Malaya” kini memuncaki Grup F dengan rekor sempurna dari dua laga. Hanya juara grup yang lolos ke Piala Asia.

Dalam pernyataannya, FAM membantah telah melakukan kesalahan dalam proses naturalisasi para pemain tersebut. Mereka menyebutkan telah mengikuti panduan yang diterapkan FIFA. FAM akan mengajukan banding atas putusan FIFA tersebut (Kompas.id, 27/9/2025).

Selain hukuman denda sebesar 350.000 franc Swiss atau Rp 7,32 miliar terhadap FAM, ketujuh pemain juga mendapat sanksi berupa larangan beraktivitas di seluruh kegiatan sepak bola selama 12 bulan dan denda masing-masing senilai 2.000 franc Swiss atau sekitar Rp 41,8 juta.

Gelandang Johor Darul Ta'zim dan timnas Malaysia, Hector Hevel, berusaha mengontrol bola pada gim Kejuaraan Klub ASEAN 2024-2026 kontra Lion City Sailors, 21 Agustus 2025 di Stadion Sultan Ibrahim, Johor Bahru, Malaysia. Hevel menjadi salah satu dari tujuh pemain naturalisasi timnas Malaysia yang disanksi denda dan larangan bermain satu tahun akibat pelanggaran dokumen naturalisasi.

Belum ada kejelasan terkait nasib hasil laga kontra Vietnam. Tetapi, belajar dari kasus Timor Leste yang dilarang berpartisipasi di Piala Asia 2023 karena kasus keabsahan dokumen pemain, sanksi yang sama bisa menimpa Malaysia.

Skandal itu tentu harus menjadi pelajaran bagi Indonesia yang juga menerapkan kebijakan sama, yaitu naturalisasi demi mendongkrak prestasi sepak bola. Kini, pemain naturalisasi mendominasi skuad Garuda. Dalam daftar 28 pemain yang dipanggil pelatih Patrick Kluivert untuk putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026, ada 20 pemain naturalisasi.

Naturalisasi yang dilakukan PSSI juga menimbulkan kontroversi. Di satu sisi, itu terbukti mampu meningkatkan prestasi, tetapi di sisi lain dianggap mengutamakan jalan pintas, alih-alih melakukan pembinaan. Masalahnya bukan hanya soal keabsahan pemain, melainkan juga tentang federasi yang bisa dianggap mengabaikan tugasnya untuk mengembangkan talenta sepak bola lokal.

Kita tentu tak ingin skandal naturalisasi terjadi di Indonesia. Jangan sampai demi kemenangan hampa, integritas Indonesia sebagai bangsa—bukan hanya sepak bola—dipertaruhkan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Redaksi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati