BerandaEkonomiSKK Migas Targetkan 5 Tem...

SKK Migas Targetkan 5 Temuan Besar Migas Per Tahun

Pemerintahan Prabowo-Gibran menargetkan swasembada atau kemandirian energi. Namun, dari tahun ke tahun, ”lifting” minyak selalu di bawah target.

29 Okt 2024 19:53 WIB · Ekonomi

Oleh Aditya Putra Perdana - [email protected]

Dwi Soetjipto Kepala SKK Migas

JAKARTA, KOMPAS — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas menyiapkan sejumlah strategi untuk mencapai kemandirian energi, yang juga menjadi visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto-Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Selain pengeboran masif untuk jangka pendek, ditargetkan ada lima temuan besar sumber migas baru per tahun.

Saat ini, industri hulu migas Indonesia tengah menghadapi tren penurunan produksi siap jual (lifting) minyak bumi yang terus terjadi dari tahun ke tahun. Bahkan, lifting minyak bumi Indonesia saat ini hanya sekitar 580.000 barel per hari atau di bawah target APBN 2024 yang 635.000 barel per hari. Kondisi itu membuat impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) meningkat.

Kondisi itu berbeda dengan gas bumi yang relatif tak menemui kendala berarti, dengan realisasi salur gas semester I-2024 sebesar 5.301 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Selain itu, sejumlah sumber raksasa gas bumi juga berhasil ditemukan pada 2023 sehingga masa depan gas bumi di Indonesia diyakini cerah dengan ketersediaan melimpah.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto saat berbincang dengan awak media di kantornya, di Jakarta, Selasa (29/10/2024), mengatakan, dalam mendukung peningkatan produksi migas, pihaknya menyiapkan strategi jangka pendek, menengah, dan panjang. Untuk jangka pendek, pengeboran sumur minyak pengembangan akan dipacu lebih masif, dari saat ini sekitar 900 sumur menjadi 1.200 sumur.

Untuk jangka menengah, yakni optimalisasi teknologi dalam menguras minyak-minyak yang belum bisa terangkat. Juga, mengejar sekitar 74 rencana pengembangan lapangan (plan of development/POD) kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang belum menjadi proyek komersial. Namun, sebagian dari KKKS sudah meminta hitung-hitungan kembali karena nilai dalam POD itu kini tak lagi ekonomis.

Lanskap kawasaan sumur eksplorasi East Pondok Aren-001 di Desa Sukawijaya, Tambelang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (23/12/2023). PT Pertamina Hulu Energi baru saja menemukan cadangan minyak bumi di sumur tersebut. Hasil tes menunjukkan cadangan minyak baru tersebut diperkirakan memiliki deposit minyak 92,79 juta barel setara minyak (MMBOE). KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 24-12-2023

Sementara untuk jangka panjang ialah dengan mengoptimalkan eksplorasi. ”Kami punya target pengeboran giant prospect (prospek temuan besar minyak dan gas bumi), rata-rata 54 sumur setiap tahun. Juga penentuan status eksplorasi (PSE) 5 lapangan big fish (sumber migas besar) per tahun. PSE ini eksplorasi yang statusnya sudah jelas dan dikembangkan,” ujar Dwi.

Apabila berjalan sesuai rencana, diharapkan ada peningkatan minyak bumi signifikan, mencapai 1 juta barel minyak per hari. Menurut Dwi, jika sebelumnya capaian 1 juta barel minyak per hari ditargetkan pada 2030, saat ini pihaknya tengah finalisasi rencana jangka panjang (LTP) yang baru. Berdasarkan rekomendasi Rystad Energy, capaian tersebut dapat terwujud pada 2035.

Selain pada minyak bumi, tantangan pemenuhan kebutuhan elpiji nasional juga coba dibenahi. Saat ini, dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kebutuhan nasional elpiji mencapai sekitar 8 juta ton per tahun. Sementara produksi hanya sekitar 1,9 juta ton per tahun sehingga sisanya harus impor. Ke depan, ditargetkan ada tambahan 1 juta ton elpiji per tahun.

Hal itu coba dilakukan SKK Migas dengan memetakan potensi dua komponen utama elpiji, yakni propana (C3H8) dan butana (C4H10). ”Kami sudah mengidentifikasi potensi-potensi elpiji ada di daerah mana saja. Kalau bisa dikembangkan, bisa memberikan sekitar 1 juta ton tambahan produksi per tahun,” kata Dwi.

Menurut data SKK Migas, setidaknya ada tujuh potensi lapangan prioritas dan quick win untuk menambah produksi elpiji nasional, dengan total kapasitas 739-743 kiloton per tahun. Potensi terbesar di Kalimantan Timur dengan potensi puncak mencapai 450 kiloton per tahun, disusul Pertamina Hulu Energi Jambi Merang dengan 110 kiloton per tahun, dan Senoro North & South dengan 90-94 kiloton per tahun.

Infografik Kinerja Hulu Migas Indonesia Semester I-2024

Eksplorasi satu-satunya jalan

Pengamat ekonomi energi yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Bandung, Yayan Satyakti, berpendapat, lifting minyak bumi sulit dinaikkan lagi. Selama bertahun-tahun, realisasi lifting minyak selalu di bawah target. Itu tak terlepas dari sumur yang mayoritas tua (mature), sedangkan pemanfaatan teknologi, seperti pengurasan minyak tingkat lanjut (enhanced oil recovery/EOR) pun belum optimal.

Satu-satunya jalan, yakni dengan pengembangan eksplorasi lapangan baru, itu pun harus ada intervensi lebih dari negara karena sulit jika hanya mengandalkan investor. ”Saat ini sudah bukan lagi rezim biaya rendah dan risiko rendah. Sebaliknya, biaya dan risiko tinggi. Harus ada dana untuk riset dan pengembangan eksplorasi. Itu harus komitmen langsung dari Presiden karena membutuhkan anggaran besar,” ujarnya.

Apabila berkomitmen mendukung hal itu, imbuh Yayan, pemerintah seharusnya memanfaatkan penerimaan negara dari pemanfaatan sumber daya, seperti penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari pertambangan mineral dan batubara. ”Itu perlu dimanfaatkan. Juga memanfaatkan sarjana-sarjana teknik perminyakan serta adopsi teknologi canggih,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aditya Putra Perdana
 | 

Editor:

Aris Prasetyo