Proses pengakuan Slovenia atas negara Palestina dipercepat sebagai respons atas serangan terbaru Israel ke Rafah.
05 Jun 2024 10:50 WIB · Internasional
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/05/c17cb864-9f80-48ad-a308-bf05dadf282a_jpg.jpg)
LJUBLJANA, RABU — Slovenia resmi mengakui negara Palestina, Selasa (4/6/2024), setelah parlemen mereka secara mutlak mendukung langkah tersebut. Negara pecahan Yugoslavia itu menambah panjang daftar negara-negara Eropa yang mengakui negara Palestina.
Pengakuan Slovenia atas negara Palestina secara resmi berlaku menyusul hasil pemungutan suara di parlemen, Selasa. Sebanyak 52 dari 90 anggota parlemen mendukung langkah itu. Tidak ada suara penolakan. Para anggota parlemen lainnya tidak hadir dalam pemungutan suara.
Baca juga: Gerakan Eropa Mengakui Negara Palestina
”Rakyat Palestina yang terhormat, keputusan final Slovenia pada hari ini adalah pesan tentang harapan dan perdamaian,” kata Tanja Fajon, Menteri Luar Negeri Slovenia, dalam pernyataan melalui media sosial X.
”Kami percaya, hanya solusi dua negara yang dapat mengantarkan pada perdamaian yang bertahan lama di #TimurTengah. Slovenia tidak akan lelah untuk melanjutkan upaya terciptanya keamanan bagi dua negara, Palestina dan Israel,” lanjut Fajon.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/05/9b5db512-0277-4228-942b-2d3e99e8bc98_jpg.jpg)
Sebelumnya, pengakuan itu diberikan oleh dua negara anggota Uni Eropa (UE), yakni Spanyol dan Irlandia, serta Norwegia. Seperti Spanyol dan Irlandia, Slovenia juga anggota UE.
Baca juga: Irlandia, Norwegia, dan Spanyol Akui Negara Palestina
Sebelumnya, hanya tujuh negara anggota UE yang secara resmi mengakui negara Palestina. Enam dari tujuh negara itu (Hongaria, Ceko, Polandia, Slowakia, Romania, dan Bulgaria) adalah negara-negara bekas Blok Timur, yang mengakui Palestina pada 1988, seperti halnya Siprus sebelum bergabung dengan UE.
Negara Eropa lainnya, Swedia, mengakui Palestina pada 2014. Malta mengatakan akan segera mengikuti langkah negara-negara itu.
”Kami mulai membahas bersama negara-negara mitra tentang pengakuan atas Palestina pada Februari tahun ini,” kata Perdana Menteri Slovenia Robert Golob dalam sidang parlemen sebelum pemungutan suara di Ljubljana, Slovenia, Selasa (4/6/2024).
”Saat itu, penilaiannya—waktu belum diputuskan—adalah kami memberi peringatan bahwa kami, Eropa, punya… tanggung jawab untuk bertindak,” lanjut Golob.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/05/7b8e7c5a-e35b-431a-b1f6-75b21c181d75_jpg.jpg)
Dalam pidatonya di parlemen, Golob menyitir cerita tentang kemerdekaan Slovenia dari negara Yugoslavia pada 1991. ”Kami, rakyat Slovenia, memimpikan hak seperti ini selama seribu tahun. Kami mendapatkannya 33 tahun silam,” kata Golob. ”Sayang, negara Palestina belum memperoleh hak ini.”
Koalisi pemerintahan yang dipimpin Golob memegang kursi mayoritas di parlemen. Itu sebabnya, pemungutan suara pada Selasa kemarin hanya semacam formalitas.
”Kami, rakyat Slovenia, memimpikan hak seperti ini selama seribu tahun. Kami mendapatkannya 33 tahun silam. Sayang, negara Palestina belum memperoleh hak ini.” (PM Robert Golob)
Partai oposisi utama, Partai Demokrat Slovenia, menolak upaya pengakuan atas Palestina. Partai sayap kanan itu semula menuntut digelar referendum pada isu tersebut. Tuntutan ini jelas bisa mengulur waktu pemungutan suara di parlemen. Pada Selasa (4/6/2024), mereka mencabut tuntutan itu.
Slovenia memproses pengakuan atas Palestina sejak awal Mei 2024. Saat itu, Ljubljana menyatakan akan menanti situasi terkait perang Hamas-Israel di Jalur Gaza.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/05/653552ed-ba26-43a9-b7db-892fb0abb5b4_jpg.jpg)
Golob menjelaskan, ia mempercepat proses pengakuan tersebut sebagai respons atas serangan terbaru Israel ke kota Rafah, Jalur Gaza selatan. Lebih dari 36.000 warga Palestina tewas dalam serangan Israel ke Gaza sejak Oktober 2023.
Baca juga: Israel Terus Membabi Buta di Rafah, Adakah Cara Menghentikannya?
Perang Hamas-Israel diawali serangan Hamas ke Israel selatan, 7 Oktober 2023. Sekitar 1.200 orang di Israel tewas, sedangkan sekitar 250 orang menjadi sandera faksi-faksi bersenjata di Jalur Gaza, termasuk Hamas. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
MUHAMMAD SAMSUL HADIEditor:
MUHAMMAD SAMSUL HADI