UTBK

SNBT 2026 Rumpun Sosial Humaniora, Prodi Mana Paling Memberi Peluang?

Kelima prodi ini selalu menarik banyak peminat. Namun, beberapa di antaranya justru mengalami tren penurunan peminat di tengah penambahan jumlah kursi.

26 Mar 2026 12:30 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Sri Rejeki, Insan Alfajri, Satrio Pangarso Wisanggeni

Di media sosial, orang tak hanya menikmati hiburan. Cukup banyak juga yang mencari nafkah di dunia itu lewat profesi-profesi anyar, seperti pemengaruh, kreator konten, atau afiliator. Gambaran profesi yang terakhir ini, seseorang ngonten sambil menyematkan tautan sebuah produk. Penghasilannya diperoleh dari komisi produk yang terjual.

Menurut konsultan pendidikan dan karier, Ina Liem, karakter dari pekerjaan-pekerjaan tersebut disukai generasi muda karena jam kerja dan lokasi kerjanya fleksibel.

Aspek ini juga yang menjadi salah satu pertimbangan bagi sebagian orang dalam menentukan bidang studi saat kuliah. ”Karena itu, Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi masih akan digemari dalam beberapa tahun mendatang,” ujar Ina, Senin (16/3/2026).

Pemengaruh (influencer) melakukan siaran langsung melalui media sosial untuk menginformasikan tentang mobil Aion UT yang baru saja diluncurkan pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD City, Tangerang, Banten, Rabu (23/7/2025).

Ilmu Komunikasi masuk dalam daftar 30 prodi dengan peminat terbanyak pada Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT UTBK) tahun 2025. Dalam rumpun sosial humaniora, selain Ilmu Komunikasi, ada pula Prodi Bahasa Inggris, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Ilmu Hukum, dan Hubungan Internasional dalam daftar tersebut.

Meskipun peminatnya banyak, dalam lima tahun terakhir trennya menurun 5.789 peminat, dari 63.842 orang pada 2021 menjadi 58.053 orang pada 2025. Di sisi lain, daya tampungnya meningkat 882 kursi menjadi 4.692 kursi pada 2025.

Tingkat keketatan paling tinggi di rumpun Ilmu Komunikasi didominasi PTN di Jawa, antara lain prodi Hubungan Masyarakat di Universitas Indonesia (UI), Ilmu Komunikasi di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Digital juga di UNJ.

Kendati tren peminatnya menurun, persaingan Ilmu Komunikasi di kampus-kampus besar tetap sangat ketat. Di Universitas Gadjah Mada, rasio Ilmu Komunikasi mencapai 1:66. Artinya, dari 66 peserta, hanya satu yang diterima. Di kampus besar lainnya, seperti di Universitas Indonesia, rasio Ilmu Komunikasi tercatat 1:50. 

Data lengkap tingkat keketatan dan rasio penerimaan prodi tersaji di tabel bawah ini. Tersedia pula fitur ”pencarian” berdasarkan PTN dan prodi serta sortir pada judul kolom untuk mengurutkan data dari yang paling tinggi ataupun paling rendah.

Prodi Bahasa Inggris kondisinya mirip dengan Ilmu Komunikasi. Tren peminatnya menurun dari 21.543 pada 2021 menjadi 16.700 pada 2025. Pada periode yang sama, daya tampungnya meningkat sebanyak 614 kursi. 

Adapun kampus dengan tingkat keketatan tertinggi untuk prodi Bahasa Inggris adalah Universitas Gadjah Mada. Dari 110 orang, hanya satu yang lulus di kampus itu. Peringkat kedua ditempati Universitas Airlangga dengan rasio 1:63, disusul Universitas Indonesia (1:40). 

Bidang bahasa atau multilingualisme (kemampuan multibahasa) sebenarnya merupakan area yang sangat terpengaruh dengan kehadiran akal imitasi (AI).

Para petugas penerjemah dalam sesi konferensi Komite Palestina dalam Konferensi ke-19 Persatuan Parlemen Anggota Organisasi Kerja Sama Islam atau Parliamentary Union of OIC (PUIC) 2025 di ruang sidang Komisi V Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (12/5/2025). Dalam konferensi di ruang ini merupakan pembahasan Komite Palestina. Pembahasan tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal PUIC Mouhammed Khouraichi Niass dan anggota komite tuan rumah Indonesia Mardani Ali Sera. Daam pembahasan tersebut mengutarakan situasi terkini Palestina dan juga membahas langkah-langkah yang akan ditempuh PUIC dalam menciptakan perdamaian di wilayah tersebut. PUIC 2025 dihadiri sekitar 500 delegasi anggota parlemen negara-negara anggota OKI dan digelar 12-15 Mei 2025 di kompleks DPR RI. Dalam penyelenggaraan ke-19 ini Indonesia menjadi tuan rumah dan juga menjadi perayaan ke-25 tahun perjalanan PUIC. Indonesia menjadi tuan rumah kedua kalinya setelah pada pertemuan tahun 2012 juga menghelat acara ini dan diselenggarakan di Palembang, Sumatera Selatan.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
12-5-2025

Menurut laporan ”Future of Jobs Report 2025” oleh Forum Ekonomi Dunia (WEF), tugas-tugas terkait bahasa, seperti penerjemahan, perangkuman teks kompleks, dan penyusunan draf teks sangat berpeluang digantikan oleh AI.

Akan tetapi, tugas ini tetap butuh pengawasan manusia, terutama untuk mengecek konteks komunikasi yang membutuhkan pemahaman nuansa budaya dan dinamika sosial yang kompleks.

Meski demikian, kemampuan menguasai lebih dari satu bahasa oleh WEF dimasukkan ke dalam taksonomi keterampilan global di bawah kategori keterampilan kognitif. Dengan begitu, kemampuan menguasai lebih dari satu bahasa tetap menjadi aset pengetahuan yang diakui secara global.

Berbeda dengan Ilmu Komunikasi dan Bahasa Inggris, peminat Ilmu Hukum terus menanjak dalam lima tahun terakhir. Dari 2021 hingga 2025, jumlah peminatnya meningkat sekitar 11.000 orang.

Data SNBT UTBK tahun lalu menempatkan prodi ini sebagai urutan ketiga terbanyak peminatnya setelah Manajemen dan Teknik Informatika yang bertengger di posisi puncak. 

Dari data terlihat, pelamar tidak hanya memburu Ilmu Hukum di kampus-kampus besar. Kampus yang membuka penerimaan mahasiswa baru pada 2025 ini pun turut kebanjiran peminat.

Contohnya, Prodi Ilmu Hukum Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang baru membuka penerimaan mahasiswa baru tahun lalu, rasio penerimaannya mencapai 1:51. Detailnya dapat dilihat pada tabel di bawah. 

Bidang hukum juga tidak luput dari pengaruh AI. Tugas-tugas administratif, seperti sekretaris legal dan pejabat legal akan diambil alih oleh AI.

Meskipun pekerjaan teknis di bidang hukum mulai digantikan AI, tenaga profesional di bidang hukum tetap dibutuhkan, terutama yang memiliki kemampuan berpikir analitik, memecahkan masalah kompleks, dan menilai nuansa di mana keterampilan ini belum bisa dilakukan oleh mesin (AI).

Menurut WEF, dalam lima tahun ke depan pekerjaan di bidang tertentu, seperti ekonomi keperawatan, akan meningkat signifikan, berbarengan dengan pekerjaan di bidang pendidikan, seperti dosen dan guru sekolah menengah.

Pemanfaatan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial intelligence/AI), ChatGPT, di sebuah kantor di Jakarta, Selasa (7/3/2023). ChatGPT adalah chatbot AI berupa model bahasa generatif yang menggunakan teknologi transformer untuk memprediksi probabilitas kalimat atau kata berikutnya dalam suatu percakapan ataupun perintah teks. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)

Di Tanah Air, profesi guru selalu menjadi incaran. Prodi PGSD termasuk dalam daftar 30 prodi peminat terbanyak pada UTBK SNBT 2025 dengan jumlah 45.416 orang.

Perguruan tinggi yang paling banyak menerima mahasiswa PGSD adalah Universitas Negeri Medan dengan daya tampung 288. Di kampus ini, tingkat rasio PGSD 1:9. Artinya, untuk lolos, seorang peserta harus mengalahkan sembilan peserta lainnya.  

Dari data juga terlihat, persaingan paling ketat masuk PGSD masih didominasi kampus-kampus pendidikan papan atas, seperti Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Negeri Yogyakarta. Di kampus eks IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) ini, rasionya rata-rata mencapai 1:20. 

Profesi sebagai guru juga tidak lepas dari pengaruh AI. Tugas-tugas guru yang dapat dilakukan dengan bantuan teknologi menyebabkan posisi asisten pengajar terdesak.

Secara umum, menurut Saadia Zahidi, Managing Director WEF, dalam laporan ”Future of Jobs Report 2025”, pasar kerja global di masa depan sangat dipengaruhi oleh perubahan teknologi, fragmentasi geoekonomi, ketidakpastian ekonomi, pergeseran demografis, dan transisi hijau.

Dengan begitu, dibutuhkan pemahaman tentang hubungan internasional untuk mengelola risiko geopolitik, menstabilkan rantai pasok global, dan memastikan keberlangsungan bisnis di tengah fragmentasi ekonomi dunia.

<p>Salah satu ibu guru honor di desa Kopa Kecamatan Alor Timur, NTT, juga mengajar sukarela sambil mengikuti kuliah PGSD di Kalabahi, Alor. Ia sedang mengajar siswa kelas 1-3 untuk membaca, menulis, dan menghitung, Mei 2017.</p>

Prodi Hubungan Internasional (HI) tidak pernah kehilangan daya tariknya meskipun daya tampungnya paling sedikit dibandingkan dengan Prodi Ilmu Komunikasi, Hukum, Bahasa Inggris, dan PGSD. Ini membuat persaingan untuk mendapatkan bangku kuliah di prodi ini semakin ketat.

Sebagai perbandingan, daya tampung Ilmu Hukum pada UTBK 2025 mencapai 11.173 orang. Adapun Hubungan Internasional hanya 1.848. Sejak 2021-2025, daya tampung di Prodi HI hanya bertambah 251 orang.

Daya tampung yang sedikit ini terkait dengan terbatasnya jumlah PTN yang memiliki Prodi HI, sekitar 30 saja. Kampus tiga besar, seperti Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia, hanya menyediakan belasan hingga 20-an kursi lewat jalur UTBK SNBT. Tidak heran jika pertarungan menjadi mahasiswa HI cukup sengit.

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Sri Rejeki, Insan Alfajri, Satrio Pangarso Wisanggeni
 | 

Editor:

Sri Rejeki
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra