Data intelijen yang akurat sangat dibutuhkan sebagai landasan pengambilan keputusan, terutama terkait dengan rencana pengiriman pasukan perdamaian.
14 Nov 2025 14:05 WIB · Politik & Hukum
Kompas/Willy Medi Christian Nababan
JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah Indonesia dan Jordania menyepakati kerja sama strategis untuk melakukan pertukaran informasi intelijen terkait dengan perkembangan situasi di Gaza, Palestina. Kesepakatan ini dicapai mengingat posisi geografis dan geopolitik Jordania yang sangat dekat dengan wilayah konflik sehingga memiliki akses informasi yang lebih akurat dan terkini.
Hal itu diungkapkan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin seusai menerima kunjungan Ketua Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Jordania Mayor Jenderal Yousef Ahmed al-Hunaity di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (14/11/2025).
”Kami memutuskan untuk meng-update laporan intelijen situasi di Gaza melalui Jordania,” ujarnya.
Menurut Sjafrie, langkah ini krusial agar Indonesia tidak buta terhadap situasi lapangan yang sebenarnya. Data intelijen yang akurat sangat dibutuhkan sebagai landasan pengambilan keputusan, terutama terkait dengan rencana pengiriman pasukan perdamaian.
”Jadi, yang penting adalah kita tidak kehilangan komunikasi, kita tidak kehilangan situasi, sehingga pada saat kita mengetahui situasi yang pasti, kita tahu apa yang akan kita kerjakan di sana,” katanya.
Sebagai tindak lanjut teknis dari kesepakatan ini, kedua angkatan bersenjata sepakat membentuk satu komite kerja sama khusus untuk tukar-menukar informasi. Selain itu, mekanisme pertukaran informasi ini akan diperkuat melalui jalur diplomasi pertahanan.
Sjafrie mengungkapkan, Indonesia tengah memproses penempatan Atase Pertahanan definitif di Jordania, meningkatkan status perwakilan yang saat ini masih berupa liaison officers atau perwira penghubung.
”Kami sudah mempersiapkan calon Atase Pertahanan Indonesia di Jordania. Sebaliknya, Jordania akan segera menempatkan Atase Pertahanannya di Jakarta,” ujar Menhan.
Jadi, yang penting adalah kita tidak kehilangan komunikasi, kita tidak kehilangan situasi, sehingga pada saat kita mengetahui situasi yang pasti, kita tahu apa yang akan kita kerjakan di sana.
Akses terhadap intelijen Jordania ini menjadi bagian vital dari persiapan Indonesia mengirimkan pasukan perdamaian ke Gaza. Sjafrie menyebut, Presiden Prabowo berencana menyiapkan hingga 20.000 prajurit dengan spesifikasi kemampuan kesehatan dan konstruksi.
Mengenai payung hukum pengiriman pasukan, Indonesia membuka dua opsi, yakni mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau melalui inisiatif organisasi internasional yang digagas Presiden Amerika Serikat.
Sjafrie menekankan, Indonesia akan bergerak jika sudah mendapatkan ”lampu hijau” dari pihak-pihak kunci di kawasan, termasuk negara-negara Arab dan Israel.
”Kita menunggu tindak lanjut dari persiapan yang akan dilaksanakan untuk perdamaian di Gaza sebagai alternatif perdamaian yang akan dilaksanakan atas inisiatif Presiden Amerika Serikat,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/14/3b682a7b1443033e4575db5ee1c80a1a-IMG20251114100536.jpg)
Kunjungan delegasi militer Jordania ini mendahului kunjungan tingkat tinggi kenegaraan. Raja Jordania Abdullah II bin al-Hussein dijadwalkan bertemu Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (14/11/2025) sore ini.
Menteri Luar Negeri Sugiono telah mengonfirmasi rencana pertemuan kedua pemimpin negara tersebut. Kunjungan ini merupakan balasan sekaligus kelanjutan dari pertemuan sebelumnya antara Prabowo dan Raja Abdullah II di Istana al-Husseiniya, Amman, Jordania, pada 14 April 2025.
Hubungan kedua pemimpin dikenal sangat erat karena dilandasi persahabatan panjang yang terjalin sejak masa muda mereka saat sama-sama berkarier sebagai perwira militer. Dalam pertemuan di Amman sebelumnya, Raja Abdullah II menyampaikan apresiasi khusus atas persahabatan tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/06/b349e543-9fbd-4350-9116-290472632f82_jpeg.jpg)
Selain itu, kerja sama erat antara Indonesia dan Jordania dalam isu Gaza telah terbukti nyata melalui misi kemanusiaan pada Agustus 2025. Saat itu bertepatan dengan momen HUT Ke-80 RI, Indonesia untuk pertama kalinya berhasil mengirimkan bantuan via udara (airdrop) ke Gaza. Misi bersejarah ini melibatkan Satuan Tugas Merah Putih II yang menerjunkan bantuan logistik langsung dari pesawat C-130J Super Hercules TNI AU yang lepas landas dari King Abdullah II Air Base, Amman.
Total bantuan yang dikirimkan mencapai 800 ton, terdiri dari makanan pokok, obat-obatan, selimut, hingga perlengkapan anak-anak. Operasi pengiriman ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Pertahanan, TNI, Kementerian Luar Negeri, dan Baznas. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto saat melepas keberangkatan satgas menegaskan misi ini sebagai perintah langsung Presiden dan wujud nyata solidaritas aktif Indonesia.
Pengiriman bantuan tersebut dilakukan dalam operasi gabungan bersama sejumlah negara, seperti Uni Emirat Arab, Jerman, Belgia, Perancis, Italia, Belanda, dan Singapura. Keberhasilan misi ini mendapatkan sorotan internasional, termasuk dari media Israel, sebagai bukti nyata kontribusi Indonesia bagi perdamaian dunia dan solidaritas kemanusiaan internasional.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
C. Wahyu Haryo P