PERINGKAT KREDIT INDONESIA

Soroti Masalah Tata Kelola, Moody’s Turunkan Proyeksi Peringkat Utang Indonesia

Moody’s membunyikan alarm tentang persoalan tata kelola Pemerintah Indonesia. Apa implikasinya?

05 Feb 2026 20:36 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/ERIKA KURNIA

Oleh FX Laksana Agung Saputra

JAKARTA, KOMPAS — Moody’s Ratings (Moody’s) menurunkan proyeksi peringkat utang Pemerintah Indonesia dari ”stabil” menjadi ”negatif”. Moody’s membunyikan alarm bahwa risiko ke depan meningkat dan, jika tidak dikoreksi, dapat berujung pada penurunan peringkat utang pemerintah yang berisiko membuat investor global enggan masuk ke pasar keuangan domestik sehingga meningkatkan biaya pendanaan negara.

”Perubahan outlook ini didorong oleh menurunnya prediktabilitas dalam perumusan kebijakan, yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan dan mengindikasikan pelemahan tata kelola pemerintahan,” kata Moody’s dalam pengumuman tertulis yang diunggah di situs resminya, Kamis (5/2/2026).

Jika berlanjut, Moody’s mengingatkan, persoalan itu dapat mengikis kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama terbangun dan menopang pertumbuhan ekonomi serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan.

Perubahan yang ditetapkan Moody’s adalah pada proyeksi, bukan peringkat utang. Peringkat utang Pemerintah Indonesia tetap pada Baa2. Baa2 adalah peringkat utang layak investasi dengan risiko menengah. Dalam peringkat ini, Indonesia masih dipercaya membayar utang, tetapi investor harus memperhatikan ketidakpastian kebijakan dan tata kelola.

Satu peringkat lebih rendah dari Baa2 adalah Baa3, level terendah di kategori Investment Grade atau layak mendapat utang. Artinya, masih layak investasi, tetapi risiko kredit lebih tinggi.

Implikasinya, investor institusional lebih hati-hati membeli obligasi negara. Imbal hasil obligasi negara berisiko meningkat karena investor minta premi risiko lebih tinggi. Kredibilitas kebijakan dan tata kelola menjadi sorotan lebih besar.

Direktur Utama sementara PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik; Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir; anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi; anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi; serta Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Samsul Hidayat (dari kiri ke kanan) dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). Meski Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah di level 7.922,73 hari ini, data BEI mencatat bahwa transaksi memperlihatkan adanya pembelian bersih asing yang terkonsentrasi pada saham perbankan, telekomunikasi, energi, hingga pertambangan.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
02-02-2026

Outlook atau proyeksi adalah pandangan Moody’s tentang arah risiko ke depan. Hal yang dinilai adalah kemampuan Pemerintah Indonesia membayar tepat waktu seluruh kewajiban utangnya di masa depan.

Utang pemerintah mencakup utang melalui surat utang negara (SUN), SBSN atau sukuk negara, utang bilateral dan multilateral, dan obligasi global. Ini baik yang diterbitkan sekarang maupun masa depan.

Outlook stabil berarti lembaga pemeringkat menilai bahwa risiko utama terkendali dan tidak ada tekanan signifikan untuk mengubah peringkat dalam waktu dekat. Dengan kata lain, lembaga pemeringkat menilai kebijakan relatif konsisten, kerangka fisal dan moneter dipercaya, serta tidak ada kejutan besar. Konsekuensinya, peluang naik ataupun turun peringkat kecil. Investor nyaman dan tenang.

Sementara outlook negatif, berarti risiko ke depan cenderung meningkat. Jika tidak diperbaiki, peringkat bisa diturunkan. Ini bukan berarti peringkat langsung turun dan bukan pula berarti gagal bayar, melainkan faktor risiko sedang bergerak ke arah yang tidak menguntungkan.

Implikasinya bagi pemerintah, biaya utang bisa naik. Ruang fiskal jadi menyempit. Untuk pasar keuangan, investor asing jadi lebih berhati-hati. Sementara rupiah, SBN, dan IHSG berisiko terus bergejolak. Bagi dunia usaha dan BUMN, biaya pendanaan eksternal berisiko naik.

Sementara untuk masyarakat, dampaknya bersifat tidak langsung dan bertahap, di antaranya bunga kredit berisiko naik, ruang subsidi dan belanja publik makin sempit, dan pajak berpotensi naik di masa depan.

Wakil Menteri Keuangan Thomas Aquinas Djiwandono, yang juga keponakan Presiden Prabowo Subianto, mengikuti uji kelayakan dan kepatutan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia di hadapan Komisi XI DPR, di Komoleks Parlemen, Jakarta, Senin (26/1/2026). Terdapat tiga kandidat yang telah diusulkan Gubernur BI Perry Warjiyo untuk menduduki jabatan Deputi Gubernur BI yakni Thomas Djiwandono, Dicky Kartikoyono, dan Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Solikin M Juhro. Kompas/Hendra A Setyawan

Merujuk penjelasan Moody’s, perubahan outlook disebabkan oleh kombinasi faktor tata kelola, kebijakan, dan risiko institusional. Kompas mencatat, setidaknya ada enam pertimbangan Moody’s sampai mengubah proyeksi utang Pemerintah Indonesia.

Pertama, Moody’s menilai arah kebijakan pemerintah makin sulit ditebak. Koordinasi antarkebijakan lemah dan komunikasi kebijakan ke pasar kurang konsisten. Dampaknya, gejolak pasar saham dan nilai tukar rupiah meningkat, serta persepsi kredibilitas kebijakan kian lemah.

Kedua, tata kelola dan faktor kelembagaan pemerintahan lemah. Terkait ini, Moody’s merujuk skor Indonesia dalam Worldwide Governance Indicators yang turun. Variabel penilaiannya adalah efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi.

Ketiga, risiko fiskal sebagai konsekuensi kebijakan belanja publik dan program sosial. Moody’s menyoroti ketidakseimbangan antara ambisi belanja dan kapasitas penerimaan. Belanja publik yang disebut adalah program Makan Bergizi Gratis dan perumahan terjangkau yang dibiayai melalui realokasi anggaran dan pemotongan pos lain, termasuk pemeliharaan infrastruktur.

Kepala Badan Pelaksana Danantara Rosan Roeslani (tengah, Kepala Pelaksana Bidang Operasional Danantara Dony Oskaria (kanan), dan Kepala Bidang Investasi Danantara Pandu Sjahrir (kiri) di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (5/3/2025).

Keempat, ketidakpastian tata kelola dana kekayaan negara oleh Danantara. Kekhawatiran Moody’s adalah skala aset yang dikelola Danantara sangat besar dengan mandat luas dan ambisius. Sementara, tata kelola, pendanaan, dan prioritas investasi belum sepenuhnya jelas.

Kelima, wacana kebijakan yang menimbulkan kontroversi. Wacana yang dimaksud meliputi wacana menaikkan batas defisit fiskal ke 3 persen, perdebatan mandat  dan tata kelola Bank Indonesia, serta perubahan kebijakan sektor sumber daya alam.

Keenam, meningkatnya risiko sosial dan stabilitas politik. Ini adalah variabel sekunder tetapi tetap relevan. Moody’s mencatat, protes publik meningkat, serta ketidakpuasan atas pertumbuhan pendapatan, lapangan kerja, dan standar hidup.


Kerabat Kerja

Penulis:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Editor:

Albertus Subur Tjahjono