Musim ini Raphinha menjadi pemain Barca dengan keterlibatan gol terbanyak, yakni 27. Jumlah itu termasuk 18 gol dan sembilan asis.
22 Mei 2025 14:41 WIB · Tokoh
Dibesarkan dalam kemiskinan yang tiada henti, Raphinha berhasil melewati berbagai macam rintangan untuk menjadi pesepak bola profesional. Piawai sebagai penyerang, Raphinha juga punya kemampuan bertahan mengagumkan. Seni bertahan itu dia perlihatkan saat melewati kerasnya kehidupan.
Barcelona resmi mengunci gelar juara Liga Spanyol ke-29 seusai menaklukkan Espanyol, 2-0, dalam Derbi Catalan di Stadion RCDE, Jumat (16/5/2025) dini hari WIB. Lamine Yamal dan Fermin Lopez memecah kebuntuan sekaligus menjadi pahlawan kemenangan Barca berkat lesakan gol mereka pada babak kedua. Meski tidak mencetak gol pada laga penentuan juara, Raphinha punya andil besar dalam kesuksesan Barca meraih tiga gelar domestik, yakni Piala Super Spanyol, Piala Raja Spanyol, dan Liga Spanyol.
Penyerang sayap asal Brasil itu merupakan jantung permainan Barca di bawah arahan Pelatih Hansi Flick. Bersama Yamal yang beroperasi di sayap kiri, Raphinha membentuk kombinasi mengerikan di lini depan Barca. Meski sama-sama punya kemampuan dalam memecah blok lawan serta menjadi pembeda hasil akhir laga, pengalaman atau jam terbang bermain membuat Raphinha jadi semacam sosok yang lebih lengkap dari Yamal.
Musim ini Raphinha menjadi pemain Barca dengan keterlibatan gol terbanyak, yakni 27. Jumlah itu termasuk 18 gol dan sembilan asis. Capaian Raphinha tersebut hanya bisa disaingi penyerang Robert Lewandowski dengan jumlah keterlibatan gol yang sama dengan Raphinha.
Walau demikian, keberadaan Raphinha lebih terasa lantaran kerap mencetak gol di saat-saat penting. Salah satunya ketika mencetak dua gol ke gawang Real Madrid dalam kemenangan 4-3 Barca. Kemenangan itu turut menjadi momentum penting Barca merebut gelar juara karena memperlebar jarak dengan Real di puncak klasemen.
Dari yang sebelumnya kurang diperhitungkan, Raphinha menjelma sebagai jantung serangan Barca. Dia pernah merencanakan hengkang musim ini menyusul rencana Barca mendatangkan penyerang sayap Athletic Bilbao, Nico Williams. Namun, kedatangan Flick mengubah rencana Raphinha. Juru taktik asal Jerman itu meyakinkan Raphinha untuk bertahan sekaligus membuatnya merasa dibutuhkan tim.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/11/31cf9b7b96ee15f971ac96e758442f87-000_469Z2PR.jpg)
”Ia telah mengubah segalanya bagi saya. Saya hampir meninggalkan klub sebelum musim dimulai, tetapi pelatih sangat penting dalam mengubah pikiran saya dan membuat saya bertahan di klub. Ia menaruh kepercayaannya kepada saya untuk melakukan apa yang saya bisa lakukan. Saya menjalani musim terbaik dalam sepak bola dan saya berutang segalanya kepadanya,” kata Raphinha yang bernama asli Raphael Dias Belloli.
Selain Flick, ada dua sosok yang berperan penting dalam kelanjutan karier spektakuler Raphinha. Satu sosok lain yang dimaksud ialah ibu Raphinha.
Sebagaimana pesepak bola asal Brasil kebanyakan, Rapinha juga terlahir dari keluarga serba kekurangan. Ia lahir di Restinga, sebuah favela atau kawasan miskin yang jauh dari kota Porto Alegre. Sejak berusia tujuh tahun, Raphinha sudah menjadikan sepak bola sebagai jalan hidupnya. Ia memutuskan tidak melanjutkan sekolah demi mewujudkan mimpi menjadi pesepak bola profesional.
Ia menaruh kepercayaannya kepada saya untuk melakukan apa yang saya bisa lakukan. Saya menjalani musim terbaik dalam sepak bola dan saya berutang segalanya kepadanya.
Langkah pertama menjadi pesepak bola profesional adalah bergabung dengan akademi klub lokal di Brasil. Namun, upaya itu cukup sulit mengingat Brasil memiliki bakat sepak bola yang melimpah. Untuk masuk akademi, satu pemain harus bersaing dengan ratusan anak lainnya. Raphinha berkali-kali mencoba masuk akademi klub papan atas seperti Internacional dan Gremio.
Berkali-kali mengikuti seleksi, sebanyak itu pula ia gagal. Meski punya teknik mumpuni, postur Raphinha dianggap terlalu kecil dan lemah.
Para pemain yang gagal masuk akademi biasanya tampil di turnamen varzea untuk menyambung hidup. Varzea merujuk pada turnamen level wilayah, seperti tarkam di Indonesia, tetapi dengan tingkat kekerasan yang jauh lebih tinggi. Pesepak bola dari sejumlah wilayah di Brasil bisa bermain dari satu varzea ke varzea lain. Mereka tidak dikontrak, tetapi dibayar sesuka hati.
Lapangannya pun sangat tidak memadai, bukan rumput, melainkan debu dan pasir. Tiang gawang tidak dilengkapi jaring dan para pemain mengenakan seragam tanpa nomor punggung.
”Para pemain (di varzea) adalah orang-orang buangan. Mereka bermain dengan amarah. Mereka bermain untuk bertahan hidup. Mereka bermain seolah-olah hidup mereka bergantung pada varzea,” kata Raphinha.
Setelah berkali-kali ditolak masuk akademi, Raphinha pernah terlibat dalam turnamen varzea. Raphinha pernah mengalami kejadian mengerikan saat pintu ruang ganti timnya dipukul secara keras. Dari luar, ada sekumpulan orang berteriak mengancam akan membunuh Raphinha beserta rekan-rekannya bila memenangi pertandingan.
Walau keras, varzea turut membentuk kepribadian Raphinha yang tidak pernah gentar bermain di hadapan pendukung tim lawan. ”Saya masih sangat bangga karena telah bermain di banyak turnamen varzea, dan sejujurnya, saya menyukainya. Pertandingan-pertandingan itu membuat saya begitu tangguh. Saat saya bermain sekarang, saya ingin dicemooh. Saya menginginkan tekanan dan intimidasi. Itulah yang membuat saya terus maju,” ujar Raphinha dikutip dari The Players Tribune.
”Itulah sebabnya, saya selalu katakan bahwa jika Anda bisa bermain di pertandingan varzea, maka Anda sudah terlatih bermain di mana saja. Final besar Eropa? Tidak peduli. Stadion dengan 90.000 orang? Silakan saja,” lanjutnya.
Sembari mengikuti turnamen varzea, Raphinha terus mencoba peruntungan dengan melamar masuk ke akademi-akademi yang lain. Ia akhirnya lolos menjadi bagian akademi klub kecil, Avai. Jarak tempuh dari Porto Alegre ke markas Avai sekitar enam jam perjalanan ke utara.
Bergabung dengan akademi bukan berarti akhir perjalanan karier Raphinha. Di sana, ia pun harus berjuang menampilkan kemampuan terbaik demi dilirik klub yang lebih besar. Selain itu, akademi akan mencoret pemain yang tidak menunjukkan perkembangan signifikan.
Setelah beberapa tahun bergabung dengan akademi Avai, Raphinha menderita cedera parah. Dia juga beberapa kali tidak menjadi pilihan utama pelatih. Situasi itu sempat membuatnya menyerah dan kembali ke kampung halaman.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/01/650c661b2e45a1d06c07684fe3dfb658-AFP_36NU4CZ.jpg)
Di kamarnya yang sempit, Raphinha duduk termenung. Pikirannya kacau. Ia kemudian memutuskan menelepon orangtuanya dan berkeluh kesah. ”Saya mengatakan bahwa saya sudah muak. Saya ingin pulang. Saya sudah selesai,” ucapnya.
Namun, ibu Raphinha menguatkannya seraya mengatakan bahwa hal-hal sulit senantiasa akan berlalu jua. Bila tidak melanjutkan mimpi menjadi pesepak bola, Raphinha pun tidak punya pilihan. Lantaran sudah bercita-cita menjadi pesepak bola profesional, Raphinha tidak menamatkan sekolah. Jika ia menyerah, artinya peluang bertahan hidup baginya hanya tersedia dengan menjadi pegawai supermarket atau tukang pangkas rambut.
Mendapat ”suara ajaib” dari sang ibu, Raphinha merasa sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali. Ia lantas berusaha keras sembuh dari cedera dan melanjutkan kariernya di akademi. Dari sana, Raphinha lantas dilirik akademi klub Portugal, Guimaraes B. Kariernya terus berkembang pesat dengan menembus tim utama. Raphinha kemudian pindah ke Sporting CP dan melebarkan sayap dengan bergabung bersama klub Perancis, Stade Rennais.
Itulah sebabnya, saya selalu katakan bahwa jika Anda bisa bermain di pertandingan varzea, maka Anda sudah terlatih bermain di mana saja.
Bakat Raphinha mulai tercium klub-klub besar Eropa lantaran sering berperan sebagai pengubah hasil akhir laga. Tawaran dari klub besar datang. Marcelo Bielsa menjadi pihak terdepan yang tertarik terhadap bakat Raphinha. Bielsa kemudian membawa Raphinha ke Leeds United dan dari sanalah kariernya terus berkembang.
Di Portugal, pertama bersama Vitoria Guimaraes dan kemudian Sporting, ia menunjukkan kemampuannya untuk mengalahkan para pemain bertahan dan menciptakan peluang, sementara di Rennes ia membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi pengubah permainan.
Di bawah tempaan Bielsa, Raphinha mengembangkan daya tahan fisik yang luar biasa, yang membuat gaya bermainnya yang eksplosif dapat dipertahankan. Selain itu, kemampuan pergerakan tanpa bolanya meningkat pesat. Dari Bielsa, Raphinha belajar cara intensitas dalam menekan dan belajar bergerak secara cerdas tanpa bola.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/25/a0360eaf2caaa073c3fd853c28f20d73-FBL_ESP_LIGA_CELTA_VIGO_BARCELONA_125711857.jpg)
Ketajaman Raphinha semakin meningkat saat bergabung dengan Barca arahan Flick. Sempat terbuang di era Xavi Hernandez, Flick mempertajam keterampilan Raphinha, terutama dalam pentingnya membuat keputusan yang lebih cerdas, mengetahui kapan harus menggiring bola dan kapan harus mengoper. Gaya bermain Flick yang lebih langsung (direct) juga cocok untuknya. Puncaknya, Raphinha memimpin Barcelona meraih tiga gelar domestik dalam semusim.
Raphinha memang menjadi salah satu penyerang sayap terbaik di kolong jagat. Namun, mengingat perjuangan berat mengejar impian menjadi pesepak bola yang telah dilaluinya, agaknya kemampuan utama Raphinha bukanlah menyerang, melainkan bertahan dari segala macam ujian hidup yang menerpa.
Lahir: Porto Alegre, Brasil, 14 Desember 1996
Tinggi badan: 1,76 m
Posisi: pemain sayap
Klub: Vitória de Guimarães, Sporting CP, Rennes, Leeds United, Barcelona
Timnas: Timnas Brasil (33)
Prestasi: Piala Super Spanyol (2), Copa del Rey, La Liga (2)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Dwi As SetianingsihPenyelaras Bahasa:
Nur Adji