Dunia butuh perubahan ke energi terbarukan segera. Pemuda selaku ahli waris masa depan adalah ujung tombaknya.
15 Agt 2025 18:41 WIB · Tokoh
Krisis iklim merupakan ancaman terbesar bagi dunia. Sayangnya, memitigasi krisis ini dan mengadvokasi peralihan ke energi terbarukan seolah belum menjadi prioritas Pemerintah Indonesia. Ketergantungan terhadap energi fosil berupa minyak, gas, dan batubara masih sangat tinggi.
Di tengah tantangan itu, Indonesia boleh berbangga. Salah satu pemudanya, Zagy Berian (27), terpilih menjadi salah satu dari 14 penasihat muda Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres. Ia adalah satu-satunya wakil dari Asia Tenggara dan bergabung dengan Kelompok Penasihat Muda Sekjen PBB untuk Urusan Perubahan Iklim.
”Saya tertarik menekuni energi terbarukan sejak masih kuliah di Jurusan Teknik Mesin ITB (Institut Teknologi Bandung). Di sana, saya belajar bahwa sebenarnya sumber energi itu ada banyak,” kata Zagy dalam wawancara khusus dengan Kompas di Jakarta, Rabu (13/8/2025).
Ia pun selama kuliah banyak meneliti soal energi terbarukan, terutama panas bumi dan surya. Mengikuti seminar mengenai penggabungan dua smber energi terbarukan menjadi kegiatan yang lazim ia lakukan.
Zagy juga rajin menuangkan penelitiannya ke dalam makalah ilmiah yang diterbitkan di sejumlah jurnal. Bahkan, skripsinya pun mengenai studi kelaikan hibrida panas bumi dan surya di Ulumbu, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Selain meneliti dan mengikuti seminar, pada tahun ketiga kuliah, yakni di 2019, Zagy mendirikan komunitas yang diberi nama Society of Renewable Energy (Masyarakat Energi Terbarukan/SRE) di ITB. Ia melakukannya karena melihat walaupun isu energi terbarukan ini strategis, belum banyak anak muda yang berkecimpung di dalamnya. Apabila target peralihan ke energi terbarukan harus dilakukan di pertengahan abad ini demi menurunkan suhu Bumi dari pemanasan global, artinya anak-anak muda yang harus aktif bergerak.
SRE berusaha mengadvokasi isu tersebut agar menarik bagi kalangan muda. Awalnya, kegiatan SRE sebatas diskusi dan menggali gagasan untuk topik skripsi ataupun lomba ilmiah. Setelah itu, berkembang dengan bekerja sama berbagai perusahaan, antara lain Astra, Pertamina, dan Perusahaan Listrik Negara.
Dari acara seminar di kampus yang mengundang para pakar energi terbarukan dari lembaga-lembaga tersebut, SRE berhasil merutinkan kunjungan ke lapangan. Di sana, mahasiswa melihat langsung praktik pemakaian teknologi energi terbarukan sesuai dengan kebutuhan industri.
Komunitas ini pun mulai mencoba mempraktikkan hal-hal yang mereka pelajari. Proyek pertama mereka buat di kampus ITB. Setelah itu, mereka memberanikan diri ke Garut, Jawa Barat, pada 2020 untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya dan pompa airnya.
”Saya belajar cara berkomunikasi dan berkolaborasi dengan masyarakat. Dulu, saya kalau ngomong teknis banget. Warga di Garut enggak paham waktu saya bilang turbin. Untung ada teman yang bisa menjelaskan. ’Oh, maksudnya kincir angin’, baru deh mereka paham,” kenang Zagy sambil tertawa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/15/481c9c7ca474d98bd5b1292daff57795-875a5948_fc04_49d6_80d8_f7816dfc10d6.jpeg)
Para anggota SRE belajar bekerja sama dengan warga dan badan-badan usaha di daerah. Hal ini penting karena ketika proyek selesai, masyarakat setempat yang harus memastikan kelanjutannya.
Dari pengalaman itu, Zagy dan kawan-kawan semakin percaya diri untuk berkolaborasi dengan berbagai lembaga. Sudah lebih dari 100 PLTS yang mereka buat. Dibandingkan pembangkit energi yang lain, PLTS dipilih karena pembuatannya cepat dan perawatan lanjutannya mudah sehingga cocok untuk daerah-daerah terpencil di Nusantara.
”Perusahaan-perusahaan mengontak SRE untuk melakukan aksi tanggung jawab sosial (CSR) berupa memasukkan listrik ke desa-desa,” kata Zagy.
Sistemnya tidak cuma datang dan membangun proyek. SRE membangun jaringan bersama para mahasiswa lokal. Di dalamnya juga ada peningkatan kapasitas mereka soal energi terbarukan dan berorganisasi. Selain di Papua, ada 51 kampus di Indonesia yang bersinergi dengan SRE.
Per tahun, ada sekitar 4.000 mahasiswa yang berkolaborasi dengan SRE. Setiap tahun, bisa 100 mahasiswa mengikuti berbagai lomba ilmiah. Bahkan, ada yang kolaborasinya sampai ke luar negeri. Tidak terhitung jumlah skripsi dan makalah yang lahir dari pengalaman para mahasiswa di SRE.
Ini pula yang membuat Zagy memutuskan fokus sepenuhnya ke SRE. Setiap kali melakukan proyek, SRE memperoleh dana dari sponsor. Setelah membayar para sukarelawan, SRE masih memiliki sisa kas untuk mengubah organisasi itu menjadi yayasan dan menggaji karyawan tetap. Proyek-proyek dan kolaborasi kini bisa dijalankan secara profesional.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/15/ad56fa7538ccbbe39593e4c0e3be47b8-984c4a49_7ddd_4e00_b779_636ac322d8c0.jpeg)
Selama di SRE ini Zagy kerap diminta bantuan oleh kementerian/lembaga terkait proyek-proyek energi terbarukan. Salah satunya di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Zagy pun rutin dikirim untuk mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Iklim PBB (COP).
Tahun 2024 sangat berkesan bagi Zagy. Pertama kali, topik energi terbarukan dibahas di sidang Majelis Umum (MU) PBB. Zagy diberi kesempatan berpidato di sana atas undangan Perdana Menteri Kamerun 2009-2019 Philemon Yang selaku Presiden MU PBB.
Ia berpidato mengenai pentingnya kolaborasi dari gerakan-gerakan akar rumput. Hal-hal kecil ini jika dilakukan secara kolektif memiliki dampak yang besar bagi dunia. Di sana, para pakar menghitung potensi raksasa dari beragam gerakan tersebut.
Setelah ajang tersebut, pada Maret 2025, Zagy mendapat kabar dari kantor Sekjen PBB. Rupanya, ada yang menominasikan ia menjadi penasihat muda bagi Sekjen Guterres untuk bidang perubahan iklim. Masa tugasnya sampai dengan 2027, sesuai dengan masa jabatan Guterres.
”Tugas saya mencari praktik-praktik terbaik di wilayah Asia. Dari sana, saya membuat laporan empat kali per tahun untuk Pak Sekjen. Kalau beliau setuju dengan usulan itu, nanti didisposisi ke lembaga-lembaga terkait di PBB,” tutur Zagy.
Di Asia, umumnya menuju ke arah PLTS karena praktis. Isu soal penampungan energi ke dalam baterai dan teknologi pengolahan limbah yang ramah lingkungan juga menjadi perhatian. Pada dasarnya, transisi ke energi terbarukan harus bisa dinikmati oleh semua orang.
”Jangan lupa juga penyiapan manusianya. Gagasan, teknologi, dan dana ada. Tapi, kalau orangnya tidak siap, kita tidak akan bisa bertransformasi,” kata Zagy.
Nama: Zagy Yakana Berian
Tempat/tanggal lahir: Karawang, Jawa Barat, 8 April 1998
Pendidikan: Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (lulus 2020)
Prestasi: Penasihat Muda Sekjen PBB untuk Perubahan Iklim 2025-2027; Pendiri dan Pemimpin Yayasan Society of Renewable Energy; Fasilitator Dana Pemuda Keadilan Iklim (Youth Climate Justice Fund)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Sarie Febriane, Kris Mada