S&P Proyeksi Pelemahan Fiskal Indonesia, Pasar Saham dan Rupiah Tertekan

Investor asing ”wait and see” dengan pasar Indonesia.

06 Feb 2026 19:55 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Penilaian terbaru lembaga pemeringkat internasional kembali menempatkan Indonesia dalam sorotan pelaku pasar global. Sinyal kehati-hatian ini langsung tecermin pada pergerakan pasar saham dan nilai tukar rupiah yang melemah pada perdagangan akhir pekan.

Lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) Global Ratings, Jumat (6/2/2026), turut menyoroti pelemahan kondisi fiskal Indonesia berpotensi menekan peringkat kredit, meskipun saat ini peringkat masih bertahan di level layak investasi.

S&P menyatakan tekanan terhadap peringkat Indonesia akan meningkat jika utang pemerintah umum bersih bertambah lebih dari 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan pembayaran bunga secara konsisten melampaui 15 persen dari pendapatan negara.

Pernyataan itu disampaikan analis S&P Global Ratings, Rain Yin, dalam tanggapan tertulis kepada Bloomberg.

Pada Juli lalu, S&P menegaskan peringkat Indonesia di level BBB dengan prospek stabil dan hingga kini belum merilis pembaruan resmi. Namun, pasar membaca peringatan tersebut sebagai sinyal bahwa ruang kebijakan fiskal Indonesia semakin terbatas.

Kamis (5/2/2026), tekanan terhadap sentimen pasar juga datang dari Moody’s Investors Service yang menurunkan outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meskipun mereka mempertahankan peringkat surat utang pemerintah di level Baa2 atau investment grade, penurunan outlook ini dipersepsikan investor sebagai meningkatnya risiko kebijakan dan tata kelola, bukan semata-mata pelemahan fundamental jangka pendek.

Murid menerima makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri Kokap, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, DI Yogyakarta, Kamis (8/1/2026). Sejumlah bagian bangunan sekolah yang mulai beroperasi pada tahun 1945 tersebut mengalami kerusakan akibat longsor pada talud yang terjadi pada 1 Januari 206 lalu. Kondisi tanah yang semakin ambles memunculkan risiko pada guru dan murid sekolah itu sehingga sebagian murid harus mengikuti kegiatan belajar di tenda darurat yang difungsikan sebagai ruang kelas.

Kombinasi peringatan S&P dan revisi outlook Moody’s datang di tengah periode yang penuh gejolak secara politik dan kebijakan. Sejumlah langkah pemerintah, mulai dari penyitaan aset tambang dan perkebunan, restrukturisasi BUMN besar, hingga peluncuran program kesejahteraan yang mahal, dinilai meningkatkan ketidakpastian.

”Sentimen kemungkinan akan tetap bergejolak dalam jangka pendek,” ujar analis OCBC, Venkateswaran, seraya menekankan pentingnya pilihan kebijakan yang kredibel dalam 12-18 bulan ke depan untuk mencegah penurunan peringkat penuh.

Tekanan sentimen tersebut langsung tecermin di pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,08 persen ke level 7.935,26 pada perdagangan Jumat (6/2/2026), melanjutkan koreksi mingguan yang cukup dalam. Rupiah juga ditutup melemah di level Rp 16.876 per dolar AS di pasar spot.

Laporan riset Phintraco Sekuritas, Jumat sore, menilai, pelemahan fiskal tetap menjadi faktor risiko apabila tidak diimbangi perbaikan di area lain.

Dari sisi stabilitas eksternal, cadangan devisa Indonesia tercatat turun menjadi 154,6 miliar dolar AS pada Januari 2026, dari 156,5 miliar dolar AS pada Desember 2025. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah Bank Indonesia dalam menstabilkan rupiah.

Ilustrasi Danantara  mendominasi

Di tengah tekanan pasar, sejumlah indikator fundamental menunjukkan ketahanan ekonomi domestik. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Indonesia versi S&P Global naik ke level 52,6 pada Januari 2026 menandakan ekspansi yang didorong oleh permintaan domestik. Pertumbuhan ekonomi 2025 tercatat 5,11 persen, tertinggi sejak 2022, dengan konsumsi rumah tangga dan investasi sebagai penopang utama.

Namun, indikator sektor riil juga menunjukkan sinyal kehati-hatian. Indeks harga properti tumbuh 0,83 persen secara tahunan pada kuartal IV-2025, menjadi laju paling lambat sejak 2023. Hal ini mencerminkan normalisasi permintaan di tengah suku bunga yang masih relatif ketat dan ketidakpastian global.

Phintraco Sekuritas menilai, volatilitas pasar masih akan tinggi dalam jangka pendek. Selama indeks berada di bawah level psikologis 8.000, risiko pengujian di kisaran 7.824 tetap terbuka. Apabila level tersebut ditembus, koreksi lanjutan menuju 7.700–7.800 berpotensi terjadi pekan depan.

Analis pasar modal Stocknow, Hendra Wardana, saat dihubungi hari ini, menilai koreksi saat ini mencerminkan fase wait and see investor asing.

”Bukan berarti asing sepenuhnya kehilangan kepercayaan, melainkan mereka masih menunggu konsistensi kebijakan dan stabilitas pasar,” ujarnya.

Ia menambahkan, koreksi saham-saham berkapitalisasi besar justru mulai membuka peluang akumulasi bertahap bagi investor jangka panjang pada emiten dengan fundamental kuat.

Ke depan, arah pasar domestik akan sangat dipengaruhi oleh respons pemerintah dan otoritas keuangan terhadap kekhawatiran fiskal, serta rilis data konsumsi domestik seperti Indeks Keyakinan Konsumen, penjualan ritel, dan penjualan kendaraan.

Selama kejelasan kebijakan jangka menengah belum sepenuhnya terbentuk, pasar saham dan rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan sentimen lembaga pemeringkat tetap menjadi salah satu faktor penentu.

Korea Investment and Sekuritas Indonesia dalam laporannya pada Jumat sore memprediksi, pada pekan depan, IHSG akan melemah dalam kisaran 7.630-8.755. Tekanan di pasar juga diperparah oleh aksi jual investor asing dengan penjualan bersih mencapai Rp 3,61 triliun sepanjang 30 Januari-5 Februari 2026.

IHSG diperkirakan akan bergerak mixed to slightly bearish minggu depan dengan risiko koreksi tetap ada karena sentimen negatif dari Moody’s yang menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif dan kelanjutan capital outflows serta ketidakpastian reformasi tata kelola pasar modal.

Faktor pendukung arah pasar termasuk data ekonomi domestik yang akan dirilis, yaitu Indeks Keyakinan Konsumen, penjualan sepeda motor, penjualan eceran, serta penjualan mobil yang dapat merefleksikan momentum konsumsi rumah tangga dan daya beli masyarakat, penting bagi prospek saham konsumsi dan perbankan.

Pelemahan atau kejutan negatif di data konsumsi dapat menekan indeks lebih lanjut, sementara data kuat dapat memberikan katalis positif rebound.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan