Sejumlah prediksi kecerdasan buatan menyimpulkan Spanyol sebagai calon juara Piala Dunia 2026. Namun, magis lapangan hijau sering memberikan hasil di luar prediksi.
13 Jun 2026 08:00 WIB · Olahraga
AFP/INA FASSBENDER
Hasil perhitungan algoritma komputer dan simulasi kecerdasan buatan menyimpulkan Spanyol sebagai calon kuat juara Piala Dunia 2026. Namun, sejarah sepak bola berulang kali membuktikan, hasil akhir Piala Dunia tidak lahir dari prediksi di atas kertas, tetapi muncul dari magis kejutan lapangan hijau.
Sebagaimana tradisi sepak bola, adu prediksi calon juara memuncak memasuki musim Piala Dunia. Dahulu, pencinta sepak bola menaruh harapan kepada ramalan kartu, terawangan bola kristal, hingga gerakan Paul Si Gurita yang melegenda. Kini, teknologi coba merebut peran peramal konvensional dalam memprediksi negara mana yang akan merengkuh trofi Piala Dunia.
Setidaknya, ada dua lembaga yang merilis prediksi calon juara Piala Dunia 2026 memanfaatkan perhitungan algoritma komputer ataupun simulasi kecerdasan buatan. Hasil prediksi mereka mendapatkan sorotan dan perbincangan global.
Salah satu prediksi dilakukan oleh perusahaan analisis data olahraga terkemuka dunia, Opta. Merujuk laman Theanalyst.com, Senin (1/6/2026), Opta memanfaatkan komputer super (supercomputer) untuk mengolah data peringkat kekuatan tim, performa historis, performa teraktual, hingga rekor pertemuan tim peserta Piala Dunia 2026.
Dari 25.000 kali simulasi turnamen, hasilnya, Spanyol menjadi negara yang paling diunggulkan menjuarai Piala Dunia edisi ke-23 tersebut. Persentase peluang Spanyol mencapai 16,1 persen. Persis di bawah ”La Furia Roja”, ada Perancis dengan 13 persen.
Bahkan, Spanyol unggul jauh di atas juara bertahan Argentina yang menempati unggulan keempat dengan peluang 10,4 persen dan langganan juara, Brasil, dengan 6,6 persen. Adapun dua tim favorit lainnya, yakni Inggris memiliki peluang 11,2 persen dan Portugal 7 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/15/c0822ea5-4398-442c-99f3-a3dac01338b1_jpg.jpg)
Spanyol pun menjadi unggulan utama dari hasil simulasi kecerdasan buatan yang dilakukan oleh tim pakar statistik lintas universitas di Eropa. Salah satu pakar yang terlibat, Achim Zeileis, dilansir Independent.co.uk, Rabu (10/6/2026), mengatakan, mereka mengembangkan kecerdasan buatan dengan menggabungan data statistik konvensional dan alogritma mesin pembelajaran.
Permodelan itu menganalisa sejumlah variabel, mulai dari performa tim delapan tahun terakhir dengan hasil laga terakhir dinilai lebih penting, nilai pasar skuad, kontribusi individu pemain, wawasan ahli atau ekspektasi bursa taruhan, hingga faktor eksternal, seperti produk domestrik bruto (PDB) per kapita negara asal. Model itu melakukan simulasi turnamen hingga 100.000 kali.
Faktor cuaca akan berdampak krusial terhadap hasil Piala Dunia 2026.
Hasilnya, Spanyol yang paling difavoritkan juara dengan peluang 14,5 persen. Kali ini, persis di bawah skuad ”Matador” adalah Inggris dan Perancis yang masing-masing berpeluang 12,4 persen. Juara bertahan Argentina menjadi unggulan keenam dengan 8,2 persen, sedangkan Brasil hanya di urutan kedelapan dengan 4,7 persen.
Bukan pertama kalinya Zeileis dan rekan-rekannya berkolaborasi memprediksi hasil Piala Dunia. Sebelumnya, mereka memprediksi Amerika Serikat menjuarai Piala Dunia Putri 2019. Prediksi juga dilakukan untuk Piala Dunia Putri 2023 dan Piala Dunia 2022.
Hasilnya, hanya satu prediksi mereka yang tepat, yaitu AS juara Piala Dunia Putri 2019. Untuk Piala Dunia Putri 2023 dan Piala Dunia 2022, mereka hanya menjadikan masing-masing Spanyol dan Argentina sebagai pesaing serius untuk juara.
”Intinya, ramalan adalah tentang probabilitas. Program kami tidak akan memprediksi pemenang (Piala Dunia) dengan akurasi 100 persen, tetapi mungkin akan lebih baik daripada ramalan seekor gurita,” kata Zeileis yang merupakan profesor statistik dari University of Innsbruck, Austria.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/943e9c4440bd076af6495015fc05faa8-20260614_H03_ADI_Prediksi_Final.jpg)
Meski perkembangan teknologi mampu menyajikan akurasi prediksi yang lebih baik, sepak bola tetap olahraga dinamis. Hasil sepak bola selalu dipengaruhi oleh banyak faktor nonteknis, seperti emosi pemain dan tekanan mental dari fans. Semua faktor itu seringkali menjadi magis lapangan hijau yang tidak bisa dihitung secara matematika.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel dilansir Sky Sports, Rabu (10/6/2026), mengatakan, setiap tim pasti ingin menang tidak peduli unggulan dan non-unggulan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya kepercayaan diri sebagai tim favorit juara. Lebih dari itu, kerja keras dan displin dalam mempersiapkan diri serta mengarungi setiap laga menjadi faktor utama.
Selain itu, ada faktor keberuntungan terkait kebugaran pemain dan keputusan wasit. Tak jarang, keberuntungan memberikan hasil di luar logika. ”Untuk itu, kami memilih fokus selangkah demi selangkah. Kita juga harus memberikan banyak rasa hormat kepada setiap lawan dan jangan meremehkan keberuntungan yang bisa memengaruhi hasil,” tutur Tuchel.
Tuchel pun mengingatkan, faktor cuaca akan berdampak krusial terhadap hasil Piala Dunia 2026. Cuaca panas dan lembab selama turnamen kemungkinan akan lebih menguntungkan tim-tim asal Amerika, terutama Amerika Selatan.
Jadi, bersikap realitas adalah cara yang tepat untuk menghadapi Piala Dunia ini. ”Anda tidak bisa begitu saja keluar dan berkata, kita akan menang dan menunjukkan betapa hebatnya sepak bola Inggris. Itu adalah pendekatan yang salah karena akan menjerumuskan kita dalam kegagalan,” ujar Tuchel.
Sebelum perhitungan algoritma komputer ataupun simulasi kecerdasan buatan mengunggulkan Spanyol sebagai juara Piala Dunia 2026, tim asuhan Luis De La Fuente itu sudah gamang dipercaya akan melanjutkan tren positif usai menjuarai Piala Eropa 2024.
Dengan skuad yang lebih matang, mereka diyakini akan berada di puncak Piala Dunia kali ini untuk mengulangi kisah sukses 16 tahun lalu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/08/8ce154e2-53ba-49e7-a462-8c80154ded72_jpg.jpg)
De La Fuente dilansir Fifa.com, Rabu (27/5/2026), menyadari bahwa ekspektasi terhadap timnya sangat tinggi. Hal itu bisa menimbulkan tekanan yang menjadi bumerang karena banyak pemain timnya berusia masih sangat muda, termasuk bintang Barcelona, Lamine Yamal, yang masih berumur 18 tahun.
Karena itu, De La Fuente memilih mengajak timnya fokus membangun kekompakan dan bersenang-senang dengan proses yang ada. Lagi pula, dalam ajang sebesar Piala Dunia, kekompakan tim akan menjadi salah satu penentu utama hasil akhir.
”Talenta individu saja tidak cukup untuk memenangi kompetisi besar. Anda mungkin bisa memenangi pertandingan, tetapi bukan turnamennya. Tim ini sudah ditanamkan pemahaman bahwa kerja sama harus menjadi kekuatan terbesar kami,” ujar De La Fuente.
Hasil perhitungan komputer ataupun simulasi kecerdasan buatan sejatinya hanya penunjuk arah ke mana probabilitas berembus. Saat peluit laga berbunyi, semua prediksi itu hanya menjadi deretan angka stratistik. Pada akhirnya, takdir juara tetap ditulis lewat kerja keras, dedikasi, dan drama di atas rumput hijau.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim