Penumpang di Stasiun Karet diharapkan berpindah ke Stasiun BNI City atau Stasiun Sudirman yang dinilai lebih efisien untuk mendukung ekosistem Kereta Bandara.
02 Jan 2025 15:42 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Stasiun Karet direncanakan ditutup tahun ini karena jaraknya dinilai terlalu dekat dengan Stasiun BNI City. Untuk efisiensi layanan, penumpang di Stasiun Karet dapat berpindah ke Stasiun BNI City atau Stasiun Sudirman.
Direktur Pengembangan Usaha dan Kelembagaan KAI Rudi As Aturridha menuturkan, keputusan ini diambil sebagai usaha untuk melancarkan konektivitas antarstasiun yang saling berdekatan. Jarak Stasiun Karet ke Stasiun BNI City dapat ditempuh dengan berjalan kaki karena hanya berkisar 450 meter.
Penutupan Stasiun Karet masih dalam pembahasan dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Stasiun Karet akan ditutup jika ketentuan tersebut sudah ditetapkan dalam grafik perjalanan kereta api (Gapeka) 2025.
”Nantinya, setelah Stasiun Karet resmi ditutup, KAI hanya akan melayani naik atau turunnya penumpang KRL di Stasiun BNI City dan Stasiun Sudirman. Hal yang sama juga dilakukan untuk Kereta Api Bandara Soekarno-Hatta,” ujar Rudi, Kamis (2/1/2025).
Sembari menunggu pengesahan Gapeka 2025, pihak KAI terus mengevaluasi layanan Kereta Bandara agar konektivitas bagi para penumpang semakin optimal. Sebab, Kereta Bandara belum mencapai target penyerapan penumpang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/02/b5d89c8686d54eeb850797fd018d2bef-WhatsApp_Image_2025_01_02_at_15.15.02.jpeg)
Saat ini, dari 56 juta penumpang di Bandara Soekarno-Hatta, hanya 1,5 juta per tahun yang memanfaatkan layanan kereta bandara. Angka tersebut berada jauh di bawah harapan 10 juta penumpang atau sekitar 20 persen dari total pengguna bandara.
”Untuk memudahkan akses penumpang yang datang menggunakan LRT, kereta bandara juga direncanakan berhenti di Stasiun Sudirman,” katanya.
Jika akhirnya Stasiun Karet resmi ditutup, penumpang di Stasiun Karet diharapkan berpindah ke Stasiun BNI City atau Stasiun Sudirman, yang dinilai lebih efisien untuk mendukung ekosistem Kereta Bandara. Langkah ini juga sejalan dengan upaya PT Kereta Api Indonesia dalam menciptakan jaringan transportasi terintegrasi dan memberikan kemudahan bagi para pengguna yang hendak melanjutkan perjalanan udara.
Menurut rencana, penutupan stasiun dilakukan pada Februari 2025.
Untuk memudahkan pengguna kereta, Rudi menyebut, pihaknya akan membangun selasar untuk akses pejalan kaki dari Stasiun BNI City menuju wilayah Karet.
EVP of Corporate Secretary KAI Raden Agus Dwinanto Budiadji mengatakan, menurut rencana, penutupan stasiun dilakukan pada Februari 2025. Setelah adanya Gapeka 2025 pada Februari, Stasiun Karet tidak lagi melayani naik turun penumpang.
Dengan penutupan Stasiun Karet, waktu tempuh perjalanan kereta commuter line akan menjadi lebih efisien, termasuk layanan Kereta Bandara menuju Bandara Soekarno-Hatta. Waktu tempuh perjalanan Stasiun BNI City ke Bandara Soekarno-Hatta yang semula 50 menit akan menjadi kurang dari 40 menit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/02/27/5243715d-a47e-4033-9611-feb3bf360d59_jpg.jpg)
Marcom KAI Sevices Nyoman Suardhitha menyebut, terkait rencana penutupan ini, bahwasanya para pegawai di Stasiun Karet yang berada di bawah naungan KAI Services akan ditempatkan ke stasiun yang masih membutuhkan.
”Pegawai pasti akan didistribusikan sesuai kebutuhan. Biasanya seperti itu,” ujarnya.
Di sisi lain, Stasiun Karet yang berlokasi di Tanah Abang, Jakarta Pusat, saat ini melayani berbagai rute KRL, seperti Karet-Bekasi, Karet-Cikarang, Karet-Angke, Karet-Kampung Bandan, Karet-Manggarai, Karet-Tambun, dan Karet-Duri. Letak Stasiun Karet sangat strategis dan dekat dengan kawasan perkantoran, apartemen, perguruan tinggi, dan sekolah.
Pedagang kaki lima (PKL), Fatma (33), menolak rencana penutupan Stasiun Karet di Tanah Abang. Ia meminta pemerintah untuk tidak menyusahkan rakyat kecil seperti dirinya.
Penutupan Stasiun Karet akan berdampak besar terhadap mata pencariannya. Sudah hampir dua tahun ia menggantungkan nasibnya di Stasiun Karet.
”Nanti saya mau jualan di mana lagi kalau Stasiun Karet ditutup. Sudah kepalang nyaman mangkal di sini," ujar penjual cilok ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/27/513e15ac-553d-4762-a4ae-4d13ce7e3c6a.jpg)
Menurut Fatma, Stasiun Karet setiap hari masih dipenuhi penumpang yang beraktivitas di sekitaran Tanah Abang. Terlebih saat sore hari.
Warga Jakarta Pusat, Amalia Insani (28), juga menyayangkan penutupan Stasiun Karet. Saat ini, ia sudah nyaman berjalan kaki dari rumahnya ke Stasiun Karet dengan jarak lima menit. Jika ditutup, ia harus berjalan lebih dari 15 menit menuju Stasiun BNI City atau Sudirman.
”Akan memakan waktu, jadi harus berjalan lebih lama. Sangat menyayangkan, sih, Stasiun Karet juga masih ramai. Tapi, ya, gimana lagi, semoga saja ini keputusan terbaik,” ujarnya.
Jika nantinya Stasiun Karet resmi ditutup, Amalia berharap akan ada jembatan atau jalan yang mempermudah penumpang berjalan kaki dari wilayah Karet menuju Stasiun BNI City dan Stasiun Sudirman.
”Semoga stasiun masih kondusif setelah penutupan besok. Sebab, hal ini akan membuat Stasiun Sudirman makin sesak saat jam pulang kantor,” ujar Amalia.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-HamasyEditor:
Irma Tambunan