Stok Berlebih Picu Harga Ayam Ras Anjlok

Stok ayam siap potong yang berlebih dan tidak sebanding dengan permintaan yang konstan menyebabkan harganya anjlok.

24 Apr 2025 18:03 WIB · Nusantara

Oleh Defri Werdiono

MALANG, KOMPAS — Stok yang melimpah menyebabkan anjloknya harga ayam ras siap potong dari peternak di sejumlah daerah. Melimpahnya ayam siap potong tidak sebanding dengan permintaan yang relatif tetap.

Turunnya harga ayam ini dikeluhkan peternak di sejumlah daerah sebagaimana banyak diperbincangkan di media sosial. Peternak mengeluhkan harga ayam hidup siap potong yang anjlok sampai Rp 11.500 per kilogram, padahal harga pokok produksi ayam Rp 19.000 per kg.

Ketua Komunitas Peternak Unggas Nasional Alvino Antonio, Kamis (24/4/2025), mengatakan, berlebihnya stok ayam siap potong dipicu oleh suplai bibit yang juga berlebih. Suplai bibit berlebih dipicu oleh minimnya afkir dari anakan ayam (day old chick/DOC).

Sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/Permentan/PK.230/5/2016 tentang Afkir Dini atau Pemusnahan Ayam Ras Parent Stok, DOC akan diafkir atau diseleksi ketika berumur 80 pekan. Penyeleksian ini dilakukan untuk mengamankan harga ayam potong agar stabil di pasaran. Jika tidak ada afkir, harga ayam akan anjlok. Akibatnya, harga jual tak bisa menutupi biaya produksi beternak ayam.

Suasana salah satu sudut Pasar Besar di Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (24/4/2025). Tampak salah satu pedagang daging ayam.

Menjelang puasa lalu, harga DOC berkisar Rp 6.500-Rp 8.500 per ekor. Momentum ini rupanya dimanfaatkan oleh perusahaan pembibitan untuk mengeruk untung dengan tidak melakukan afkir. Mereka terus memelihara indukan dengan harapan masih mendapat untung.

”Gara-gara harga DOC bagus, sampai 100 minggu mereka tidak afkir. Afkirnya baru kemarin setelah harga ayam hidup jatuh,” kata Alvino saat dihubungi melalui telepon.

Menurut Alvino, perusahaan pembibitan berupaya mengejar penjualan tinggi pada momen Idul Fitri. Ternyata faktanya tidak sesuai harapan. Mereka kemudian menunda panen dan terus memberi makan anakan ayam itu sehingga tumbuh menjadi besar.

”Sementara itu, saat Idul Fitri banyak yang libur. Pemotongan ayam juga pada libur. Akhirnya ayam di kandang sampai bobotnya jumbo, di atas 3 kg, sehingga dia (perusahaan) harus jual murah. Dampaknya, ayam yang berukuran normal ikut terseret,” katanya.

Produksi DOC biasanya menyesuaikan dengan kebutuhan. Biasanya kebutuhan DOC dan ayam hidup berkisar 60 juta-65 juta ekor per minggu. Adapun saat harga DOC bagus, produksinya bisa mencapai 70 juta ekor per minggu sehingga ada kelebihan 5 juta ekor per minggu.

Quote

Gara-gara harga DOC bagus, sampai 100 minggu mereka tidak afkir. Afkirnya baru kemarin setelah harga ayam hidup jatuh.

Dalam hal itu, Alvino menilai pemerintah tidak mampu mengawasi produksi dan peredaran bibit ayam.

Sementara itu, anjloknya harga ayam hidup ternyata tidak banyak berimbas pada harga daging ayam di pasaran. Siti (50), pedagang daging ayam di Pasar Besar, Kota Malang, mengatakan, saat ini harga daging ayam justru mencapai Rp 28.000 per kg.

Suasana salah satu sudut Pasar Besar di Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (24/4/2025).

”Kemarin masih Rp Rp 24.000-25.000 per kg. Harganya relatif stabil segitu sejak setengah bulan lalu. Kalau saat Lebaran tinggi, 34.000-Rp 35.000 per kg,” ujarnya.

Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok dari sejumlah pasar di Jatim, per 24 April pukul 16.24 WIB, harga rata-rata daging ayam Rp 30.102 per kg. Harga ini hanya selisih tipis dari 15 April lalu yang sebesar Rp 31.196 per kg.


Kerabat Kerja

Penulis:

Defri Werdiono
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti