Stok Makanan Menipis, Ribuan Warga Tapanuli Tengah dan Sibolga Berjalan Mencari Bantuan

Warga sudah kehabisan beras, obat-obatan, dan makanan bayi. Sudah sepekan desa-desa di Tapanuli Tengah dan Sibolga terisolasi.

03 Des 2025 18:16 WIB · Lingkungan

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Oleh Nikson Sinaga

TARUTUNG, KOMPAS – Ribuan warga Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga berjalan kaki seharian mencari bantuan makanan ke Tapanuli Utara, Rabu (3/12/2025). Sudah lebih dari sepekan akses jalan darat ke Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga terputus total. Di kawasan itu juga tidak ada sambungan listrik, bahan bakar minyak, dan jaringan komunikasi.

Pantauan Kompas, warga dari Tapanuli Tengah mulai tiba di Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara, pada tengah hari. Masyarakat datang berkelompok dari sejumlah desa di Tapanuli Tengah. ”Kami berjalan lebih dari 30 kilometer sejak pukul 07.00 tadi. Kami sudah kehabisan beras beberapa hari lalu,” kata Resti Mawarni Panggabean (47), warga Desa Naga Timbul, Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Sejak siang hingga sore, warga dari Tapanuli Tengah terus berdatangan ke Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara. Kecamatan itu merupakan daerah terakhir yang bisa diakses melalui jalur darat ke arah Tapanuli Tengah. Jalan Tarutung-Sibolga, akses utama ke Tapanuli Tengah dan Sibolga, masih tertimbun longsoran di Kilometer 38 hingga Kilometer 62.

Resti mengatakan, persediaan beras mereka sudah habis. Dia bersama suami dan dua anaknya hanya bisa memakan ubi dalam beberapa hari ini. Stok ikan asin dan sayur-sayuran mereka juga sudah habis total. Dia berjalan kaki bersama anaknya untuk mencari bantuan.

Ribuan warga korban bencana berjalan kaki dari Tapanuli Tengah yang masih terisolasi untuk mencari bantuan ke Tapanuli Utara, Sumut, Rabu (3/12/2025). Warga berjalan kaki selama 5-6 jam karena sudah kehabisan bahan pokok setelah lebih sepekan menghadapi bencana. Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga masih terisolasi.

Ribuan warga yang datang adalah orang dewasa, warga lanjut usia, dan anak-anak. Sebagian besar warga bertelanjang kaki. Kaki, pakaian, dan badan mereka penuh lumpur. Mereka melintasi jalan sejauh 25-30 kilometer (km) dari sejumlah desa di Tapanuli Tengah. Mereka harus melintasi puluhan lokasi longsor yang masih belum bisa dibersihkan.

Susi Juwita Hutabarat (40), warga Desa Rampa, Tapanuli Tengah, juga sudah kehabisan stok beras di rumahnya. Dengan menggunakan tongkat kayu, dia berjalan tertatih-tatih melewati jalan penuh lumpur bersama ratusan warga desanya yang lain.

”Kami mendapat informasi, ada bantuan dari para perantau dari desa kami. Karena itu, kami berjalan kaki selama lima jam agar bisa mendapat bantuan,” kata Susi.

Kecamatan Sitahuis merupakan daerah terdampak bencana yang cukup parah. Sejumlah perkampungan di kecamatan itu rusak total tertimbun longsoran. Menurut para warga, ada beberapa orang yang tertimbun material longsor dan belum bisa dievakuasi. Bau amis menyeruak di sejumlah desa.

Akses listrik di Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga juga masih putus total. Saat malam tiba, desa-desa di Tapanuli Tengah gelap gulita. Beberapa warga membuat pelita dengan botol, minyak solar, dan sumbu kain. ”Kami juga memasak dengan kayu bakar. Stok elpiji kami sudah habis,” kata Susi.

Obat-obatan habis

Warga di desa-desa terisolasi juga sudah kehabisan obat. Salli Panggabean (40) datang dari Tapanuli Utara membawa obat untuk ayahnya yang berada di Desa Nagatimbul. Dia berangkat sejak pagi menumpang mobil petugas dari kota Tarutung, Tapanuli Utara.

Salli berjalan kaki pergi pulang hampir 10 jam untuk mengantarkan obat ayahnya. ”Ayah saya sudah lanjut usia. Dia menderita tekanan darah tinggi dan diabetes. Sudah beberapa hari ini putus obat,” ucapnya.

Salli sebelumnya tidak bisa menghubungi ayahnya. Tiga hari lalu, dia juga sudah berjalan kaki ke desanya untuk mencari kabar ayahnya sambil membawa satu karung beras. Dia bersyukur ayahnya selamat dari bencana banjir bandang dan longsor. Beberapa rumah tertimbun material longsor di desa itu dan menyebabkan korban tewas.

Saat tiba di desa itu, ayahnya mengeluhkan kehabisan obat. Karena itu, Resti pulang ke Tapanuli utara dan berjanji akan datang kembali untuk membawa obat ayahnya.

Dia hendak membawa ayahnya ke Tarutung. Namun, kondisi ayahnya yang sudah lanjut usia tidak memungkinkan berjalan kaki selama berjam-jam melewati lumpur dan mendaki di jalan hutan.

”Kami sangat berharap pemerintah bisa memberi bantuan kampung kami. Sampai saat ini belum ada bantuan apa pun di Kecamatan Sitahuis,” ujar Salli.

Selain obat-obatan, kata Resti, bayi dan anak-anak di Kecamatan Sitahuis tidak punya stok susu, pokok, dan obat-obatan anak.

Gubernur Sumut Bobby Nasution mengatakan, pemerintah saat ini berfokus membuka akses Jalan Tarutung-Sibolga. Jalur itu akan menjadi akses utama untuk mengirim bantuan ke Tapanuli Tengah dan Sibolga. Pengiriman bantuan terkendala akses jalan yang masih terputus.

Ribuan warga korban bencana berjalan kaki dari Tapanuli Tengah yang masih terisolasi untuk mencari bantuan ke Tapanuli Utara, Sumut, Rabu (3/12/2025). Warga berjalan kaki selama 5-6 jam karena sudah kehabisan bahan pokok setelah lebih sepekan menghadapi bencana. Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga masih terisolasi.

”Semua pihak berupaya memperbaiki jalur-jalur utama menuju Tapanuli Tengah dan juga jalur di dalam Tapanuli Tengah,” kata Bobby.

Ia menyebutkan, alat berat belum bisa masuk ke Tapanuli Tengah. Kawasan tersebut hanya bisa diakses melalui jalur udara. Karena itu, perbaikan jalan di Tapanuli Tengah dan Sibolga belum bisa dilakukan maksimal.

Bobby mengatakan, dirinya mengikuti rapat darurat penanganan bencana bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Ketua DPRD Sumut Erni Aryanti, dan Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu.

Mereka berfokus membuka akses jalan agar bisa memasok kebutuhan dasar untuk pengungsi serta memperbaiki jaringan listrik dan telekomunikasi. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada 283 korban tewas dan 173 korban hilang di Sumut. Operasi pencarian dan pertolongan masih terus dilakukan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikson Sinaga
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul