Sebulan lebih berlatih, belum ada pertanda Alvaro Arbeloa membawa Real ke jalur yang benar. Real pun semakin limbung akibat strategi dan keputusan janggalnya.
02 Feb 2026 12:23 WIB · Olahraga
AP
MADRID, SENIN — Suporter merayakan kemenangan 2-1 Real Madrid atas Rayo Vallecano sebagai pencapaian yang semu. Hal itu masuk akal mengingat Real kesulitan menang melawan tim papan bawah yang bermain dengan sembilan orang. Keputusan aneh Alvaro Arbeloa dalam menentukan susunan pemain mula layak dipertanyakan. Jika dibiarkan, situasi ini hanya akan jadi bom waktu bagi Real di kemudian hari.
Jangan terkecoh dengan kemenangan dramatis Real atas Rayo. Poin penuh itu justru menyingkap masalah laten Real yang seharusnya dibenahi. Bukannya bertambah stabil sepeninggal Xabi Alonso, Real makin bermain tanpa karakter yang jelas. Bagaimana mungkin tim bertabur pemain bintang bisa sangat menderita melawan Rayo yang berjuang menjauh dari zona degradasi?
Secara statistik, Real memang tampil lebih dominan. Hanya saja ada beberapa momen pada laga di Stadion Bernabeu, Madrid, Minggu (1/2/2026) malam WIB, yang memperlihatkan betapa rapuhnya struktur pertahanan Real. Momen yang paling menegangkan ialah ketika bek kanan Rayo Andrei Ratiu berlari sendirian ke area pertahanan Real dalam skema serangan balik.
Tidak ada pemain tersisa (rest defense) di lini pertahanan Real untuk mengantisipasi serangan balik Rayo. Semua pemain Real terfokus mengurung Rayo di area pertahanan mereka sehingga melupakan pertahanan sendiri. Hanya Goncalo Garcia yang berupaya mengejar sekaligus mengganggu manuver Ratiu. Upaya Garcia berhasil memaksa Ratiu menembak secara terburu-buru sehingga bisa dipatahkan kiper Thibaut Courtois.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/02/75728e0400329b84ee9509ffe276fb2c-wires_photo_92_.jpg)
Saat momen itu terjadi, kedudukan masih imbang 1-1. Real unggul lebih dulu lewat sepakan terukur Vinicius Junior saat laga baru berjalan 15 menit. Gol Vinicius dibalas Jorge de Frutos pada awal babak kedua. Jika Ratiu bisa membawa timnya berbalik memimpin lewat skema serangan balik cepat itu, bukan tidak mungkin hasil akhir akan berbeda.
Gol Frutos turut mempertegas buruknya struktur pertahanan Real. Federico Valverde dan Aurelien Tchouameni punya andil dalam gol penyeimbang dari lawan. Valverde tidak mampu mengantisipasi arah datangnya bola sehingga Alvaro Garcia dan Frutos bisa melakukan kombinasi di area berbahaya. Demikian pula Tchouameni yang gagal menutup ruang tembak Frutos.
Gol Frutos hanyalah permukaan dari masalah klasik Real yang sudah ada semenjak era Alonso. Arbeloa mengambil keputusan aneh dengan tetap memainkan Valverde sebagai bek kanan. Di sisi lain, Tchouameni lebih sering berperan sebagai bek tengah. Keduanya merupakan gelandang alami sehingga tidak memiliki insting naluriah bermain sebagai bek.
Keputusan Arbeloa memaksakan mereka tetap masuk susunan pemain mula menjadi aneh manakala Real punya banyak bek yang siap dimainkan. Di bangku cadangan Real terdapat Dani Carvajal sebagai pemilik pos bek kanan Real, sedangkan pos bek kiri justru diserahkan kepada Eduardo Camavinga yang berposisi asli sebagai gelandang bertahan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/02/25e11c4ce63dedd91e261bebd75b3ff9-wires_photo_93_.jpg)
Real pada akhirnya ”terbantu” berkat dua kartu merah yang diterima pemain Rayo, Pathe Ciss dan Pep Chavarria. Selain itu, wasit Isidro Diaz memberikan waktu tambahan babak kedua selama sembilan menit. Keputusan yang memantik tanda tanya dari kubu Rayo. Berkat perpanjangan waktu yang cukup lama itu, Real pada akhirnya mengunci kemenangan lewat eksekusi penalti Kylian Mbappe di menit-menit akhir.
”Kemenangan membawa kebahagiaan dan mengubah energi. Namun, bagi saya, hal terpenting adalah terus meningkatkan dan berkembang sebagai tim, mencoba mengendalikan permainan jauh lebih awal daripada akhir 90 menit,” kata Valverde yang juga menjabat kapten Real.
Setelah enam pertandingan di bawah kepemimpinannya, tidak ada tanda-tanda gaya sepak bola yang diinginkan Arbeloa untuk timnya. Secara garis besar, tim ini menyerupai era Alonso yang rapuh dalam pertahanan. Lihat saja bagaimana Benfica menghukum lini pertahanan Real dengan empat gol pada laga terakhir fase liga Liga Champions.
Keputusan Arbeloa mengakomodasi semua pemain bintang ke dalam susunan pemain mula justru berujung pada ketidakseimbangan dalam tim. Hal ini sangat mungkin bagi Arbeloa, yang dipercaya sebagai kaki tangan Presiden Real Florentino Perez.
Perez sudah umum diketahui sangat mengutamakan kenyamanan para pemain bintangnya. Inilah yang menyebabkan Alonso kesulitan memenangkan ruang ganti karena terus berusaha memaksakan sistemnya.
Arbeloa sedikit berbeda. Ia berupaya mengakomodasi para pemain bintang sehingga tidak ada dari mereka yang merasa terpinggirkan. Akibatnya, tidak ada rencana permainan yang jelas. Kesan yang tercipta justru Arbeloa menyerahkan sepenuhnya kepada para pemain untuk melakukan hal yang harus dilakukan.
”Para pemain telah mengerahkan upaya yang luar biasa. Kemenangan ini diraih melalui kerja keras dan usaha mereka. Ada banyak hal yang perlu kita tingkatkan dan kerjakan. Tentu saja, selama dua minggu tanpa pertandingan tengah pekan ini, kami akan mencoba memastikan tim bekerja dan bergerak ke arah yang diinginkan,” tutur Arbeloa.
Arbeloa wajib memanfaatkan dua pekan ke depan untuk menginternalisasikan ide bermainnya kepada para pemain. Selama ini, ia memang belum cukup punya waktu memimpin sesi latihan Real.
Dua pekan mendatang jadi waktu yang krusial bagi Real untuk mencabut bom waktu yang telanjur tertanam di internal tim akibat buruknya struktur pertahanan yang mereka miliki. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra