Strategi Swasembada Pangan dan Klusterisasi Komoditas Siap Digulirkan

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebutkan, fokus swasembada pangan tidak hanya beras, tetapi juga gula dan jagung.

21 Okt 2024 19:05 WIB · Ekonomi

Oleh Hendriyo Widi, Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS – Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia bisa mencapai swasembada pangan empat hingga lima tahun lagi. Kabinet yang menjalankan misi itu telah dibentuk. Program kerja yang telah disiapkan semasa transisi pemerintahan siap digulirkan, yakni swasembada pangan dan klusterisasi komoditas pertanian untuk ekspor.

Swasembada pangan, terutama beras, jagung, dan gula, merupakan salah satu misi utama pemerintahan Prabowo-Gibran Rakabuming Raka periode 2024-2029. Prabowo menegaskan kembali misi itu dalam pidato pelantikannya sebagai presiden ke-8 RI.

”Saya sudah mempelajari bersama pakar-pakar yang membantu saya. Saya yakin paling lambat 4-5 tahun kita akan swasembada pangan. Bahkan, kita siap menjadi lumbung pangan dunia,” ujarnya di Gedung MPR, Jakarta.

Menurut Prabowo, Indonesia tidak boleh tergantung sumber pangan dari negara lain saat terjadi krisis. Dalam keadaan genting, tidak banyak negara yang akan mengizinkan komoditas pangan mereka untuk dibeli.

”Karena itu, tidak ada jalan lain dalam waktu yang sesingkat-singkatnya kita harus mencapai ketahanan pangan. Kita harus mampu memproduksi dan memenuhi kebutuhan pangan seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

Realisasi dan produksi beras 2022-2024

Untuk merealisasikan misi itu, Prabowo telah melantik Zulkifli Hasan sebagai Menteri Koordinator Bidang Pangan, Senin (21/10/2024), yang sebelumnya menjabat sebagai menteri perdagangan di era kepemimpinan Joko Widodo. Kementerian baru tersebut akan mengoordinasi Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Pangan Nasional, dan sejumlah badan usaha milik negara kluster pangan.

Zulkifli menyatakan, swasembada pangan merupakan prioritas utama Presiden Prabowo. Untuk itu, Presiden menugaskan agar swasembada pangan tersebut bisa terealisasi dalam waktu lima tahun.

”Fokus swasembada pangan tidak hanya beras, tetapi juga gula dan jagung. Strateginya sudah ada dan tinggal dilaksanakan,” ujarnya.

Quote

Fokus swasembada pangan tidak hanya beras, tetapi juga gula dan jagung.

Menurut Zulkifli, untuk mewujudkan swasembada pangan, pemerintah tidak bisa terus-menerus mengandalkan lahan di Pulau Jawa dan Sumatera. Lahan di Jawa sudah semakin berkurang, sedangkan di Sumatera sudah banyak dimanfaatkan untuk kelapa sawit.

Oleh karena itu, pemerintah bakal mengembangkannya di luar daerah itu, salah satunya di Papua. Di Merauke, misalnya, pemerintah akan memperluas lahan padi, jagung, dan tebu.

”Dalam lima tahun ke depan, kami akan berupaya menambah sawah seluas 2 juta hektar dan lahan tebu sekitar 600.000-1 juta hektar,” katanya.

Selain itu, lanjut Zulkifli, komoditas pangan bernilai tambah tinggi juga akan dikembangkan berbasis kluster dan potensi daerah. Lada, kelapa, dan kopi bakal dikembangkan di Sumatera. Sementara cengkeh, pala, dan kakao akan dikembangkan di Sulawesi.

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (tengah), Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo (kiri), dan Direktur Utama Badan Urusan Logistik Budi Waseso (kanan) saat menjawab pertanyaan media di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (31/1/2023).

Swasembada beras

Prabowo juga mempercayakan kembali jabatan menteri pertanian kepada Andi Amran Sulaiman. Sejak masa transisi pemerintahan, Amran telah menyiapkan Peta Jalan Swasembada Beras dan Cetak Biru Kementan 2024-2029.

Amran mengaku telah mendapat tugas khusus dari Prabowo untuk merealisasikan swasembada pangan, terutama padi dan jagung. Ia optimistis swasembada tersebut dapat tercapai dalam waktu 4 tahun.

Saat ini, Kementan telah memiliki Cetak Biru Kementan 2024-2029. Ada lima program yang digulirkan di cetak biru itu, yakni swasembada pangan nasional, pengembangan komoditas ekspor strategis, peningkatan produksi susu dan daging untuk pangan bergizi, menciptakan pekarangan pangan bergizi, dan mandiri energi melalui B50.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman

Program Swasembada Pangan Nasional, misalnya, Kementan akan berupaya mengembangkan benih unggul, merevitalisasi sistem irigasi di 61 bendungan, mencetak sawah baru seluas 3 juta hektar, dan mentransformasi pertanian tradisional ke pertanian modern.

Untuk program Pengembangan Komoditas Ekspor Strategis Nasional, Kementan menyasar peningkatan ekspor lima komoditas. Kelima komoditas itu adalah kelapa sawit, kelapa, kakao, kopi, dan lada. Upayanya, antara lain, berupa peremajaan tanaman dan penyediaan benih unggul, serta hilirisasi atau meningkatkan nilai tambah komoditas.

Adapun untuk program Peningkatan Produksi Susu dan Daging untuk Pangan Bergizi, Kementan akan berupaya mengembangkan peternakan sapi perah dan sapi pedaging. Diversifikasi sumber-sumber protein hewani juga bakal dilakukan dengan pengembangan peternakan unggas dan perikanan. Investasi di sektor peternakan juga akan dijaring.

Kementan juga telah mengantongi Peta Jalan Swasembada dan Ekspor Beras 2025-2029. Melalui peta jalan itu, Kementan menargetkan produksi beras bisa bertambah 12,5 juta ton dalam 5 tahun.

Kementan juga menargetkan impor beras mulai dikurangi pada 2026. Kemudian, pada 2027, dengan tambahan produksi beras sebanyak 10 juta ton, Indonesia dapat swasembada beras. Setelah itu, pada 2028, Indonesia ditargetkan dapat mengekspor beras.

Buruh pikul mengantarkan beras ke kendaraan konsumen di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur, Sabtu (7/9/2024). Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan produksi beras pada 2024/2025 naik 0,95 persen dibandingkan produksi beras pada 2023/2024 yang sebanyak 531,8 juta ton. FAO menyebut produksi beras dunia pada 2024/2025 tertinggi sepanjang masa.
Aktivitas pekerja di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur, Sabtu (7/9/2024). Kementerian Pertanian memperkirakan produksi beras nasional tahun ini susut sekitar 3,8 juta ton-4 juta ton dari target produksi 32 juta ton. Untuk mengatasinya, pemerintah menempuh dua cara, yakni mengejar produksi beras dalam negeri dan impor beras.
Seiring dengan pertambahan populasi dunia, konsumsi beras dunia juga diperkirakan tumbuh. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) konsumsi beras dunia pada 2024/2025 sebesar 532,8 juta ton. Konsumsi beras dunia itu diperkirakan meningkat 6,9 juta ton dari tahun lalu yang sebanyak 525,9 juta ton.
Pekerja memuat beras ke dalam karung di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur, Sabtu (7/9/2024). Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan produksi beras dunia naik 1,8 juta ton. Sementara Indonesia dan China mengalami penurunan produksi beras.
Pekerja memuat karung berisi beras ke mobil di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur, Sabtu (7/9/2024). Kementerian Pertanian memperkirakan produksi beras nasional tahun ini susut sekitar 3,8 juta ton-4 juta ton dari target produksi 32 juta ton. Hal itu tidak terlepas dari dampak El Nino tahun lalu, banjir di awal tahun ini, dan musim kemarau yang berlangsung pada semester II-2024.
Buruh pikul mengantarkan beras ke kendaraan konsumen di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur, Sabtu (7/9/2024). Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan produksi beras pada 2024/2025 naik 0,95 persen dibandingkan produksi beras pada 2023/2024 yang sebanyak 531,8 juta ton. FAO menyebut produksi beras dunia pada 2024/2025 tertinggi sepanjang masa.
Deretan karung berisi berbagai jenis beras yang ditawarkan salah satu toko di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur, Sabtu (7/9/2024). Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) merevisi potensi produksi beras dunia pada 2024/2025 sebesar 536,9 juta ton. Volume produksi itu lebih tinggi 1,8 juta ton ketimbang proyeksi FAO pada 7 Juli 2024 yang sebanyak 535,1 juta ton.

Dalam dua tahun terakhir ini, 2023-2024, produksi beras nasional terus turun. Badan Pusat Statistik mencatat, produksi beras nasional turun dari 31,54 juta ton pada 2022 menjadi 31,1 juta ton pada 2023. Pada 2024, produksi beras nasional diperkirakan turun menjadi 30,34 juta ton secara tahunan.

Dalam periode tersebut, impor beras Indonesia juga terus meningkat. Pada 2023, realisasi impor beras Indonesia mencapai 3,06 juta ton. Kemudian, pada Januari-September 2024, realisasi impor beras sudah sebanyak 3,23 juta ton. Hingga akhir tahun ini, impor beras diperkirakan mencapai 3,6 juta ton.

Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar secara hibrida di Jakarta, Senin (21/10/2024), Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjamin stok beras nasional pada akhir tahun ini aman. Stok beras pada akhir 2024 yang bakal digunakan sebagai stok awal 2025 itu diperkirakan mencapai 8 juta ton.

Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy menuturkan, berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2024 yang dimutakhirkan pada 25 September 2024, stok beras nasional hingga akhir tahun ini mencapai 8,01 juta ton. Namun, dengan catatan, impor beras hingga akhir Desember 2024 harus terealisasi semua.

”Dengan stok sebesar itu, kebutuhan beras nasional selama panen selanjutnya bakal tercukupi,” ujarnya.

Buruh membongkar beras yang didatangkan dari Vietnam dengan menggunakan kapal barang Newsun Blue di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (2/2/2023). Akhir tahun lalu hingga pertengahan bulan ini pemerintah secara bertahap mendatangkan beras impor sebanyak 500 ribu ton untuk memenuhi stok cadangan pemerintah.

Merujuk data Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2024, produksi beras di dalam negeri sepanjang tahun ini diperkirakan 30,6 juta ton. Adapun kebutuhan atau konsumsi beras selama setahun diperkirakan 31,21 juta ton.

Hingga Januari-Agustus 2024, realisasi impor beras telah mencapai 2,94 juta ton. Sementara rencana impor beras pada September-Desember 2024 sebanyak 1,55 juta ton.

Pada 15 Oktober 2024, Bulog menyebutkan telah mengeksekusi semua kuota impor beras tahun ini yang sebanyak 3,6 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 2,8 juta ton sudah berada di gudang. Sisanya, yakni 800.000 ton, sedang dalam pemuatan di negara asal dan dalam perjalanan menuju Indonesia.

Impor beras Perum Bulog 2024

Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi, Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Aufrida Wismi Warastri