Sudah Sepekan Lamanya Ratusan Pengemudi Menginap di Jalan Lintas Sumatera

Antrean kendaraan berkilo-kilometer panjangnya. Pengemudi menunggu di jalan agar bisa melintas jalur nasional yang menghubungkan Jambi dan Sumatera Barat.

08 Mar 2025 09:02 WIB · Nusantara

Oleh Irma Tambunan

MUARA BUNGO, KOMPAS - Sudah sepekan lamanya ratusan pengemudi angkutan barang tertahan di jalan akibat amblesnya Jalan Nasional Lintas Sumatera di Kabupaten Bungo, Jambi. Hingga Sabtu (8/3/2025) pagi, jembatan darurat yang disiapkan untuk menyambungkan akses Provinsi Jambi dan Sumatera Barat itu masih belum selesai dirakit.

Antrean kendaraan mengular berkilo-kilometer panjangnya di jalur itu. Sebagian besar pengemudi angkutan itu sudah sepekan lamanya menunggu. Mereka bertahan menunggu akses Jalan Nasional Lintas Sumatera (Jalinsum) kembali terbuka agar bisa melintasi jalur utama yang menghubungkan kedua provinsi tersebut.

”Terpaksa kami menunggu sudah seminggu lamanya di jalan ini, belum bisa lewat,” kata Dedy (50), pengemudi angkutan air mineral dan barang kelontong dari Bogor.

Para pengemudi tak bisa mengambil jalur-jalur alternatif yang disediakan polisi lalu lintas. Sebab, kendaraan angkutan yang mereka bawa rata-rata bertonase besar, yakni di atas 10 ton. Tonase sebesar itu dilarang lewat jalan alternatif.

Warga menonton kondisi Jalan Nasional Lintas Sumatera yang ambles di Jujuhan, Kabupaten Bungo, Jambi, Jumat (7/3/2025). Jembatan bailey yang disiapkan sebagai langkah darurat menyambungkan akses Provinsi Jambi dan Sumbar itu masih dalam proses perakitan.
Warga menonton kondisi Jalan Nasional Lintas Sumatera yang ambles di Jujuhan, Kabupaten Bungo, Jambi, Jumat (7/3/2025). Jembatan bailey yang disiapkan sebagai langkah darurat menyambungkan akses Provinsi Jambi dan Sumbar itu masih dalam proses perakitan.
Warga menonton kondisi Jalan Nasional Lintas Sumatera yang ambles di Jujuhan, Kabupaten Bungo, Jambi, Jumat (7/3/2025). Jembatan bailey yang disiapkan sebagai langkah darurat menyambungkan akses Provinsi Jambi dan Sumbar itu masih dalam proses perakitan.
Warga menonton kondisi Jalan Nasional Lintas Sumatera yang ambles di Jujuhan, Kabupaten Bungo, Jambi, Jumat (7/3/2025). Jembatan bailey yang disiapkan sebagai langkah darurat menyambungkan akses Provinsi Jambi dan Sumbar itu masih dalam proses perakitan.

Dedy tiba di Bungo pada Minggu (2/3/2025) setelah menempuh perjalanan dua hari dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Setibanya di Jalinsum mendekati perbatasan Jambi-Sumbar di wilayah Bungo, ia kaget saat mengetahui ada longsor yang menyebabkan Jalinsum ambles.

”Kalau mau putar balik, tidak mungkin lagi karena perjalanan sudah sangat jauh, sedikit lagi untuk sampai di perbatasan Sumbar,” lanjutnya.

Quote

Kami terpaksa menunggu, sudah seminggu lamanya di jalan ini, belum bisa lewat.

Selama sepekan lamanya para pengemudi angkutan bertahan. ”Kadang tidur di tepi jalan ini, kadang di jok mobil. Numpang mandi dan buang air di kedai terdekat,” ujar Samsul, pengemudi lainnya.

Akibat akses jalan terputus, biaya perjalanan membengkak demi mencukupi kebutuhan makan pengemudi dan kernetnya selama sepekan. Oleh karena itu, mereka berharap akses Jalinsum dapat dibuka kembali secepatnya.

Warga melihat rumahnya yang ikut ambles bersama Jalan Nasional Lintas Sumatera yang ambles di Jujuhan, Kabupaten Bungo, Jambi, Jumat (7/3/2025). Pemasangan beronjong sebagai langkah darurat di lokasi masih dalam proses.
Warga melihat rumahnya yang ikut ambles bersama Jalan Nasional Lintas Sumatera yang ambles di Jujuhan, Kabupaten Bungo, Jambi, Jumat (7/3/2025).
Warga melewati jembatan darurat untuk pejalan kaki akibat Jalan Nasional Lintas Sumatera ambles di Jujuhan, Kabupaten Bungo, Jambi, Jumat (7/3/2025). Pengendara roda empat belum bisa lewat Jalinsum yang masih putus.

Direktur Lalu Lintas Polda Jambi Komisaris Besar Dhafi mengatakan, pengemudi angkutan bertonase besar diarahkan berputar arah menuju Kerinci-Solok Selatan. Jalan nasional ini relatif lebar dan bisa dilewati angkutan tonase besar. Namun, diakuinya, jalur tersebut cukup rawan kecelakaan karena medannya berkelok-kelok tajam dan curam.

Salah seorang pengemudi angkutan yang membawa bahan makanan dari Padang menuju Jambi, Ali, menilai, selain curam, jalur alternatif Kerinci-Solok Selatan jauh sehingga biaya bahan bakar minyak bakal membengkak jika pengemudi lewat jalur itu. ”Kebanyakan sopir akhirnya lebih pilih menunggu saja di sini walaupun harus sampai berhari-hari. Karena ini kami minta agar jalannya cepat diperbaiki,” ujarnya.

Jembatan darurat

Kepala Balai Pemeliharaan Jalan Nasional (BPJN) Jambi Ibnu Kurniawan mengatakan, Jalinsum diperkirakan baru akan bisa dilewati pada Minggu (9/3/2025). Ia mengakui ada keterlambatan akibat pemasangan jembatan bailey yang molor. Hal itu karena kondisi cuaca kurang baik dan proses perakitan memakan waktu. Para pekerja di lokasi menghentikan pekerjaan selama 1,5 hari karena hujan deras kembali turun di lokasi.

Selain itu, perakitan jembatan darurat memakan waktu lebih karena ada pemasangan rangka baja ganda. ”Sebelumnya kami merencanakan pemasangan baja single, kemudian terjadi perubahan menjadi baja double agar berdaya tahan lebih baik hingga tonase 20 ton,” katanya.

Jalan Nasional Lintas Sumatera ambles akibat hujan deras. Aktivitas lalu lintas di jalan utama penghubung Sumbar dan Jambi itu pun lumpuh total. Lokasinya berada di Desa Tukum, Kecamatan Jujuhan, Bungo, tak jauh dari perbatasan Bungo dan Dharmasraya, Sumbar. Jalan ambles sepanjang 12 meter karena gorong-gorong di bawahnya tidak kuat menampung debit air seiring curah hujan yang tinggi.

Pemasangan jembatan bailey sebagai langkah darurat di lokasi masih dalam proses perakitan, Jumat (7/3/2025). Tampak petugas tengah merakit jembatan darurat itu untuk menghubungkan Jalan Nasional Lintas Sumatera yang ambles di Jujuhan, Kabupaten Bungo, Jambi,.

Fitria Susanti, pemilik warung di jalur jalan ambles, mengatakan, bencana itu terjadi pada Minggu (2/3/2025) siang. Paginya, wilayah itu diguyur hujan deras. Aliran sungai di bawah jembatan jalan itu sangat deras. Sekitar pukul 14.00 WIB, Susanti yang tengah duduk di depan warungnya kaget mendengar suara keras dari jalan. Bagian tepi jembatan ambrol, lalu diikuti seluruh bagian lainnya hingga jalan putus total.

Rumahnya yang berada persis di tepi jalan itu ikut ambrol. Ia berteriak memanggil kedua anaknya untuk menyelamatkan diri. ”Rupanya warga lain juga kaget. Jalan ambles, rumah kami ikut ambles,” katanya. Ia berharap ada bantuan pemerintah atas musibah tersebut.

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Irma Tambunan
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan