Dalam beberapa dekade terakhir, suhu Bumi telah mengalami kenaikan yang signifikan.
09 Nov 2024 12:00 WIB · Nasional
Oleh Ichwan Susanto - [email protected]
Menjelang berlangsungnya Konferensi Perubahan Iklim atau COP-29 UNFCCC di Baku, Azerbaijan, pada 11-22 November 2024, kita dikejutkan dengan kabar bahwa kenaikan suhu Bumi tahun ini diprediksi melampaui 1,5 derajat celsius. Kenaikan suhu Bumi ini diperkirakan dapat mengubah sistem Bumi sehingga memicu sejumlah bencana alam yang lalu bisa menciptakan bencana sosial di banyak tempat.
Negara-negara di dunia melalui KTT tentang Perubahan Iklim di Paris, Perancis, pada 2015 telah menyepakati Persetujuan Paris (Paris Agreement). Para perwakilan negara saat itu menyepakati menahan peningkatan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat celsius dari tingkat pra-industri dan melakukan upaya untuk membatasi peningkatan suhu hingga 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
Sejumlah catatan menunjukkan suhu di Bumi terus melampaui rekor. Proyeksi Layanan Perubahan Iklim Copernicus (European Copernicus Climate Change Service/C3S) Uni Eropa menunjukkan bahwa pada akhir tahun 2024, suhu global akan setidaknya 1,55 derajat celsius lebih hangat daripada tingkat pra-industri.
Pemanasan suhu ini mayoritas disebabkan oleh aktivitas manusia yang mengganggu kestabilan sistem atmosfer Bumi. Aktivitas itu seperti membakar bahan bakar fosil (baik batubara maupun minyak bumi) serta membakar hutan dan rawa gambut setelah hutan digunduli dan rawa gambut dikeringkan.
Pelepasan emisi gas rumah kaca dari pembakaran tersebut terjebak di atmosfer Bumi. Emisi gas rumah kaca, seperti senyawa karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4), ini terlepas ke udara sehingga menimbulkan efek gas rumah kaca yang membuat panas dari Bumi tidak bisa keluar melalui atmosfer.
Sementara itu, penyerap emisi CO2 alami, yaitu pepohonan di belantara, dibabat untuk berbagai tujuan. Selain itu, ekosistem rawa gambut dan substrat mangrove yang menyimpan cadangan karbon sangat tinggi dihancurkan sehingga terlepas ke udara. Alhasil jumlah emisi yang terlepas tak sebanding dengan kemampuan penyerapan secara alami.
Suhu Bumi yang terus memanas mengakibatkan gangguan pada sistem Bumi yang telah ribuan tahun dalam kondisi stabil. Peningkatan suhu memengaruhi tekanan sehingga menciptakan aliran udara yang kuat.
Aliran udara yang kuat berupa angin siklon tercatat semakin sering terjadi dan semakin kuat. Hal ini menimbulkan korban jiwa, kerugian ekonomi, serta bisa menyebabkan gangguan sosial.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/13/0a5a26cd-fe1e-4233-b3bf-88776e56b328.jpg)
Kenaikan suhu juga bisa mengakibatkan gagal panen akibat cuaca yang tak menentu serta terganggunya pola tanam serta meningkatnya gangguan hama. Selain itu, produktivitas petani berkurang karena mengurangi kegiatan di luar ruangan.
Peningkatan suhu juga bisa berakibat pada penurunan produktivitas perikanan laut. Penyebabnya, kenaikan suhu membuat terumbu karang stres dan mati. Padahal ekosistem terumbu karang merupakan tempat perbanyakan dan pembesaran berbagai jenis ikan komersial.
Penghangatan global disebabkan akumulasi emisi gas rumah kaca di atmosfer. Dengan demikian, langkah yang bisa kita lakukan sebagai individu yaitu tak memperparah lagi konsentrasi emisi gas rumah kaca dengan menerapkan berbagai perilaku ramah lingkungan, seperti penggunaan transportasi publik, tidak konsumtif, dan mengelola penggunaan listrik di rumah.
Dalam skala global, upaya yang dilakukan yaitu menghimpun pendanaan sebagai bentuk mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim ini. Menurut Tory Kuswardono, Direktur Eksekutif Yayasan Pikul, kebutuhan pendanaan iklim global setiap tahunnya hingga 2030 mencapai 8 triliun dollar AS (Kompas.id, 8 November 2024).
Jumlah ini berkali-kali lipat dari target 100 miliar dollar AS per tahun yang dicanangkan dalam COP15 di Kopenhagen pada 2009. Pendanaan bukan hanya mencakup mitigasi dan adaptasi iklim, tetapi juga dampak dari kehilangan dan kerusakan (loss and damage) terhadap aset sumber daya alam dan perlindungan alam/keanekaragaman hayati, yang semakin meningkat seiring dengan menguatnya pemanasan global.
Penulis:
Ichwan SusantoEditor:
Evy Rachmawati