Cuaca buruk masih berpotensi terjadi hingga tiga hari ke depan di Sukabumi selatan. Akibatnya, berbagai jenis bencana masih mengintai warga.
04 Des 2024 17:58 WIB · Lingkungan
BANDUNG, KOMPAS — Banjir akibat hujan ekstrem di Sukabumi selatan, Jawa Barat, viral di media sosial. Warga di perbukitan diminta menghindari kawasan lereng. Sementara mereka yang tinggal di dataran rendah harus menjauhi sungai yang rentan meluap memicu banjir bandang.
Salah satu titik yang ramai diperbincangkan adalah kejadian banjir bandang di Kampung Parungseah, Desa Curug Luhur, Kecamatan Sagaranten. Luapan Sungai Cikaso memicu banjir bandang di daerah berjarak sekitar 170 kilometer dengan jarak tempuh sekitar 7-8 jam dari Kota Bandung, ibu kota Jabar.
Pada Rabu (4/12/2024), jalan berubah menjadi sungai. Air deras menghanyutkan enam mobil, merusak rumah tinggal, hingga rumah ibadah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/04/9dfe3519da5344f7344fe12fe5fb7873-IMG_20241204_WA0042.jpg)
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, selain Sagaranten, daerah terdampak banjir dan banjir bandang ada di Kecamatan Ciemas, Palabuhanratu, Cidolog, Gegerbitung, Simpenan, Cisolok, Nagrak, Warungkiara, hingga Kecamatan Lengkong. Ketinggian air mencapai 2 meter.
Warga diminta waspada karena potensi bencana masih muncul hingga beberapa hari ke depan.
Kejadian ini membangkitkan trauma warga Sukabumi pada kejadian serupa sekitar empat tahun lalu. Pada Senin (21/9/2020), banjir terjadi di Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug. Lokasinya berada di kaki Gunung Salak.
Berada di dataran tinggi, ketinggian air dilaporkan 5-6 meter. Rumah terendam. Beberapa mobil hanyut dibawa air deras.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/09/22/0cddf440-1f58-490a-87a6-737e198a5c5a.jpg)
Kepala BPBD Sukabumi Deden Sumpena masih berupaya mengevakuasi dan mendata dampak banjir serta longsor. Sebab, bencana terjadi hampir di seluruh wilayah Kabupaten Sukabumi.
”Warga diminta waspada karena potensi bencana masih muncul hingga beberapa hari ke depan,” kata Deden, Rabu.
Hal itu selaras dengan prediksi cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika di Sukabumi selatan hingga tiga hari ke depan sejak Rabu (4/12/2024).
Di Palabuhanratu, misalnya, curah hujan masuk kategori ekstrem dengan 256,8 milimeter. Sementara di Sagaranten hujan mencapai 179,4 mm (ekstrem), dan Cisolok mencapai 139,8 mm (sangat lebat).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/04/7b4fa20fa9f22f4258b759e4adf8587d-IMG_20241204_WA0037_copy_409x307_1.jpg)
Untuk itu, sejumlah rekomendasi dikeluarkan untuk warga agar mewaspadai banjir, tanah longsor, pohon tumbang, serta dampak kerusakan lainnya.
Salah satu waktu krusial terutama terjadi saat pemanasan kuat antara pukul 10.00 hingga 14.00 WIB. Biasanya ditandai jenis awan yang berwarna gelap, dan menjulang tinggi seperti kembang kol dan terkadang memiliki landasan pada puncaknya (awan cumulonimbus).
Jika terjadi petir, segera berlindung di tempat tertutup, menghindari pohon dan tiang listrik atau sesuatu yang tinggi lainnya, dan menghindari tempat tinggi dan terbuka. Selain itu, agar mematikan alat komunikasi sementara waktu, dan menjaga jarak aman jika sedang berteduh di luar ruangan.
”Warga di daerah bertopografi curam atau pegunungan agar mewaspadai longsor. Mereka yang tinggal di dataran rendah dan dekat aliran sungai diminta mewaspadai banjir atau banjir bandang,” demikian bunyi rekomendasi yang dikeluarkan BPBD Jabar.
Penjabat Gubernur Jabar Bey Machmudin meminta evakuasi warga terjebak banjir bandang dilakukan. Jaminan tempat aman bagi warga terdampak juga harus dipenuhi Pemkab Sukabumi. Dia berjanji datang ke lokasi bencana pada Kamis (5/12/2024).
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Cornelius Helmy Herlambang