Sukarelawan terus bergerak membawa bantuan pangan dan obat-obatan untuk pengungsi di pedalaman Aceh. Masih banyak pengungsi di pedalaman belum tersentuh bantuan.
10 Des 2025 07:03 WIB · Lingkungan
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Para pekerja kemanusiaan merespons cepat bencana banjir dan longsor yang melanda berbagai wilayah di Aceh dengan segera menyalurkan bantuan kebutuhan pangan, obat-obatan, dan perlengkapan sanitasi kepada korban di wilayah terisolasi. Tujuan mereka hanya satu, mencegah bencana alam berbalik menjadi tragedi kemanusiaan akibat para korban terlambat mendapatkan bantuan yang sangat mereka butuhkan.
Sukarelawan Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas, yang menyalurkan dana sumbangan pembaca Kompas, juga langsung menggerakkan ekosistem misi kemanusiaan membantu korban bencana alam di Sumatera. Bantuan tahap pertama langsung disalurkan serentak di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Sampai saat ini, sukarelawan Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas masih berada di lapangan untuk menyalurkan bantuan kepada para penyintas bencana alam di Sumatera. Sebagian besar mereka masih berada di wilayah yang terisolasi akibat terputusnya akses jalan dan jembatan yang ambruk diterjang banjir.
Demikian pula sukarelawan Atjeh Connection Foundation (ACF) langsung terjun ke lapangan dengan fokus mengevakuasi, menyalurkan logistik darurat, hingga pemulihan awal masyarakat terdampak. Pendiri ACF, Amir Faisal Nek Muhammad, menegaskan, timnya bergerak tanpa menunggu kondisi stabil.
”Di lapangan, tim masuk langsung ke kecamatan dan desa-desa terdampak, termasuk wilayah dengan akses terbatas akibat banjir dan longsor, untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan benar-benar diterima warga,” ujar Amir.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/09/4897be7962f265926c0795f1c1523590-WhatsApp_Image_2025_12_09_at_10.32.27_c7b314cf.jpg)
Respons awal ACF adalah mendirikan posko bantuan dan mengevakuasi korban banjir. Bantuan darurat pertama telah dikirimkan sedikitnya 2 ton melalui Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, menuju Bandara Sultan Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh, menggunakan pesawat Hercules C-130 TNI AU. Pengiriman via udara ini dipilih untuk mempercepat distribusi ke wilayah-wilayah yang terisolasi dan sulit dijangkau jalur darat.
Tim ACF juga telah menyebar ke sejumlah wilayah terdampak, meliputi Aceh Timur, Bireuen, Langsa, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Pidie Jaya, Aceh Selatan, Bener Meriah, dan Aceh Tengah. Upaya terberat dialami sukarelawan saat menembus wilayah yang sangat sulit dijangkau, seperti di Kecamatan Peunaron, Aceh Timur. Untuk mencapai lokasi tersebut, sukarelawan harus melewati jalur Peureulak-Lokop, lintas Aceh Timur-Gayo Lues, yang kondisi jalannya rusak parah sehingga sulit dilalui. Tim akhirnya tiba setelah menempuh medan ekstrem di kawasan Gunung Putoh.
Adapun di Aceh Tamiang, tim ACF mendapati kondisi warga mengalami kekurangan logistik pangan yang serius. Penyaluran bantuan di sana pun dilakukan melalui dua jalur, dari Medan, Sumatera Utara, dan dari Aceh Timur, untuk mempercepat suplai. Para korban mengeluhkan mereka belum mendapatkan bantuan pangan dan air minum sehingga ada warga lanjut usia yang meninggal karena kelaparan di pengungsian.
Untuk kebutuhan logistik bantuan, sukarelawan ACF berbelanja dari toko-toko yang masih beroperasi di Aceh sebagai bentuk dukungan terhadap perputaran ekonomi lokal. Ke depan, kata Amir, akan ada tambahan pengiriman logistik dari Medan dan pengiriman lanjutan sekitar 3 ton bantuan menggunakan pesawat Hercules TNI AU dari Jakarta.
Selain mendistribusikan makanan, air bersih, dan perlengkapan darurat lainnya, ACF juga berupaya mengatasi hambatan komunikasi korban banjir dengan keluarga mereka di luar daerah dengan menyediakan perangkat komunikasi satelit Starlink mini. Fasilitas ini mendukung koordinasi tim, pelaporan kondisi lapangan, serta kebutuhan komunikasi warga dan sukarelawan di wilayah tanpa jaringan komunikasi nirkabel saat ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/09/fe2de1597ad89f1f9d0b9158e814d883-20251209SETA.jpg)
Sukarelawan ACF juga mendirikan dapur umum dan posko kesehatan di beberapa lokasi untuk melayani kebutuhan korban banjir. Layanan kesehatan mencakup penyediaan obat-obatan, pemeriksaan, dan penanganan medis awal. ACF juga secara rutin menyalurkan air bersih dan menyediakan posko air panas bagi pengungsi. ”Kami juga mempersiapkan tim trauma healing dan membangun sumur air bersih di sejumlah titik yang membutuhkan,” tambahnya.
Hingga hari ke-13 pascabencana, Atjeh Connection Foundation terus berupaya menerobos wilayah-wilayah yang belum terjangkau. ”Sukarelawan Atjeh Connection Foundation masih berjibaku di lokasi bencana, masuk ke daerah-daerah sulit dijangkau, seperti di Kecamatan Tenggulun dan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang; Kecamatan Peunaron, Aceh Timur; termasuk Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah yang masih terisolasi. Masih banyak masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan, terutama makanan,” kata Amir.
Kegundahan menyaksikan kondisi masyarakat Bener Meriah dan Aceh Tengah, yang terisolasi longsor dan terputusnya jembatan, juga menggerakkan Hamzah, pria kelahiran Takengon, Aceh Tengah, yang sukses di Jakarta, mengantar sendiri bantuan pangan ke Dataran Tinggi Gayo. Dia mencarter pesawat Cessna Caravan dari Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, membawa bantuan pangan 1,2 ton ke Bandara Rembele di Simpang Tiga Redelong, Bener Meriah, Kamis (4/12/2025).
Junelwan, sahabat Hamzah, menuturkan, hati Hamzah gundah mendengar kabar mulai ada penjarahan di Tanah Gayo karena korban banjir mulai kelaparan akibat kesulitan mendapatkan bahan pangan. Dia terbang dari Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, ke Kualanamu lalu terbang membawa beras dan sumber protein menggunakan pesawat Cessna Caravan ke Bener Meriah.
Setibanya di sana, dia dibantu prajurit TNI langsung membagikan bahan pangan tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan. Seusai membagikan bantuannya, Hamzah pun terbang kembali ke Kualanamu dilanjutkan penerbangan ke Bandara Soekarno-Hatta hingga mendarat Kamis pukul 19.30 WIB.
Panggilan membantu saudara-saudara kita korban bencana alam di Sumatera masih terus terdengar sampai kini. Masih banyak korban bencana alam di Sumatera yang membutuhkan bantuan dan kehadiran lembaga serta sukarelawan kemanusiaan meringankan penderitaan mereka. Mari kita bergandengan tangan membantu mereka.
Penulis:
Hamzirwan HamidEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto