Masih berlanjutnya proyeksi penurunan suku bunga BI memberi angin segar bagi tren investasi obligasi.
20 Agt 2025 17:19 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS - Bank Indonesia kembali memangkas suku bunga pada Agustus 2025 dengan asumsi pertumbuhan ekonomi membaik di paruh kedua tahun ini. Kebijakan ini diyakini akan membuat investasi surat utang atau obligasi semakin menarik bagi investor dalam dan luar negeri.
Bank Indonesia (BI) pada Rapat Dewan Gubernur, Selasa (19/8/2025) dan Rabu (20/8/2025), memutuskan untuk kembali memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Artinya, sejak awal 2025, BI sudah empat kali memangkas suku bunga, masing-masing sebesar 25 basis poin sehingga mencapai total pengurangan 100 basis poin dari level 6 persen.
Keputusan BI didukung pergerakan nilai tukar rupiah yang cenderung stabil beberapa bulan terakhir di kisaran Rp 16.300. Nilai tukar terutama didukung oleh arus masuk asing seiring melemahnya dollar AS di tengah ekspektasi pelonggaran kebijakan Bank Sentral AS, The Fed, mulai September 2025.
Selain itu, ada pula faktor pertumbuhan domestik yang tetap solid di angka 5,12 persen pada triwulan II-2025, dengan cadangan devisa sebesar 152 miliar dollar AS dan surplus perdagangan per Juni yang sebesar 19,34 miliar dollar AS.
Executive Director Senior Economist DBS Bank, Radika Rao, di Jakarta, hari ini, menilai, BI memang memiliki ruang untuk memotong suku bunga lebih banyak sampai akhir tahun. Pada semester kedua tahun ini BI bahkan diperkirakan bisa memangkas 50 basis poin ke level 4,75 persen.
"Saya pikir, satu-satunya hal yang akan mereka (BI) lihat adalah kondisi keuangan. Pertimbangan pemangkasan suku bunga The Fed di bulan September juga hal lain. Asumsi fisikal pada 2026 juga telah diumumkan, dan saya pikir ini adalah titik penilaian yang sangat penting," ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/20/afa45b6c2c715a23d305fc1d15901f65-20250820_131835.jpg)
Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2026 sebesar 5,4 persen, dengan asumsi inflasi sebesar 2,5 persen secara tahunan, nilai tukar sebesar Rp 16.500 per dollar AS, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun sebesar 6,9 persen, pengangguran sebesar 4,4 persen-4,9 persen, dan tingkat kemiskinan sebesar 6,5 persen-7,5 persen.
"Ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yaitu 5,4 persen, jadi alasan mengapa mereka (pemerintah) mengharapkan uang yang kuat juga. Jadi, secara keseluruhan untuk tahun ini, kami memperkirakan defisit anggaran 2025 masih di bawah 3 persen, yaitu sekitar 2,9 persen," jelasnya.
Tren penurunan suku bunga BI, menurutnya, akan positif bagi aset surat utang atau obligasi. Saat ini, ia mencatat, imbal hasil atau yield obligasi dengan tenor pendek dua tahun sudah lebih rendah dari yield obligasi 10 tahun. Penurunan yield akan menaikkan harga obligasi yang membuatnya menarik bagi investor.
Selain melihat tren penurunan suku bunga BI, Radika menilai, melemahnya nilai tukar dollar karena potensi pemangkasan suku bunga di AS akan membuat investor asing masuk ke pasar surat utang di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Bagusnya iklim investasi obligasi yang didukung penurunan suku bunga membuat manajer investasi pengelola reksa dana PT Eastspring Investments Indonesia gencar mengembangkan produk investasi berbasis obligasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/20/42faa7f1e6fa69e9a04757311c5adadb-20250820_102907.jpg)
Pada hari ini, mereka memperkenalkan produk Reksa Dana Eastspring Syariah Mixed Asset Fund, yang menawarkan gabungan jenis aset investasi syariah, seperti pasar uang, saham, dengan dominasi penempatan di obligasi syariah atau sukuk tenor menengah, baik milik pemerintah maupun korporasi.
"Kondisi obligasi untuk tahun ini kan cukup bagus. Jadi, saat ini kami memang akan fokus dulu ke sukuk," kata Direktur & Head of Distribution Eastspring Investments Indonesia, Reza Darma Putranto, dalam acara peluncuran produk tersebut di Jakarta.
Sementara itu, porsi penempatan di instrumen pasar uang dan saham syariah, yang saat ini diperkirakan akan kurang dari 30 persen, akan tetap dimonitor guna menstabilkan investasi di obligasi. Dengan strategi tersebut, investor diharapkan bisa mendapatkan keuntungan yang stabil dengan tambahan manfaat aset syariah yang beretika dan berkelanjutan.
Co-Founder sekaligus CEO Bareksa, Karaniya Dharmasaputra, pada kesempatan sama, menyampaikan, Bareksa mendukung pemasaran produk tersebut karena minat investor yang tinggi pada produk obligasi pendapatan tetap.
Berdasarkan data Bareka, investor sudah mulai beralih. Sebelumnya, orang-orang cenderung tidak mau mengambil risiko investasi sama sekali sehingga memilih reksadana pasar uang. Belakangan, tren itu bergeser ke produk yang berisiko lebih tinggi.
”Dari proporsi dana kelolaan nasabah kami, kalau dulu, reksadana pasar uang itu mungkin sekitar 80 persen. Dua-tiga tahun lalu bergeser 60-65 persen karena sudah didominasi dana pendapatan tetap yang karakteristiknya lebih stabil," tuturnya.
Investor yang memilih produk obligasi, menurutnya, juga datang dari berbagai kalangan usia dan ekonomi. Obligasi pun dinilai cocok bagi semua kalangan.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Agnes Theodora