Sumpah Pemuda di Era AI, Bukan Sekadar ”Prompt”

Sumpah Pemuda menjadi wujud perjuangan di masa kolonial. Kini, setelah 97 tahun, Sumpah Pemuda memasuki era akal imitasi atau AI.

28 Okt 2025 14:13 WIB · Ekonomi & Bisnis

Kompas/Riza Fathoni

Oleh Abdullah Fikri Ashri

Pada 28 Oktober 1928, sekelompok pemuda dari penjuru Tanah Air berikrar: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu, Indonesia. Sumpah itu merupakan wujud perjuangan pada era kolonial. Kini, setelah 97 tahun, Sumpah Pemuda memasuki masa akal imitasi atau AI.

Hari ini, Selasa (28/10/2025), rakyat Indonesia kembali memeringati peristiwa Sumpah Pemuda. Di media massa dan sosial, Sumpah Pemuda menjadi topik hangat pembicaraan. Di platform X, misalnya, sekitar pukul 10.00 WIB, cuitan tentang topik ini menduduki tren pencarian.

Ketika menelusuri di mesin pencari daring, seperti Google, berbagai hal tentang Sumpah Pemuda tersaji. Mulai dari isi dan makna Sumpah Pemuda, 50 ucapan terkait peringatannya, hingga pidato Menteri Pemuda dan Olahraga. Topik Sumpah Pemuda dan AI juga tercantum di sana.

Pelajar mengamati informasi tentang sejarah Bahasa Indonesia saat Pameran Bulan Bahasa dan Sastra 2024 di Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, Senin (28/10/2024). Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyelenggarakan Pameran Bulan Bahasa dan Sastra Tahun 2024 yang mengangkat tema "Berbahasa Cerdas untuk Generasi Emas". Tema tersebut sejalan dengan harapan bangsa Indonesia untuk meraih cita-cita Generasi Emas 2045 dalam rangka menyongsong 100 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pameran ini dilaksanakan bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan warisan bahasa dan sastra Indonesia. Sejak tahun 1980, Badan Bahasa Kemendikdasmen mengembangkan kegiatan kebahasaan dan kesastraan pada setiap bulan Oktober yang kita sebut dengan Bulan Bahasa dan Sastra (BBS). Pameran ini untuk menyemarakkan peringatan Sumpah Pemuda setiap Oktober yang merupakan sebuah ikrar kebangsaan yang dirumuskan melalui keputusan dalam Kongres Pemuda Kedua. Perayaan BBS dilandasi oleh sebuah semangat dan kesadaran bahwa mengutamakan bahasa Indonesia akan memperkuat bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan identitas nasional bangsa. BBS tahun 2024 digelar juga untuk memajukan peran bahasa dan sastra Indonesia di ranah nasional serta internasional. Melalui pameran ini, seluruh elemen masyarakat diajak untuk merenungkan kembali Òkecerdasan berbahasaÓ para pejuang pergerakan Angkatan 1928 melalui berbagai kegiatan kebahasaan dan kesastraan sebagai ajang untuk bertukar gagasan, berkompetisi dan berbagi apresiasi serta informasi. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Namun, saat mengetik kedua isu itu di mesin pencari, yang muncul malah lebih banyak berisi kumpulan prompt (instruksi) AI untuk gambar bertema Sumpah Pemuda. Dengan menuliskan prompt di platform berbasis AI, seperti Google Gemini atau ChatGPT, pengguna dapat berkreasi.

Warganet bisa membuat gambar seseorang memegang tiang bendera Merah Putih. Bahkan, AI mampu mengubah foto siapa pun seolah-olah mengikuti kongres pemuda tahun 1928 di Batavia. Foto bersama tokoh Sumpah Pemuda, seperti Sugondo Djojopuspito dimungkinkan dengan AI.

Inilah era AI, ketika prompt dapat menjawab berbagai pertanyaan, membuat gambar dan video apa pun, serta mengerjakan tugas repetitif yang selama ini dilakukan manusia. Meski demikian, peringatan Sumpah Pemuda tidak sekadar membuat foto AI sesuai topik tersebut.

”Dulu, Sumpah Pemuda merupakan ajakan untuk bersatu dalam Tanah Air, bangsa, dan bahasa. Sekarang, menurut saya, Sumpah Pemuda itu mengajak kita bersatu untuk memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam teknologi,” ungkap Zaky Muhammad Syah (27) di Jakarta, Selasa.

Zaky merupakan Chief Executive Officer Dibimbing.id, platform pembelajaran dan persiapan karier, serta pendiri Cakrawala University. Bersama Wildan Fahmi dan Alim Anggono dari Dibimbing.id, Zaky masuk dalam anak muda berprestasi dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia.

Menurut Zaky, perjuangan pemuda saat ini bukan lagi melawan penjajah kolonial, melainkan beradaptasi dengan teknologi digital, termasuk AI. Adaptasi yang dimaksud adalah kemampuan memahami dan menggunakan AI untuk melahirkan solusi atas berbagai masalah.

Suasana kunjungan Achmad Zaky yang merupakan Founder Init-6 yang juga Founder Bukalapak bersama sejumlah pendiri perusahaan star up berkunjung ke Redaksi Harian Kompas/Kompas.id  Menara Kompas, Jakarta Pusat, Senin (25/8/2025). Kunjungan tersebut diterima oleh Pemimpin Redaksi Harian Kompas/ Kompas.id A Haryo Damardono. Pada kesempatan tersebut dibahas mengenai peta start up di tanah air serta tantangan kecerdasan buatan atau AI bagi industri.

Ia mencontohkan kehadiran Dibimbing.id pada 2021, yang tidak terlepas dari masalah pengangguran di Indonesia. ”Saat itu, ada teman saya yang pintar, mahasiswa berprestasi di kampus. Tapi, setelah sarjana, dia belum dapat kerja. Dia menganggur setahun,” ungkapnya.

Zaky menilai masalahnya bukan karena temannya tidak punya kompetensi, melainkan keterampilan yang ia miliki tidak sesuai kebutuhan industri saat itu. Ia pun mengajaknya belajar pemasaran digital. Akhirnya, temannya diterima di salah satu perusahaan rintisan (start up) skala besar.

”Saya lalu berpikir, teman saya yang pintar dan kuliah di kampus ternama saja seperti itu (susah dapat kerja). Bagaimana dengan orang-orang di daerah lain?” ujar Zaky. Bersama Wildan dan Alim, ia pun mendirikan Dibimbing.id, yang berupaya membantu anak muda mencari kerja.

Suasana hari pertama event teknologi dan startup, GITEX GLOBAL, di Dubai World Trade Center (DWTC), Uni Emirat Arab, Senin (14/10/2024). GITEX GLOBAL edisi ke-44 tersebut berlangsung pada 14-18 Oktober 2024 dan diikuti 6.500 perusahaan peserta, 1.800 startup, dan 1.200 investor dari 180 negara di dunia.

Dibimbing.id tidak hanya menyiapkan mentor dan pembelajaran yang relevan, tetapi juga menghubungkan dengan pencari kerja. Hingga kini, pihaknya telah bekerja sama dengan 840 mitra perusahaan. ”Sekitar 72.000 orang telah dibantu mendapatkan pekerjaan,” ungkap Zaky.

Selama prosesnya, katanya, Dibimbing.id memanfaatkan teknologi AI yang terintegrasi dalam learning management system (sistem manajemen pembelajaran digital). AI, misalnya, berperan dalam mengecek daftar riwayat hidup (CV) pelamar kerja dan mensimulasikan wawancara kerja.

Dengan begitu, peserta akan mendapat umpan balik dalam pembuatan CV atau wawancara sehingga lebih siap memasuki dunia kerja. ”Idealnya, orang belajar itu one on one (satu guru satu siswa). Tapi, itu tidak mungkin karena guru terbatas. Dengan AI, hal ini jadi mungkin,” ujarnya.

Bantu UMKM

Kisah anak muda yang menggunakan AI dalam menghadirkan solusi juga datang dari Fauzul Azkia (24), pria asal Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, Aceh, ini mengembangkan feature of interactive digital (Foid) AI.

Foid AI merupakan platform berbasis AI yang memudahkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam membuat asisten virtual. Chatbot itu terhubung ke Whatsapp UMKM dan dapat menjawab berbagai pertanyaan konsumen hingga meningkatkan pemasaran produk.

Fauzul (di layar) berfoto bersama sejumlah pemenang dalam AI Talent Hub di Depok, Jawa Barat, Jumat (26/9/2025) malam. AI Talent Hub merupakan kompetisi pengembang akal imitasi (AI) yang bertujuan mencetak talenta digital di era AI.

”Foid AI ini bisa membalas pesan pelanggan. Pertanyaan soal produk, harga, promo semuanya dijawab. Chatbot ini aktif 24 jam sehari sehingga pelaku usaha bisa nanti fokus mengembangkan bisnisnya,” ungkapnya. Ia mengklaim, Foid AI dapat mengurangi 70 persen biaya operasional.

Fauzul menuturkan, ide platform ini lahir pada akhir 2024. Saat itu, ia mempunyai usaha yang fokus mempromosikan produk tertentu melalui media sosial. Acap kali, produk yang ia pasarkan mendapat banyak respons dari warganet. Beragam pertanyaan pun masuk ke nomor teleponnya.

Ia pun kewalahan menjawab semua pertanyaan. Sebagai pengusaha kecil, Fauzul juga belum mampu merekrut orang untuk membantunya. Sebenarnya, sudah ada layanan asisten virtual untuk merespons pelanggan. ”Tapi, jawabannya harus pencet tombol 2 dan lainnya,” ungkapnya.

Fauzul, yang gemar belajar tentang teknologi ini, pun mencoba membangun platform untuk menjawab kerisauannya itu. Bersama sejumlah rekannya, ia akhirnya membuat Foid AI yang terhubung langsung dengan akun Whatsapp Business API (antarmuka pemrograman aplikasi).

Meski tergolong baru, Foid AI telah menarik minat sekitar 30 UMKM untuk mencobanya. Bahkan, akhir September lalu, Fauzul meraih juara 1 Project AI Talent Hub Indonesia 2025, yakni kompetisi AI yang digelar oleh PT Pertamina (Persero) dan Universitas Indonesia (UI).

Kiprah anak muda yang memanfaatkan AI sebagai solusi atas berbagai persoalan juga tampak saat pengumuman 10 start up terbaik dalam Semesta AI, pekan lalu. Program inisiatif ini untuk mengakselerasi perusahaan rintisan berbasis AI demi memperkuat ekosistem AI nasional.

Suasana peluncuran program Semesta AI di Jakarta, Kamis (24/7/2025). Semesta AI merupakan sebuah inisiatif Lintasarta untuk mengakselerasi startup berbasis AI. Program ini juga menjadi langkah konkret dalam memperkuat ekosistem kecerdasan artifisial (AI) nasional.

Semesta AI diinisiasi Lintasarta, anak perusahaan Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat/IOH) yang mengembangkan AI. Lintasarta juga berkolaborasi dengan Kumpul, lembaga yang fokus pada inovasi, serta Nvidia, perusahaan semikonduktor yang berbasis di Amerika Serikat.

Dalam program ini, anak muda berusia sekitar 30 tahun memaparkan berbagai solusi AI. Mulai dari AI untuk mencegah penipuan daring, mengumpulkan data alumni kampus, mendukung perusahaan mencari karyawan yang dibutuhkan, hingga membantu penagihan utang.

Farah Dompas, CEO Lunash, platform berbasis AI yang membantu penagihan utang, mengatakan, fenomena kredit di Indonesia sedang melonjak. Hal itu terlihat dari pinjaman daring dan mekanisme buy now pay later (BNPL) atau beli sekarang, bayar nanti.

Sejumlah perwakilan perusahaan rintisan, direksi Lintasarta, serta beberapa tamu berfoto di sela-sela Pitch Day Semesta AI di Jakarta, Selasa (21/10/2025). Acara itu menampilkan 10 start up terbaik dalam Semesta AI, program inisiatif untuk mengakselerasi perusahaan rintisan berbasis akal imitasi (AI) demi memperkuat ekosistem AI nasional.

Namun, katanya, hanya 15-20 persen pinjaman macet yang berhasil ditagih. ”Sebanyak 80 persen peminjam hilang kontak, sementara penagihan agresif dari pihak ketiga bisa menelan biaya 40 persen dari nilai pinjaman,” ujar perempuan yang fokus pada pemasaran dan data ini.

Dengan teknologi AI, Lunash dapat mengidentifikasi, memverifikasi, dan menemukan kontak baru dari peminjam. Lunash juga memiliki mesin percakapan berbasis AI yang dapat mengingatkan jatuh tempo utang hingga janji bayar.

Ia mengklaim 60 persen nomor peminjam terverifikasi dan bisa dihubungi Lebih dari 180 pinjaman macet juga dikembalikan dalam dua pekan. Lunash pun diharapkan dapat menjadi solusi penagihan utang sehingga dampak kegagalan bayar bisa dicegah.

Potensi dan tantangan

Cerita Farah, Fauzul, dan Zaky menunjukkan besarnya potensi anak muda dalam memanfaatkan AI. Selain tumbuh di era teknologi digital, mereka juga menggunakan AI dalam keseharian seperti terekam dalam Survei internet Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun ini.

Survei ini menunjukkan, generasi Z (kelahiran 1997-2012) dan milenial (1981-1996) menjadi kelompok pengguna AI terbesar dengan capaian masing-masing 43,7 persen dan 22,3 persen. Mereka paling sering memanfaatkannya untuk edukasi dan pembelajaran, yakni 43,98 persen.

infografik Apa Makna Sumpah Pemuda bagi Anda?

Meski demikian, literasi AI justru belum memuaskan dengan skor 49,96 atau dalam kategori kurang baik. Kondisi itu terlihat dari penggunaan AI untuk penipuan, manipulasi audio dan visual (deepfake), hingga terlalu bergantung pada AI, termasuk menjalin hubungan emosional.

Derry Wijaya, Associate Professor and Course Coordinator, Data Science Monash University, Indonesia, mengatakan, terdapat tiga tantangan dalam adopsi AI di negeri ini. Pertama, infrastruktur digital, seperti internet hingga perangkatnya, yang belum merata di berbagai daerah.

Kedua, persoalan data, seperti pemetaan tentang pemahaman guru dan siswa terhadap AI. Hal ini penting untuk menentukan bentuk pelatihan dan pembelajaran AI. Tantangan selanjutnya, sumber daya manusia. 

Quote

Manusia juga harus dilatih untuk menyesuaikan kemampuannya agar di masa depan kita tidak dikuasai AI.

Apalagi, Indonesia membutuhkan 9 juta talenta digital hingga 2030. ”Manusia juga harus dilatih untuk menyesuaikan kemampuannya agar di masa depan kita tidak dikuasai AI,” ujar Derry. 

Secara terpisah, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya menilai, saat ini Indonesia membutuhkan pemuda yang berpikir seperti aktivis, bertindak seperti inovator, dan bermimpi seperti negarawan. Ketiga hal ini menjadi kunci agar pemuda bisa beradaptasi dengan kondisi saat ini.

”Aktivis itu memiliki semangat mendobrak, inovator itu punya kemampuan membangun kolaborasi, dan negarawan itu memiliki nilai serta masa depan yang lebih besar,” ujar Bima saat diskusi publik terkait Sumpah Pemuda di Kantor DPP Partai Amanat Nasional, Jakarta, Selasa.

Dalam acara serupa, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengakui, pemuda hingga kini masih menghadapi tantangan, terutama kualitas sumber daya manusia. Namun, pemerintah berkomitmen meningkatkan SDM. ”Anak muda harus penuh harapan, semangat, dan keyakinan masa depan Indonesia cerah,” ujarnya.

Setelah 97 tahun Sumpah Pemuda, anak muda kini tidak lagi berjuang melawan penjajah, tetapi beradaptasi memanfaatkan AI. Seperti kata Zaky, para pemuda harus bersatu untuk memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam teknologi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Abdullah Fikri Ashri
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari