Banjir dan longsor menyebabkan 3 orang meninggal di Deli Serdang, 4 orang di Padang Lawas, dan 2 orang di Tapanuli Selatan. Sumut darurat bencana ekologis.
24 Nov 2024 11:18 WIB · Lingkungan
MEDAN, KOMPAS — Banjir bandang dan longsor terjadi di tiga kabupaten di Sumatera Utara menewaskan sembilan warga, Sabtu (23/11/2024). Kerusakan hutan membuat bencana ekologis semakin masif terjadi saat hujan deras turun dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan data yang dikumpulkan Kompas, longsor di Kabupaten Padang Lawas menewaskan 4 orang. Selain itu, banjir bandang memakan 3 korban di Kabupaten Deli Serdang dan 2 orang lainnya tewas di Kabupaten Tapanuli Selatan.
Di Kabupaten Padang Lawas, hujan deras mengakibatkan tanah longsor dan menimbun 2 rumah dan 3 warung makan di Desa Harang Julu, Kecamatan Ulu Sosa, Sabtu. Sejumlah warga berhasil menyelamatkan diri saat tanah dari perbukitan longsor menerjang permukiman.
”Namun, ada empat orang dalam satu keluarga tidak sempat melarikan diri dan tertimbun tanah longsor. Mereka dinyatakan hilang,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Medan Mustari, Minggu (24/11/2024).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/24/6aaf578d-6be4-4c33-a893-a61a618d8102_jpeg.jpg)
Tim SAR gabungan yang terdiri dari kantor SAR Medan, kepolisian, TNI, dan warga setempat langsung melakukan pencarian. Pencarian berfokus di lokasi rumah yang tertimbun material longsor berupa tanah.
Setelah melakukan pencarian, tim SAR gabungan berhasil menemukan 3 korban dalam keadaan meninggal, yakni Hermandianto (40), Azra (7), dan Dwi (5 bulan). Beberapa saat kemudian ditemukan korban hilang terakhir, yakni Lila Siregar (32). Mereka merupakan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak.
”Dengan ditemukannya semua korban, kami menutup operasi pencarian. Untuk penanggulangan bencana akan dilakukan pemerintah daerah,” kata Mustari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/24/bd8bbb33-fdbc-45dc-8f80-46d266fbc775_jpg.jpg)
Di Tapanuli Selatan, banjir bandang menerjang sejumlah desa di Kecamatan Sayur Matinggi. Banjir menyebabkan 2 warga meninggal dan puluhan terluka, Sabtu. Sejumlah rumah juga rusak berat diterjang arus banjir bandang yang terjadi pada Sabtu.
Banjir bandang membawa material batu, kayu, dan tanah dari arah perbukitan. Material banjir bandang itu merusak rumah, jalan, jembatan, drainase, dan ladang warga.
”Akses jalan ke sejumlah desa juga belum bisa dilalui karena tertutup material banjir bandang,” kata Sekretaris Desa Sipange Siunjam Amri Pulungan sebagaimana dilansir dari Kompas.com yang memantau langsung di lokasi bancana.
Selain jalan antardesa, jalan utama yang menghubungkan Kecamatan Sayurmatinggi dengan Batang Angkola juga terputus.
Di Kabupaten Deli Serdang, banjir bandang juga melanda Desa Martelu, Kecamatan Sibolangit, Sabtu malam. Menurut keterangan Camat Sibolangit Herson Girsang, sebanyak 3 orang meninggal, yakni Kartini br Sitepu (65), Elsie Simanjuntak (3), dan Serta br Ginting (81). Selain itu, tiga warga juga masih hilang. Keberadaan mereka hingga kini masih dicari.
Herson menyebut, banjir bandang terjadi di perkampungan di Dusun Cingkam. Hujan deras melanda Sobolangit dan sekitarnya sejak Sabtu sore.
”Saat malam tiba, banjir bandang datang dari arah perbukitan dan menghantam permukiman warga,” katanya.
Herson menyebut, arus banjir bandang itu juga memutus akses jalan nasional Jalan Medan-Berastagi pada Sabtu malam. Material longsor berupa tanah dan kayu menimbun badan jalan sehingga sama sekali tidak bisa dilewati.
Alat berat dikerahkan untuk membersihkan material longsor. Kendaraan pun sudah bisa melintas dari jalan itu pada Minggu dini hari.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/24/35049558-14e6-4407-9024-ac29c1e8a431_jpeg.jpg)
Koordinator Studi dan Advokasi Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) Rocky Pasaribu menyebut, bencana ekologis sudah bertahun-tahun mengepung Sumut setiap musim hujan tiba.
”Namun, hingga saat ini, tidak ada langkah strategis yang diambil pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. Bencana ekologis juga hampir tidak ada diperbincangkan di tengah gegap gempita pilkada,” kata Rocky.
Rocky menyebut, bencana ekologis di Sumut terjadi karena kerusakan hutan yang kian masif, terutama hutan negara. Hutan yang masih terjaga dengan baik justru hutan yang dikelola masyarakat adat. Namun, masyarakat adat terus disingkirkan untuk memperluas eksploitasi hutan.
Rocky mengingatkan, terjadinya bencana yang menelan korban jiwa di banyak daerah di Sumut adalah peringatan keras tentang kondisi darurat ekologis.
Penulis:
Nikson SinagaEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan