Sejumlah titik bencana di Sumatera masih sulit ditembus. Sumut menjadi daerah dengan medan terberat.
30 Nov 2025 21:32 WIB · Lingkungan
KOMPAS/NIKSON SINAGA
JAKARTA, KOMPAS — Sumatera Utara menjadi daerah tersulit ditembus untuk menyalurkan bantuan bagi warga terdampak bencana. Banyak jalan dan akses transportasi masih tertutup material longsor. Akibatnya, bantuan mesti disalurkan dengan berjalan kaki, diturunkan melalui udara, dan mengandalkan akses laut.
Hal itu dikatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letnan Jenderal Suharyanto dalam jumpa pers di Bandara Silangit, Sumatera Utara, Minggu (30/11/2025) malam. Hadir dalam kesempatan itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno serta Kepala Polri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo.
Suharyanto mengatakan, Sumut menjadi daerah yang paling sulit ditembus. Akibatnya, bantuan tidak leluasa dilakukan lewat jalur darat. Bantuan lewat udara, misalnya, diturunkan untuk warga terjebak longsor di antara kawasan Tapanuli Tengah-Sibolga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/30/c03ad41d-3b71-46d1-a2b2-a1c1c876db80.jpg)
Selain udara, bantuan lewat jalur darat juga masih dilakukan secara terbatas, menggunakan sepeda motor dan berjalan kaki di Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan.
Selain itu, ada 50-100 tentara dan polisi berjalan kaki, membawa bantuan dalam ransel seberat 20 kilogram untuk menembus jalur Tarutung-Sibolga. Bantuan lewat laut juga dilakukan untuk warga Sibolga dan Tapanuli Utara.
Meski demikian, Suharyanto mengklaim proses pemulihan terus menunjukkan kemajuan. Berbagai kebutuhan warga mulai terpenuhi seiring membaiknya kualitas pengungsian.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/30/bf7a1d49-94bb-41bd-bcd0-d5ed079a5440.jpg)
Di Sibolga, sinyal telekomunikasi sudah bisa tersambung. Bahan bakar minyak juga ada meski warga mesti antre untuk mendapatkannya.
Di Tapanuli Tengah, warga juga bisa bisa berkomunikasi menggunakan telepon seluler. Bantuan beras juga sudah diberikan untuk masyarakat Sibolga dan Tapanuli Tengah.
”Besok kami akan bertemu dengan semua penyedia seluler di Indonesia untuk memulihkan jalur komunikasi di daerah terdampak,” kata Suharyanto.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/30/b8578c1b-a685-4691-a68a-8b0032dcd834.jpg)
Meski tidak sepelik Sumut, akses transportasi di Aceh juga belum pulih. Beberapa daerah di Aceh Tamiang Lhokseumawe, Gayo Lues, Bener Meriah dan Aceh Tenggara masih putus. Bantuan untuk Bener Meriah, misalnya, masih diturunkan menggunakan udara.
Akan tetapi, perlahan bantuan logistik mulai banyak dirasakan banyak daerah. Tidak hanya jalur darat dan udara, bantuan diberikan lewat laut. Bantuan, misalnya, diberangkatkan dari Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh dengan menggunakan kapal Express Bahari.
Untuk wilayah Aceh Utara, dan Lhokseumawe bantuan akan tiba di Pelabuhan Krueng Geukueh. Sementara bantuan di Pelabuhan Kuala Langsa untuk menjangkau Kota Langsa, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang. Total bantuannya seberat 27 ton.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/30/dd9bba39-8131-4696-a095-b9bed968109b.jpg)
Di Sumatera Barat, Suharyanto mengatakan, sejumlah jalan memang masih putus, seperti Padang Panjang dan Sicincin. Namun dibandingkan Aceh dan Sumut, pengiriman logistik lewat darat di delapan daerah di Sumbar relatif lebih lancar.
”Untuk Sumbar, kami hanya menyediakan 2 helikopter dan 1 pesawat. Sebagian besar pengiriman logistik dilakukan melalui darat. Di Sumut kami menyiagakan enam heli, satu pesawat caravan di Bandara Silangit dan Bandara Pinangsori. Menurut rencana, bahkan akan diperkuat dua helikopter tambahan,” katanya.
Terkait jumlah warga tewas dan hilang dilaporkan bertambah di tiga daerah itu. Hal itu seiring penemuan jenazah dan laporan baru.
Di Sumut, tercatat 217 orang meninggal dan 209 hilang. Di Aceh, terdata 96 orang meninggal dan 75 hilang. Sementara di Sumbar, ditemukan 129 jenazah dan 118 orang masih belum ditemukan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/30/152b4af7-7558-46db-a630-af3bd30c210d.jpg)
Menko Praktikno mengatakan, proses tanggap darurat terus dilakukan melibatkan beberapa kementerian dan lembaga negara. Pemulihan akses transportasi dan pemenuhan kebutuhan warga, sesuai arahan Presiden Prabowo, mesti menjadi prioritas utama.
Namun, saat tanggap darurat dilakukan, Pratikno mengatakan, pihaknya juga sudah menyusun rencana rehabilitasi dan rekonstruksi. Harapannya, setelah tanggap darurat usai, proses pemulihan kehidupan warga bisa segera dilakukan.
”Kami mohon pengertian masyarakat karena proses tanggap darurat ini tidak mudah. Namun, kami berharap ke depan, kita semua lebih tangguh menghadapi bencana,” ujarnya.
Kepala Polri Jenderal (Pol) Listyo juga mengatakan hal yang sama. dia menyebut akan menurunkan semua kekuatan yang ada, baik itu personel di darat maupun bantuan di udara dan laut, untuk menyalurkan logistik. Dia berharap apa yang dilakukan Polri bisa meringankan sekaligus memulihkan kondisi warga terdampak bencana.
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari