Sunatan massal yang baru pertama kali terlaksana ini merupakan hasil kerja sama antara Yayasan Solidaritas Difabel Indonesia dan YPAC Jakarta.
21 Jun 2025 15:19 WIB · Metropolitan
Rafka melambaikan tangannya, sebagai tanda pamit, kepada patung ondel-ondel yang terpasang di depan gedung Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Jakarta, saat ia meninggalkan tempat tersebut setelah mengikuti sunatan massal, Sabtu (21/6/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/21/0c1fbfc324f9761a7a51b2a576bd153e-20251121TOK17.jpg)
Rafka, warga Manggarai, Jakarta Selatan, yang merupakan siswa kelas 1 SLB 11, Jakarta, bersama sekitar 80 anak penyandang disabilitas yang lain mengikuti sunatan massal gratis yang diadakan Yayasan Solidaritas Difabel Indonesia bekerja sama dengan YPAC Jakarta. Acara ini digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun Ke-498 Kota Jakarta. Acara sunatan massal khusus bagi penyandang disabilitas ini baru pertama kali diadakan.
Tak heran jika kegiatan tersebut disambut antusias oleh para orangtua. Saat pendaftaran dan pendataan calon peserta sunatan pada bulan Mei lalu, dari seminggu waktu yang disediakan untuk mendaftar, hanya dalam waktu tiga hari kuota sudah terpenuhi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/21/dc9b0a4177f2eb67e3dec9b6e73d6636-20251121TOK.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/21/1853265819ed684e0667f9139b48838c-20251121TOK1.jpg)
Perlunya perlakuan khusus dalam menyunat penyandang disabilitas membuat para orangtua antusias untuk segera mendaftar ketika mendengar info tersebut. Peserta kegiatan ini berasal dari komunitas dan sekolah berkebutuhan khusus di wilayah Jabodetabek.
Para peserta yang terentang usia 5 hingga 37 tahun, dengan didampingi orangtua dan sanak saudaranya, sudah tiba di YPAC sejak pukul tujuh pagi untuk mengikuti rangkaian acara sunatan massal tersebut. Rafka yang mendapat nomor antrean awal berjalan gagah memasuki ruangan yang telah disediakan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/21/284a7be949fa470b7d4f936da9bb2f40-20251121TOK16.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/21/e8948ab80b67b4d7c7c2697041273a18-20251121TOK9.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/21/29a6db79155b07bc42f4ef304fe75ed6-20251121TOK2.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/21/38f5ae7486af0e8b86aae2c86584de89-20251121TOK15.jpg)
Berbeda dengan sunatan massal bagi warga yang biasanya antarbilik hanya dipisahkan dengan gorden atau tirai, pada sunatan kali ini peserta dimasukkan ke dalam ruangan yang berbeda. Ada lima ruangan yang disediakan untuk menangani setiap peserta sunatan massal. Hal tersebut dilakukan agar jika ada peserta yang tantrum tidak akan ”mengganggu” atau memecah konsentrasi peserta yang lain.
Walaupun sudah berada di dalam ruangan, tangis Rafka tetap saja terdengar keras ketika sunatan berlangsung. Sunatan kali ini ditangani oleh tim dokter sukarelawan dari sejumlah rumah sakit. ”Maka kami padatkan proses sunatnya di satu hari ini saja. Kalau sampai molor, kasihan dokternya karena harus nambah izin atau cuti dari rumah sakit,” ujar Direktur YPAC Agoes A Rahman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/21/0a99862567baa9f955a5cb008f4258b5-20251121TOK11.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/21/922aa7bcb2610017e18036d5ebbb4c46-20251121TOK18.jpg)
Agoes berharap agenda ini dapat dilakukan lagi tahun depan mengingat sunat juga merupakan salah satu hak dasar bagi para penyandang disabilitas.
Penulis:
Totok WijayantoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji