Semua bencana ada di Jabar. Buruknya kondisi alam dan perilaku warga membuat ancaman bencana saat cuaca ekstrem begitu mematikan.
09 Mar 2025 18:40 WIB · Nusantara
Beberapa kejadian longsor melanda Jawa Barat dalam sepekan terakhir. Bahkan, gunung sampah saja bisa longsor di Bumi Parahyangan ini.
Di Kabupaten Sukabumi, lima orang meninggal akibat banjir bandang dan longsor yang dipicu hujan lebat sejak Kamis (6/3/2025). Mereka berasal dari Kecamatan Palabuhanratu, Lengkong, dan Simpenan. Semuanya berada di kawasan Sukabumi selatan.
Selain itu, empat orang juga masih dicari keberadaannya. Satu dari Kecamatan Simpenan dan tiga orang, yang merupakan satu keluarga, dari Kecamatan Lengkong. Jembatan Cidadap di Kecamatan Simpenan yang ambles juga belum diperbaiki.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/07/b9b04bc5-8fa7-4494-aff4-1f77abb2f3cf_jpg.jpg)
Bupati Sukabumi Asep Japar mengatakan, Kabupaten Sukabumi sedang dalam status tanggap darurat bencana. Penanganan utama dilakukan di Palabuhanratu, Simpenan, dan Lengkong sebagai daerah terdampak paling parah.
Selain mencari korban hilang, penanganan pengungsian juga sudah dilakukan. Saat ini, tercatat 51 rumah rusak dan membuat 188 warga mengungsi.
Gubernur Dedi Mulyadi menjamin pemenuhan warga terdampak bakal dipenuhi, dari perbaikan infrastruktur rusak hingga membangun rumah warga terdampak.
”Jangan khawatir, sampah yang menutupi saluran sungai akan dibersihkan, jembatan dan rumah dibangun kembali. Semoga ke depan aksi yang kita lakukan bersama bisa meminimalkan dampak bencana,” kata Dedi.
Tidak hanya mengganggu yang masih hidup, longsor juga berdampak pada yang telah mati di Kota Bandung. Pada Sabtu (8/3/2025), longsor menggusur tanah di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Nagrog, Kecamatan Ujungberung.
Longsor berdiameter sekitar 30 meter dan kedalaman 10 meter ini merusak delapan makam di Blok E. Longsor diakibatkan aliran air deras yang melintasi TPU Nagrog dan melewati Perumahan Gending Mas.
Kepala Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi, dan Tata Ruang Kota Bandung Bambang Suhari mengatakan, makam terdampak longsor sudah dipindahkan. Dua jenazah ke Blok H dan enam jenazah lainnya dimakamkan kembali di Blok N.
”Semua ahli waris menyetujui pemindahan makam ke tempat yang lebih aman,” ujar Bambang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/c5c318ebb059d2d2d40131e8ef540e34-longsor_makam.jpeg)
Selain TPU Nagrog, Bambang mengatakan, peninjauan juga dilakukan di sejumlah TPU lain. Dari 13 TPU yang diperiksa, beberapa sudah mendapatkan penanganan, seperti TPU Cikutra dan TPU Sirnaraga. Sebelumnya, kedua tempat itu sempat mengalami longsor besar.
”Kirmir di TPU Cikutra dan Sirnaraga kini sudah lebih kuat kami perbaiki bersama Balai Besar Wilayah Sungai Citarum” ungkap Bambang.
Salah satu ahli waris makam yang dipindahkan, Tina, warga Kelurahan Pasanggrahan, Ujungberung, mengapresiasi relokasi makam keluarga yang terancam longsor.
”Terima kasih sudah cepat memindahkan makam keluarga kami. Di sini kami ada dua makam, makam ibu dan bapak,” ujar Tina.
Setidaknya sepekan terakhir, hujan lebat mengguyur rata di seluruh daerah di Jabar. Akibatnya, sejumlah bencana muncul di daerah rawan.
Tidak sekadar cuaca, bencana juga disebabkan buruknya kualitas lingkungan di sekitarnya. Sampah hingga deforestasi lahan membuat dampaknya kian berbahaya. Kondisi ini harus diwaspadai karena hujan masih turun deras hingga sepekan ke depan.
Kepala Stasiun Klimatologi Jabar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rakhmat Prasetya mengatakan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, sangat lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang berpotensi terjadi di skala lokal dan durasi singkat.
Kondisi itu diprediksi masih terjadi di daerah yang dilanda bencana dalam sepekan terakhir, seperti Kabupaten Sukabumi, Kabupaten dan Kota Bandung, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, hingga Kabupaten Bogor.
”Masyarakat dan pemerintah daerah diminta waspada. Cuaca buruk bisa mengakibatkan dampak seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, serta dampak kerusakan lainnya,” kata Rakhmat.
Rekomendasi BMKG ini sudah sepantasnya menjadi pertimbangan banyak pihak untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Bila lengah, bencana besar bisa terulang lagi.
Bahkan, di Jabar, selain mengganggu manusia yang masih hidup dan mati, longsor bisa terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Meski tidak memakan korban jiwa, longsor sampah ini tetap menjadi masalah.
Bila tidak tertangani, pengoperasian TPA yang nyaris melebihi daya tampung itu bakal terganggu. Ujungnya sampah dari kawasan Bandung Raya bakal menumpuk tidak terangkut memenuhi sudut kota.
Sebelumnya, gunungan sampah selebar 20 meter dan tinggi 10 meter di Zona 3 TPA Sarimukti longsor, Sabtu (8/3/2025) pukul 11.58. Daya tampung sampah di kawasan ini mencapai 80 persen. Tidak ada korban jiwa akibat kejadian ini.
”Longsor dipicu hujan berkepanjangan selama sepekan terakhir. Air menyebabkan massa di tumpukan atas sampah menjadi berat, sampai akhirnya runtuh karena air sudah jenuh,” kata Sekretaris Daerah Jabar Herman Suryatman, Minggu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/e4c592353f1d37f1b5dc4112df063d5b-TPA_Sarimukti.jpeg)
Sejauh ini, Herman mengatakan, pihaknya sudah melakukan penanganan. Pertama, agar pembuangan sampah tetap berjalan, dibuat jalan alternatif menuju Zona 3. Dengan begitu, lalu lintas truk sampah masih tetap berjalan.
”Kami juga meminta para pemulung tidak berada di kawasan itu. Jangan sampai dampak longsor memakan korban jiwa,” katanya.
Agar kejadian serupa tidak terjadi lagi, Herman menjelaskan, pihaknya akan memasang kawat bronjong untuk menahan sampah tidak longsor. Dana yang disiapkan lebih kurang Rp 200 juta untuk menahan sampah dari Zona 3 tidak melimpah ke Zona 4.
”Kami juga akan menanam 2.000 pohon. Mudah-mudahan bila lerengnya hijau dan penuh pohon, longsor bisa dicegah,” ujar Herman.
Terkait kapasitas TPA Sarimukti, saat ini terdapat empat zona yang sudah beroperasi. Zona 1 sudah penuh, tak bisa menampung sampah lagi. Zona 2 terisi 90 persen, Zona 3 terisi 80 persen, dan Zona 4 sudah penuh.
Saat ini sedang dibuka Zona 5 seluas 6,3 hektar dan dalam proses perampungan. ”Sekarang pekerjaan utamanya sudah selesai, tinggal pemasangan membran. Mudah-mudahan bulan Mei sudah bisa selesai,” tutur Herman.
Begitu Zona 5 sudah bisa difungsikan, ditambah sisa ruang di Zona 2 dan 3, masa pakai TPA Sarimukti bisa diperpanjang sampai Juni 2028. ”Jadi kurang lebih 3,5 tahun dan mudah-mudahan awal tahun 2028 TPPAS Legok Nangka sudah bisa beroperasi,” pungkas Herman.
Jabar dikenal sebagai supermarket bencana. Semua jenis bencana berbahaya berpotensi mematikan warga, mulai dari puncak gunung hingga pinggir pantai. Hanya dengan waspada dan menyiapkan diri sejak dini, dampak terburuk bisa diatasi.
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Siwi Yunita Cahyaningrum