Suriname dan Curaçao, Eks Koloni Belanda Berpeluang Tampil di Piala Dunia

Suriname dan Curaçao, seperti Indonesia, kenal sepak bola dari Belanda. Berbekal pemain diaspora dan pelatih Belanda, dua negara itu berpeluang ke Piala Dunia 2026.

15 Okt 2025 15:55 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

PANAMA CITY, RABU — Bukan Indonesia, melainkan justru Suriname dan Curaçao, dua negara eks koloni Belanda, yang masih memiliki harapan lolos ke Piala Dunia 2026. Didukung oleh pelatih dan diaspora asal Belanda, serupa Indonesia, dua negara itu gagal mengunci kemenangan dalam gim pada Rabu (15/10/2025) pagi WIB. Meski begitu, mereka masih memiliki kans guna mengunci langkah ke babak utama pada November mendatang.

Suriname dan Curaçao adalah negara yang masuk dalam zona CONCACAF. Dua negara kepulauan kecil itu diperkenalkan sepak bola oleh orang-orang Belanda yang mendiami wilayah mereka pada awal abad ke-20. Hal itu membuat dua negara itu memiliki tautan sejarah sepak bola yang sama dengan Indonesia.

Ketika langkah Indonesia menuju Piala Dunia 2026 sudah dipastikan kandas, Suriname dan Curaçao tengah di ambang menciptakan sejarah lolos pertama kali ke panggung sepak bola dunia. Kedua negara itu tengah bertarung di putaran ketiga pra-Piala Dunia 2026. Menariknya, mereka adalah dua dari tiga tim yang belum terkalahkaan hingga empat gim (dari enam laga) putaran ketiga itu.

Suriname membawa pulang satu poin penting dari kandang Panama, Stadion Rommel Fernandez di Panama City, Panama.

Suriname sempat unggul lebih dulu melalui tembakan penyerang, Richonell Margaret, pada menit ke-21. Margaret, pemain asal tim Liga Belanda, Go Ahead Eagles, memanfaatkan situasi serangan balik cepat. Sayang, kemenangan Suriname pupus akibat sundulan pemain pengganti Panama, Ismael Diaz, pada masa tambahan waktu babak kedua, tepatnya pada menit 90+6.

Penyerang Suriname Richonell Margaret (atas) dan gelandang Panama Cristian Martinez berebut bola pada laga kualifikasi Piala Dunia di Panama City, Rabu (14/10/2025) dini hari WIB. Laga berakhir imbang 1-1.

Berkat hasil itu, Suriname masih bertahan di puncak klasemen Grup A putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona CONCACAF. Suriname mengemas poin (6) dan selisih gol (+1) setara dengan Panama, tetapi mereka unggul kuantitas gol (empat berbanding tiga).

Pada dua gim terakhir putaran ketiga, Suriname dan Panama secara bergantian akan menghadapi El Salvador dan Guatemala. Kemenangan dengan skor sebesar-besarnya akan menentukan tim peringkat pertama yang bakal lolos langsung ke Piala Dunia 2026. Adapun runner-up berpeluang melaju ke babak playoff interkonfederasi pada Maret 2026.

Pelatih Suriname Stanley Menzo menyebut para pemainnya merasakan kekecewaan gagal mempertahankan tiga poin di pengujung laga. Meski begitu, ia menegaskan mimpi tampil ke Piala Dunia sepenuhnya masih berada di tangan mereka.

”Kami mengontrol takdir kami sendiri pada dua pertandingan terakhir. Kami ingin mewujudkan mimpi ke Piala Dunia,” kata Menzo dalam konferensi pers setelah laga.

Penyerang Panama Jose Fajardo (kiri) dan bek Suriname Kenneth Paal saat laga kualifikasi Piala Dunia di Panama City, Rabu (15/10/2025) dini hari WIB.

Turun posisi

Curaçao juga ditahan imbang oleh Trinidad-Tobago dengan skor 1-1. Tampil di depan pendukung sendiri di Stadion Ergilio Hato, kota Willemstad, Curaçao, tim asuhan pelatih legendaris asal Belanda, Dick Advocaat, itu unggul lebih dulu melalui sepakan penyerang sayap Kenji Gorré pada menit ke-19.

Di babak kedua, Trinidad-Tobago yang tampil lebih menyerang menciptakan sebuah gol balasan pada menit ke-58. Pemain sayap tim Amerika Serikat, Orlando City, Tyrese Spicer, membantu timnya meraih satu poin.

Gol Spicer menyebabkan Curaçao harus merelakan posisi puncak klasemen kepada Jamaika. Pada laga lain, Jamaika mengalahkan tim terlemah di Grup B putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona CONCACAF, Bermuda.

Jamaika memiliki sembilan poin, sedangkan Curaçao berada di posisi kedua berkat koleksi delapan poin. Dengan kondisi itu, pertandingan terakhir yang mempertemukan kedua tim pada 19 November mendatang bak partai final.

Curaçao bisa menuju markas Jamaika dengan lebih percaya diri seandainya bisa mengalahkan Bermuda, lalu Jamaika gagal menang atas Trinidad-Tobago pada laga kelima, 14 November.

 *** Local Caption *** DICK ADVOCAAT -- Pelatih tim nasional Belanda untuk Piala Dunia 1994, Dick Advocaat (kiri menghadap lensa) menjelang uji tanding vs tim nasional Skotlandia di Stadion Stadion Nieuw Galgenwaard, Utrecht, Belanda pada Jumat (27/Mei/1994) malam. Tim Belanda menang 3-1 (1-0).

Terkait Berita Dimuat Minggu, Kompas 29 Mei 1994 Halaman IV

Judul Amplop: Piala Dunia : Kesebelasan Belanda

Advocaat optimistis dengan nasib timnya menuju Piala Dunia 2026. Menurut dia, skuad Curaçao, yang juga dihuni pemain diaspora lulusan akademi Manchester United, Tahit Chong, memiliki daya juang yang luar biasa.

”Saya memiliki pemain yang selalu bermain dengan kemampuan terbaik. Kami akan berjuang hingga laga pamungkas. Kami akan menjaga harapan itu hingga detik-detik terakhir,” tutur Advocaat yang mencatatkan rekor kemenangan 62 persen dalam 16 laga menangani Curaçao sejak 2024.

Meskipun berada di peringkat kedua, Eloy Room, kiper Curaçao, juga menegaskan, hal itu tidak sedikit pun memperkecil kans timnya tampil di Piala Dunia 2026.

”Kami memang kehilangan posisi puncak, tetapi situasi kami tetap baik. Semuanya berada di tangan kami sebab Jamaika masih harus menjalani laga berat di markas Trinidad-Tobago. Mimpi besar kami masih menyala,” kata Room dilansir media Belanda, NOS. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra